Build An Empire With The Strongest Princess

Build An Empire With The Strongest Princess
Part 36 - Pertarungan



"Giliranmu, api! Bakarlah dia menjadi-"


"Aha! Kau terlalu lambat menggunakanya!"


Sebelum aku berhasil merapal mantra sihir dengan lengkap, itu membuat sebuah balok kayu dengan leluasa bergerak mengincar bagian kepalaku.


Sial! Pada pertarungan ini aku bahkan tidak diberikan kesempatan untuk menggunakan sihir, seperti dia sengaja untuk membuatku hanya bertarung tanpa mengandalkan kekuatan tersebut.


Tunggu, mungkinkah itu adalah rencananya? Membuatku tidak sempat menggunakan sihir, pertarungan pegulat melawan penyihir pahlawan, arena sempit ... Ah, aku mulai memahami semua ini. Ternyata seseorang sudah benar-benar mempersiapkanya dengan matang.


Saya menghindar begitu senjata lawan sudah berada dalam jarak beberapa cm dari tubuhku. Lambat satu detik saja nyawa bisa melayang. Itu setidaknya mungkin terasa jauh lebih menyakitkan daripada hanya sekedar menangkis serangan menggunakan sebilah pedang.


Aku harus memikirkan cara, termakan jebakan Genric sudah cukup menyulitkanku seperti ini. Skill, itu aku masih belum menguasai satupun semacam jurus untuk profesi pendekar pedangku.


Yah, bukanya aku tidak ingin mempelajarinya, tapi saya benar-benar tidak sempat melakukanya, dan tidak mengetahui harus memulainya dari mana.


Eh, tunggu? Mengenai pedang, bukankah gerakan dasarnya adalah menebas? Ya, kalau diingat-ingat lagi, aku sudah pernah membeli semacam ilmu pedang, atau lebih tepatnya sudah mengetahui dasar-dasar dalam berpedang.


Dan tadi saya juga sudah menggunakan teknik menangkis. Lalu, sepertinya aku pernah menggunakan semacam teknik 'tebasan' ketika mengalahkan goblin di Ritress. 


Akan terasa memalukan jika aku sebagai pendekar pedang level 502 tidak mampu memegang pedang dengan benar, jadi tidak boleh membuat kesalahan karena ini juga akan mempengaruhi hasil pertarungan.


"Api menyatu dengan pedang!" Ternyata berhasil! Itu menghasilkan kobaran api pada bagian selain tempat tangan saya memegang gagang senjata.


Saya hanya menciptakan api di sana dengan sihir, dan sepertinya itu berhasil, tapi hanya untuk sementara waktu ... Benar, itu akan padam setelah beberapa detik berlalu.


"Ada apa? Sihir apimu ternyata selemah itu? Apakah hanya sampai disini kemampuan pahlawan penyihir yang ditakuti oleh Tuan Muda?" Saya bahkan bisa merasakan nada suara yang diucapkan oleh Dirk terdengar sangat mengejek, ini setidaknya membuatku merasa agak canggung sekaligus sedikit kesal.


Sepertinya aku bisa menggunakan ' Fireball Explosion' untuk langsung menghabisinya, tapi memikirkan dampak bagi bangunan besar ini, setidaknya kurang lebih akan membuatnya menjadi hanya tersisa puing-puing reruntuhan.


***


"Nona Rafiel bagaimana menurut anda tentang pertarungan ini?" Qwenne bertanya begitu melihat saya mulai terpukul mundur mendekati garis di belakang.


"Ini tidak menguntungkan baginya yang lebih menguasai sihir daripada pedang ..." Rafiel menghela nafas, sepertinya dia juga merasa ada yang aneh dari pertarungan jarak dekat tersebut.


"Mengapa demikian?"


"Bukankah sudah jelas, penyihir dengan mantra rapalan memang tidak cocok untuk bertarung  dalam jarak dekat. Maksudku, itu akan membuat sihir yang hendak digunakan tidak akan pernah aktif jika seseorang tiba-tiba membuatnya berhenti setengah jalan."


"Itu memang benar ..." Qwenne menganguk tidak membantah.


"Dengan kata lain, seorang penyihir memerlukan semacam perisai atau seseorang sebagai pelindung untuk membuatnya memiliki waktu menyelesaikan mantra sihirnya, dan penyihir tanpa menggunakan metode merapal mantra cukup jarang ada di wesfield. Itu membuatnya seperti cukup mustahil bagi Tuan Louis untuk memenangkan pertarungan ini."


"Jadi, maksudmu tidak ada peluang baginya agar bisa menang?"


"Tentu saja, itu adalah kemungkinan terburuknya ... Tapi ..."


"Tapi?" Kedua bola mata Qwenne kembali mengamati sesuatu setelah mengikuti gerakan sama pada mata Rafiel, dan sepertinya sesuatu sudah menarik perhatianya.


Itu adalah pedang dengan lapisan api yang hanya bertahan dalam hitungan detik.


"Ini ... Apakah ..."


"Tidak salah lagi ... Tuan Louis berencana menghadapinya dalam pertarungan jarak dekat?!"