Build An Empire With The Strongest Princess

Build An Empire With The Strongest Princess
Part 28 - Rahasia Yang Terungkap



"Eh? Apa yang ..."


Saya menoleh ke samping kiri dan kanan untuk melihat reaksi penonton seakan mempertanyakan kebenaran dari pernyataan sang putri.


Tentu karena pernyataan mengenai seorang laki-laki yang masih belia mengalahkan ratusan pasukan monster memang sulit untuk dipercayai, bahkan saya jika berada di posisi mereka juga akan bertindak serupa.


Tapi begitulah kenyataanya. Kebanyakan orang mungkin akan mempercayai apa yang sudah mereka saksikan, atau lihat dengan kepala mata sendiri. Maksudku, tidak ada satupun orang yang terlalu naif di ruangan ini untuk langsung dengan mudah menerimanya.


Apalagi setelah melihat reputasiku yang diketahui sangat buruk di kalangan bangsawan, saya yakin itu juga termasuk salah satu alasanya.


*Menyingkirkan hal itu\,*saya masih memiliki satu pertanyaan paling penting!


"T-T-Tunggu dulu! Bagaimana anda mengetahuinya?! Seingatku, penduduk Ritress sudah sepakat untuk merahasiakan ini dari siapapun!" Benar, itu tidak salah lagi. Aku yakin sudah membuat mereka tutup mulut mengenai ini.


Saat aku menanyakanya, ekspresi yang muncul di wajah Qwenne sungguh berbeda dari yang saya perkirakaan.


"Tentu saja ada, mereka bahkan membantu dengan mengatakan nama seseorang yang menjadi penyelamat mereka." ... Ada apa dengan senyuman yang terlihat polos itu? Apakah dia sengaja melakukanya untuk mengejutkan aku?


Kepala desa itu ...!


Sial! Dia sudah membohongi saya! Tapi tunggu, melihat situasi yang aku hadapi sekarang ... Bukankah ini merupakan hal yang baik? Itu berhasil membebaskan saya dari hukuman maut.


Aku tersenyum riang. Hal yang bisa aku katakan adalah tentu saja berterimakasih kepada siapa yang sudah membocorkannya, termasuk meminta maaf karena sudah salah paham kepada kepala desa. Maafkan saya ...


"Uhm ... Saya memang akan mengampuni anda, tapi perbuatan anda yang hampir membuat negara ini berkonflik dengan Klan Elf tidak bisa saya lupakan begitu saja. Untuk itu, aku sebagai Raja Wesfield di generasi ini, membebaskan Tuan Louis, sang penyelamat desa Ritress, namun sebagai gantinya, dia akan meminjamkan kekuatanya untuk membantu kami melawan Pasukan Lizardman yang menyerang kerajaan!"


***



Karena mereka adalah monster, tentu negara-negara disekitarnya tidak mengakui berdirinya negara tersebut.


Beberapa waktu setelahnya, hal mengejutkan terjadi. Lizardman ternyata sudah memiliki angkatan bersenjata dan bersiap untuk menyerbu kota terdekat mereka, Tulha yang berada di wilayah selatan Wesfield.



***


Jadi begitu permasalahanya, ini masuk akal untuk dicerna dalam pikiran.


Singkat cerita, karena target penaklukannya adalah kota tulha. Maka Ritress diperlukan sebagai batu pijakan untuk mencapai tujuan tersebut.


Begitulah kira-kira kronologi kejadianya. Tidak ku sangka kerajaan benar-benar serius menanggapi ini, bahkan menggunakan saya sebagai alat untuk menyelesaikan masalah.


"Saya menerima, jika ini bisa membebaskan saya dari tuduhan. Tapi sebelum itu, apakah anda berniat membuat saya bertarung melawan ribuan pasukan musuh sendirian?" Aku bertanya, itu membuat Raja Gavard berpikir sejenak.


"Tentu saja ..." Saya mengerutkan dahi, jika itu terjadi, maka ada kemungkinan diriku kabur dari medan perang tanpa bertarung. Namun ketika raja menambahkan satu kalimat lagi seperti, "Tidak" saya mendorong pikiran tersebut karena sepertinya pria ini masih memiliki rasa iba untuk mengirim anak-anak ke medan perang.


"Anda akan bersama dengan putri kebangaanku, Qwenne yang memimpin lima ratus prajurit kavaleri beserta lima ribu pasukan infanteri. Apakah itu cukup?" Jadi begitu, cara yang cukup efektik untuk membuat pengaruh sang putri meningkat di kerajaan, itupun jika kami berhasil memenangkan pertempuran.


Aku mengangukan kepala, dengan Tuan Putri yang berada dipihakku sekarang saya bisa dibilang memiliki seseorang yang bisa disebut sebagai 'rekan' dalam misi kali ini.


"Mohon bantuanya, Tuan Louis ..." Qwenne menundukan kepala, itu membuat saya secara reflek mengikuti tindakanya.


"Saya juga mohon bantuanya untuk kedepanya ... Emmm, Tuan Putri?"


"Tidak perlu terlalu formal, anda bisa langsung memanggil saja Qwenne."