
***
Raka tersenyum merekah saat mendapatkan notif dari Alan, dia mengabarkan bahwa Ara sudah sadar dan kondisinya sudah baik-baik saja.
"Setelah delapan hari akhirnya loh sadar Key," Raka mengacak layar ponselnya hendak mencari kontak seseorang. Dan, ketemu.
"Sya? Key udah sadar, kalo loh mau jenguk datang aja bentar."
Setelah mengirimkan pesan itu kepada Tasya, Raka meletakkan kembali HP-nya ke dalam tasnya kemudian mengemas sumua barang-barang belajarnya. Ia akan pulang sekarang.
"Dit? Ham?"
"Iya?" Jawab mereka barengan.
"Gue mau jenguk Key dulu, kalian izinin gue ya?"
"Gue pengen ikut Rak, loh pikir loh aja yang khawatir sama Key? Kita ikut! Kan Ham?" Ilham mengangguk mendengar ucapan Adit, walau bagaimanapun Keyra adalah sahabat mereka yang berpisah dengan mereka dua tahun lalu. Dan dengan brengseknya Raka bertemu dengan Key dan samasekali tidak memberitahukan kepada mereka. Kejam ko bambnk!
"Yaudah deh," pasrah Raka.
"Woi, gue udah iznin kalian bertiga. Kita berangkat sekarang," timpal Tasya yang secara tiba-tiba muncul dari balik pintu yang membuat ketiga orang yang menjadi lawan bicaranya tergolak kaget.
"Buset Sya! Tuh suara cempreng nya kelewatan amat," keluh Ilham yang di balas kekehan oleh Tasya.
"Berangkat yuk."
***
"Bang?"
"Mm?"
"Pengen makan seblak, beliin lah," Alan menoleh ke arah Ara yang tengah menunjukkan puppy eyyesnya berharap agar Alan luluh. Namun, sepertinya sekarang Alan memang tidak memperbolehkannya, itulah yang membuat Ara menatap Alan dengan sebal. Ah ayolah, ia ingin seblak dan hanya seblak.
"Beli roti atau susu aja ya, Key?"
"Yaelah bang, tega kau sama dede. Huaaaa, abang Alan kejam."
"Key?" ucap Alan dengan lembut, Ara tak menyahut, hanya menengok Alan sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Ceritanya sebel nih?"
"Auh ah!"
Alan menghembuskan nafasnya gusar. "Yaudah, abang keluar dulu deh,"
"Kan lagi gak ada pasien, kok mau keluar sih?"
"Soalnya Keyra ngambek, jadi abang gak betah," oh ayolah, ekspresi wajah Alan sangat lucu. Kenapa dokter dihadapannya ini memiliki wajah yang sangat polos ketika sedang sebel? Hehe.
"Yaudah deh, Key udah gak ngambek. Peluk dong," Alan tersenyum kemudian memeluk Ara sesuai dengan permintaannya, sedangkan orang yang di balik pintu ruang rawat Ara hanya melihat pemandangan itu dengan tersenyum nanar. Kenapa bukan dia yang memberikan pelukan, ciuman, serta ketenangan seorang kakak? Saat adiknya sedang keadaan terpuruk? Kenapa harus Alan? Kenapa ia malah menjadi alasan adik perempuannya itu untuk selalu menangis, tersiksa dan kesakitan? Brengsek! Hanya kata itu yang pantas untuknya sekarang ini. Dia gagal menjadi seorang kakak, dia mala menjadi monster menakutkan di hadapan adiknya.
"Maaf," lirihnya mengusap cairan bening yang membasahi pipinya.
Ceklek
Setelah merasa puas melihat pemandangan itu, Angga masuk ke dalam ruangan Ara dengan senyuman tipis. Apakah adiknya itu mau melihatnya?.
Pandangan Ara dan Alan teralihkan ke arah orang yang muncul dari balik pintu masuk. Alan tersenyum membalas senyuman Angga.
"Udah ada kak Angga, jadi abang pamit ya?" Ara menatap Alan dengan tatapan sedih, seolah berkata. 'jangan tinggalkan Keyra di sini bersama orang ini, Keyra takut,' Alan seolah mengerti dengan tatapan Keyra. Dia tersenyum dan menggeleng seolah memberikan Keyra pengertian bahwa ia akan baik-baik saja.
"Yaudah bro, gue ada pasien. Titip adek gue, hati-hati! Lecet dikit tamat riwayat loh,'' tekan Alan sebelum keluar dari ruangan itu. Angga tersenyum simpul, rasanya ia sudah menjadi peran antagonis di kehidupan adik kandungnya.
Hening, tak ada samasekali yang membuka pembicaraan. Semuanya terlalu fokus pada pikiran masing-masing tanpa memperdulikan bahwa ada orang lain yang sedang bersama mereka sekarang ini.
"Ibu sama ayah mana? Mereka masih marah sama Ara?" Ara membuka suara dengan menanyakan keberadaan orang tuanya yang tak kunjung menjenguknya. Sebenci itukah?.
"Keadaan kamu?"
"Alhamdulillah, sehat-sehat aja," hati Angga begitu mencelos saat mendengar ucapan dari adiknya. Kenapa kau harus menyembunyikan sakitmu di balik senyum palsu itu? Keluarkan semuanya, kau mau menangis? Mau berteriak? Atau marah, mungkin. Keluarkan saja, jangan kau pendam di balik senyum palsu itu.
"Ayah sama ibu di mana kak?"
"Ayah lagi kerja kalau ibu lagi di rumah aja," lagi-lagi Ara tersenyum. Rasanya kenapa begitu sesak? Dia sudah seminggu lebih bertarung dengan maut. Tapi, kenapa orang tuanya tak menjenguknya? Apa mereka begitu marah padanya?.
"Sakit sih saat tau keberadaan kita sama sekali tidak di inginkan oleh orang tua. Tapi, ini sudah takdir bukan? Ngapain Ara sesali? Kalau Ara mau marah, marah sama siapa coba? Sama Tuhan? Hahahaha, gak lucu!"
"Tau gak kak, kata orang-orang ayah adalah pahlawan untuk anaknya, dia relah melakukan apapun asalkan anaknya baik-baik saja. Tapi, apakah ayahku seperti itu? Rasanya tidak! Ayah bagiku adalah Iblis yang sangat menakutkan." Ara menatap Angga dengan lekat kemampuan melanjutkan kembali ucapnya.
"Kata mereka ibu adalah lautan kasih sayang yang amat besar. Hanya ibu tempat anaknya mencurahkan kasih sayang. Lantas? Bagaimana dengan ibuku? Apakah dia seperti itu? Hahahaha, rasanya tidak samasekali." Percayalah tertawa saat hati sedang sakit itu menyesakkan.
"Kata orang juga, kakak laki-laki tugasnya menjadi pengganti sang ayah untuk melindungi adiknya saat keadaan tak memungkinkan untuk ayah datang menyelamatkan anaknya. Tapi, kok kebalik sih?"
Ara tertawa miris saat mengungkapkan isi hatinya di hadapan Angga. Angga yang melihat itu hanya menunduk dan sesekali meneteskan air matanya, ia menyesal, sungguh!.
Raka, Adit, Ilham dan Tasya yang baru tiba di sana tak sengaja mendengarkan ucapan meyayat hati dari Ara. Orang ceria yang selama ini mereka anggap baik-baik saja ternyata sedang tersesat di dalam kegelapan yang amat menakutkan.
"Maaf," hanya kata itu yang mampu Angga ucapkan saat ini. Keyra tersenyum. "Gak apa-apa, walaupun kak Angga, ibu dan ayah nyiksa Ara dalam bentuk apapun. Ara tetap sayang kalian, kalian pokonya best buat aku,"
Tubuh Angga memegang seketika menjadi mendengar ucapan dan melihat senyuman Ara. Dia wanita hebat, sungguh! Bukankah keluarganya adalah alasan betapa terlukanya seorang Keyra? Lalu apa yang ia katakan sekarang? Best katanya, bulshit! Semuanya meleset jauh dari ucapannya. Keluarganya sungguh biadab, dan Angga mengakui itu.
"Udah makan?" Angga berusaha untuk mengalihkan pembicaraan ke arah yang lain agar tak terlalu canggung jadinya. Ara yang melihat respon Angga tersenyum, seakan ia paham. Angga tidak nyaman dengan ucapan yang ia katakan tadi. Tapi, tak bisa ia pungkiri. Jujur saja, sedikit ada kelegaan di dalam hatinya.
"Ara mau makan seblak, boleh?" Ara kini menatap wajah kakaknya dengan lekat. Semoga saja kakaknya ini peka, dia sangat ingin makan seblak sekarang.
"Boleh, yang penting makan dulu terus minum obat. Habis itu kakak beliin deh," Ara terpekik senang. Akhirnya bisa makan seblak.
"Yaudah,"
"Kakak suap ya?" Ara mengangguk.
"Ehemm,"
Prangg
Bubur yang tadinya akan Angga suapi pada Ara, kini jatuh berserakan. Angga terkejut bukan main saat tiba-tiba deheman orang tanpa permisi terdengar jelas di samping telinganya. Angga mengelus dadanya mencoba menetralkan nafasnya yang memburu, dia sangat terkejut, sungguh.
"Bwahahahhaha," dan dengan tidak berdosa nya sang pelaku cekikikan tak jelas bersama dengan teman-temannya dan juga Ara. Menurut mereka ekspresi wajah kaget Angga sungguh di luar dugaan mereka.
"Brengsek!" Bentaknya saat melihat empat orang berada tepat di belakangnya sedang tertawa lepas dan salah satu dari mereka adalah adiknya, Tasya.
"Eh pak Angga?" Kaget Adit yang baru menyadari bahwa yang Raka jahili adalah guru terkiller di sekolahnya. Seketika Adit menelan Salivanya dengan susah payah.
"Kalian pikir lucu? Hah?! Saya hampir mati terkejut tadi!" Bentak Angga menatap nyalang orang-orang yang ada di hadapannya ini. Tak terkecuali Tasya, sekarang emosinya sudah naik ubun-ubun. Mereka pikir bercanda.
"Ya elah, lebai banget sih loh, MAEMUNAH!" Woah Daebak. Balasan ucapan Raka membuat orang di sekelilingnya terkejut. Berani sekali ia bermain-main dengan singa di hadapannya itu.
"Udah ah! Karena loh yang udah nyebabin kekacauan ini Rak, loh yang harus bersiin."
"Kok gue?" Selah Raka tak terima jika harus di suruh membersihkan makanan yang sudah berantakan bersama serpihan pecahan piring di lantai.
"Yang bikin pak Angga kaget terus hal sengaja ngelepas piring itu siapa? Lagian bercanda loh gak lucu tau gak!" Sergah Ilham.
"Sudah! Biar saya saja," potong Angga tiba-tiba.
"Tapi pak?"
"Ilham? Jangan panggil saya pak atau bapak kalau di luar sekolah, saya masih muda dan belum jadi bapak-bapak jadi stop panggil saya pak kalau di luar sekolah kaya gini," seruh Angga tak terima saat Adit dan Ilham memanggilnya dengan embel-embel pak, padahal inikan di luar sekolah.
"Yang nggak mau di kata tua," canda Tasya melihat raut wajah tak suka dari Angga saat orang di hadapannya ini memanggilnya dengan embel-embel pak.
"Ke sini mau berdebat atau jengukin gue sih? Gue kaya jadi penonton filem drama tau gak!" Kesal Ara yang malas melihat perdebatan yang tidak jelas oleh orang-orang dihadapannya.
"Eh, gara-gara kakak ipar gue sampai lupa istri gue. Ya ampun, maaf ya sayang?"
Pletak!
"Ya elah MAEMUNAH! Salah aing apa sih? Kenapa di gaplok?"
Dengan senyuman tak berdosa nya Angga, tersenyum meledek melihat ke arah Raka. Makannya lancang. Pake bilang-bilang Ara istrinya lagi, gak ngontak emang.
"Rak? Loh udah nikah sama Key? Kapan?"
"Kok nggak ngundang gue? Loh juga Key, kenapa loh gak kasih tau kita?"
"Bacot!"