Broken Girl

Broken Girl
sembilan belas bagian 2



"Ra? Gue takut," Ara menatap bergantian ke arah Tasya dan Serly yang tengah di rundung ketakutan yang luar biasa. Ia menggelengkan kepalanya mencoba membuang egonya. Ia harus membuang rasa traumanya demi guru-guru, sahabat dan kakak kandungnya.


"Kalian tunggu di sini, ok?"


"Loh mau kemana?"


"Jangan bilang loh mau berentem Ra?"


"Udah! Jangan bikin gue pusing. Kalian di sini aja! Jangan deketin gerbang sekolah! Ingat, jangan-jangan lakuin hal yang aneh-aneh."


Setelah berucap itu Ara langsung berlari ke luar ruangan itu dan langsung bergegas menuju ke tempat yang sedang terjadi adegan baku hantam.


Tubuh Ara seakan mematung saat melihat ke arah luar gerbang di mana guru, sahabat, teman beserta kakaknya sudah kualahan mengahadapi. Ah, tunggu dulu. Itu Bara?.


Mata Ara langsung melotot saat memastikan bahwa itu benar-benar Bara. Manusia biadab yang telah membunuh kekasihnya. Mau apa lagi sekarang? Apa Bara akan mengambil orang yang ia sayangi lagi? Tapi siapa? Angga? Ah! Bara cukup paham dengan kondisi hubungan keluarga Ara. Jangan-jangan, Raka? Oh jangan. Jangan lagi, sudah cukup Bara merenggut Rival darinya. Dia tidak akan membiarkan Bara melukai Raka, tak bisa di pungkiri semenjak kejadian Raka menciumnya Ara sudah mencintai raka.


"Aish! Sial!" Saat hendak keluar gerbang Ara terhenti karena gerbangnya di gembok. Tak putus asa Ara menggedor-gedor gerbang itu. Namun, nihil pintu gerbangnya masih tergembok dengan kuat.


"Neng? Ngapain di sana? Ayook," mang Udin, pak satpam langsung menarik tangan Ara menjauh dari gerbang. Bagaimana kalau Ara kenapa-kenapa? Mereka sedikit percaya dengan beberapa orang yang tengah menghadang geng pembuat onar itu agar tak nantinya membuat kerusakan di sekolah. Mereka juga sudah menghubungi polisi dan sekarang mereka berada di perjalanan. Maklum saja, sekolah ini sangat berjauhan dengan kantor polisi.


Ara mencoba berontak tapi tak bisa karena cekalan mang Udin cukup kuat. Pandangan aneh mulai di layangkan oleh orang-orang berada di sekitar lokasi. Semuanya menatap Ara dengan enteng. Sok berani, mana mungkin anak cupu sepertinya mampu mengalahkan geng motor itu?. Ah iya, mereka tidak kenal siapa Keyra yang sebenarnya kan? Ok, maklum ya?.


"Loh ngapain di sana? Mau jadi sok pahlawan?" Sewot Dinda yang merasa geram dengan Ara. Jujur saja, dia menaruh sedikit dendam pada Ara. Karenanya ia dan sahabat-sahabatnya di skors bahkhudi jatuhi hukuman pula.


Ara tak menggubris, ia terlalu fokus pada pergelangannya yang di pegang erat oleh mang Udin. "Hala, gaya-gayaan, padahal pas di bully pingsu, sok jagoan loh!" sambung Linda dan di akhiri dengan tawa ejekan oleh teman-temannya.


"Harusnya loh itu lari ke toilet terus gemetar dan mati! Loh gak cocok ada di sini tau gak?"


"Sensasi banget sih?"


"Hooooo," semua orang di sana meneriakinya Ara dengan nadah meremehkan tanpa memperdulikan kejadian di luar gerbang yang semakin memanas. Mang Udin yang sudah merasa kasihan melihat bullyan mereka pada Ara akhirnya melepaskan cekalannya. Ara yang mendapatkan kesempatan ini langsung mengambil tong sampah di sampingnya dan di lemparkan ke arah manusia-manusia yang tak berperikemanusiaan itu. Berani-beraninya cari gara-gara dengannya dalam situasi seperti ini.


"URUSAN GUE BUKAN SAMA KALIAN, BANG*AT!" selesai mengucapkan sumpah serapahnya Ara langsung menuju ke arah gerbang. Semua orang terdiam memerhatikan ekspresi Ara yang seperti ingin memakan mangsanya hidup-hidup. Pandangan yang menusuk dan barusan Ara perlihatkan pada mereka. Mereka cukup terbiasa dengan tatapan sayu, dan mengasiankan Ara sampai-sampai mereka lupa bahwa siapa Ara sebenarnya.


Bugh


Bugh


Bugh


"Kak Angga!!" Ara berteriak histeris saat salah satu dari anggota geng motor itu menyerang Angga bertubi-tubi tanpa ampun.


"Mang Udin!!! Buka pintunya. Pliiss," tangis dan teriakan sudah menyatu pada Ara saat melihat sahabat-sahabatnya terlebih kakaknya yang sudah babak belur dipukuli. Mang Udin tak bisa apa-apa untuk menolong Ara, dia hanya bisa menggeleng dan menatap nanar ke arah Ara yang tengah histeris di depan gerbang.


BRAKKK


GEDUBRAK


PRANG!!


Semua orang yang berada di tempat itu melotot sempurna saat dengan kasarnya Ara merobohkan pintu gerbang hanya dengan satu tendangan. Setelah berhasil merobohkan gerbang Ara berlari menghampiri satu persatu orang-orang yang berbuat onar di sekolahnya. Satu-persatu mereka tumbang di tangan Ara. Perkelahian di ambil alih oleh Ara yang tengah di kuasai dengan amarah. Apalagi saat melihat Angga dan beberapa orang yang tergeletak tak berdaya membuat emosi Ara semakin membuncah. Rasa dendam kematian Rival bercampur dengan rasa marah akibat pemberontakan yang mereka lakukan.


Semuanya beginsut mundur saat melihat betapa ganasnya seorang Ara saat dengan mudahnya membuat lawannya tumbang hanya dengan satu pukulan.


Bara tersenyum saat melihat orang yang selama ini dicarinya muncul tepat di hadapannya dengan masih dirinya yang dulu. Wanita brutal yang tak kenal ampun sehingga di julukinya dengan sebutan 'KEY' The Devil.


Raka, Adit, Rasya dan Ilham yang masih bertahan langsung berlari menghampiri Ara. Mereka cukup kenal bagaimana saat Ara marah. Bagaimana saat seorang yang di juluki Devil itu ketika marah.


"KEY! CUKUP!!!"


"UDAH! Sadar Key!"


"LOH BILANG GAK MAU NGECEWAIN RIVAL!!!"


"KEY!! JANGAN," mereka berempat benar-benar tidak mau melihat Keyra melakukan hal yang tidak-tidak di depan penghuni sekolah. Keyra samasekali tidak menakutkan. Keyra benci ketika ia di anggap monster oleh orang-orang di sekitarnya.


Raka memeluk Ara, Rasya memegang kaki Ara, Adit dan Ilham memegang kedua tangan Ara dengan erat. Susah memang, saat mengendalikan orang seperti Ara, apalagi tenaga mereka sudah terkuras karena babak belur dan mereka hanya berempat. Mana bisa mereka menenangkan Ara? Ah! Apapun itu mereka harus berusaha dulu sebelum semuanya benar-benar kacau.


"LEPASIN GUE!!! GUE MAU NGEBUNUH DIA! BRENG**K!"


"LEPASIN GUE!!"


"Key, jangan bikin orang di sekolah ini takut sama loh," setelah mengucapkan itu pelukan Raka melemas, ia tak sadarkan diri saat memeluk Ara dengan erat.


Napas Ara mencekat, jangan! Raka tak boleh pergi seperti Rival. Tidak! Jangan!.


"Raka?" Ara menghempaskan Adit, Ilham dan Rasya agar dapat melepaskan dirinya dari cekalan mereka.


"Gu----gu--e gak bakal bernatem lagi. Hiks ... Bangun bego! Hiks ... Jangan bikin gue takut," Ara melunak saat melihat Raka tak sadarkan diri saat mencoba menenangkannya.


Merasa seperti situasi di dua tahun lalu Adit langsung bergegas menuju ke arah Raka dan langsung mengecek keadaan Raka. Dia mengembuskan napasnya legah karena detak jantung dan nadi Raka masih ada. Itu tandanya Raka hanya pingsan saja. Ia tak kenapa-kenapa.


"Raka cuma pingsan Key."