
"Kenapa anda mau ikut campur, hah?! Biarkan saja ia mati tergeletak di sini. Tak perlu membantunya bangun!" geram Wijaya dengan mendorong sedikit kepala sekolah agar tidak membantu Ara untuk berdiri. "Anak anda benar-benar kesakitan! Apakah anda tidak punya hati hah?!" Kepala sekolah mulai meninggikan intonasi suaranya karena geram dengan perlakuan Wijaya dan sang istri yang mencoba menghalangi orang-orang yang ingin membantu Keyra.
"Pak! Anaknya pingsan," ucap salah satu guru menatap Wijaya dan sang istri agar mengizinkan mereka untuk menolong Keyra yang sudah terbaring di lantai dengan wajah lebam dan sedikit darah yang mengalir pada hidung dan mulutnya.
"Jangan sentuh dia! Kalau kalian menyentuhnya saya akan tuntut!" Rini berucap geram menatap satu persatu orang-orang yang hendak menolong Keyra yang sudah tak berdaya. Semua orang di sana tak bisa apa-apa lagi. Mereka memilih untuk pergi dari sana di bandingkan harus menyaksikan penyiksaan perih yang di lakukan oleh sepasang suami istri itu.
Alan langsung bergegas mencari di mana ruangan rawat Raka dan Angga yang katanya tak sadarkan diri karena di serang oleh genk motor. Alan samasekali tak mengkhawatirkan kedua makhluk itu, mereka matipun Alan tak perduli yang sedang ia khawatirkan sekarang adalah Keyra. Ia begitu hafal dengan sikap orang tua Keyra yang pastinya akan menyiksa anak bungsunya itu untuk bahan pelampiasan.
Dan, bertepatan di koridor ruang ICU Alan melihat dua orang tua yang tengah saling menguatkan menatap ke arah ruang ICU. Alan kenal mereka, mereka adalah orang tua dari Keyra. Ah, tunggu. Di mana Ke---.
"Keyra?" Alan benar-benar terkejut bukan main saat melihat Ara yang terbaring lemas di atas lantai tanpa ada seorang yang membantunya. Apakah mereka tidak punya hati nurani? Hah!?.
"Mau apa kau? Biarkan saja anak itu membusuk di sana! Jangan sentuh dia atau kau mau mati?" peringat Rini saat Alan berusaha membangunkan Ara dengan memanggil-manggil namanya. Ara mendengar teriakkan Rina langsung melayangkan tatapan tajam menuju ke arahnya. "Punya salah apa Keyra sebenarnya sampai anda begitu kejam padanya? Kenapa anda berwujud manusia? Saya pikir anda lebih cocok mempunyai wujud binata*g atau tidak iblis!"
Plakk
"Jangan sok tahu kamu! Keyra itu gak guna! Tau gak?!"
"Kalau gak guna kenapa masih di lahirin? Kenapa gak di cekik aja? Atau anda mau saya tunjukkan bagaimana cara membunuh? Ah--- mau saya bunuh Keyra di depan anda? Hah?! Orang tua biadab! Seumur-umur baru ini saya bertemu dengan orang seperti kalian! Berwujud manusia tapi titisan iblis!"
"Jaga bicara kamu!" Wijaya mencelah.
"Kenapa? Nusuk sampe di hati? Eh-- lupa anda kan tidak memiliki hati!"
Skakmat
Rini dan Wijaya diam di tempat tak mampu menahan Alan yang kini menggendong Ara menjauh dari mereka.
***