
******
Kapan bahagia?
~keyra Putri Wijaya
***
Rasa sesak di hati Ara kian terasa, mengapa ibunya semarah itu? Ah, ayolah! Dia samasekali tak berbuat ulah, kenapa tiba-tiba ibunya berskap kasar padanya. Kejadian kemarin malam samasekali tidak ia sengaja, ia memang belum sempat meminum obatnya. Jadi, rasa sakit itu kambuh seketika. Ibunya salah kalau mengira bahwa Ara melakukannya dengan sengaja agar mendapatkan perhatian. Oh ayolah, Ara bukan pengemis kasih sayang, karena ia paham apapun yang ia lakukan keluarganya tidak akan peduli. Bahkan ketika ia mati, mungkin!.
Duduk termenung di atas balkon dengan memeluk lututnya, mungkin sudah menjadi kebiasaan Ara. Ara sesekali mengusap air matanya saat mengalir membasahi pipinya.
"Ara gak guna ya bu? Ara pembawa sial kan Yah? Ara gak tau diri kan Kak?" ucap Ara dengan rilih.
"Kenapa kalian seperti monster Yang bisa nerkam Ara kapan aja?"
"Ara sakit, Ara terluka dengan perlakuan kalian, kalian kejam. Tapi, tau gak? Ara sayang kalian. Ara gak akan pernah bisa ngebenci kalian, Ara takut kalau sakit Ara bisa ngebunuh Ara. Ara takut gak bisa liat kalian lagi," Ara menggigit bibirnya agar rasa sesaknya sedikit mengurang.
Triiing tringg
Lamunan Ara terbuyar saat mendengar suara deringan teleponnya.
"Halo?"
"Hay, sayang lagi ngapain?" Ara terkejut dengan kalimat yang terucap dari seberang telepon. Dengan cepat ia melihat ke arah layar HP-nya. 'Raka Suaminya Key' mata Ara melotot saat melihat nama konyol itu terpampang di layar HP-nya. Sejak kapan Raka menjadi suaminya? Aish, pasti Raka pelaku yang menculik HP-nya di sekolah tadi. Pantas saja hilang dan tiba-tiba muncul tanpa di duga.
"Gak jelas banget sih Rak!" Terdengar kekehan dari seberang sana. Aish, dasar menyebalkan!
"Dihh,"
"Apa sih? Gak jelas!"
"Key? Ketemuan dong, kita ke base camp. Anak-anak kangen banget ama loh, tadi aja pas gua kasih tau gue ketemu loh, mereka senang banget."
"Gak! Gue sibuk!" Jawab Ara ketus.
"Sok sibuk loh, udah sekarang turun. Gue di depan rumah loh." Ucapan Raka membuat Ara terkejut, dari mana ia tau rumah Ara? Padahalkan, setelah Ara pindah dsri rumahnya yang dulu, gak ada yang tau tempat tinggalnya sekarang.
"Tau dari mana rumah gue?"
"Taulah, masa suami gak tau tempat tinggal istri sih?"
"Sinting!"
"Bentar ya? Aku izin dulu."
"Gak usah!"
"Loh izin atau gak mereka gak akan pernah peduli Key!" Kata Raka.
"Key? Gak usah sabar buat nunggu mereka buat peduli sama loh, harusnya loh sadar, mereka gak pernah ngeharapin keberadaan loh. Udah! Cepet turun, gue udah kepanasan nih," sambung Raka yang membuat Ara tersenyum kecut. Tapi, memang kenyataannya kan? Ara menghelah nafasnya kemudian tersenyum, baiklah! Tunjukkan pada dunia bahwa kau baik-baik saja.
***
Ara keluar dari kamarnya melewati keluarganya yang sedang bersenda gurau, saling membagi kebahagiaan. Ternyata benar kata Raka, keberadaan nya tak dianggap.
Tidak seperti biasanya, Ara melewati keluarganya begitu saja tanpa meminta izin. Untuk apa juga minta izin? Toh, mereka gak bakal peduli kan?
Angga yang merasa ada yang lewat ia langsung melihat ke arah pintu, ternyata Ara melewati mereka tanpa meminta izin. Angga tersenyum miring. "Mau kemana dia?"
***
Ara tersenyum saat melihat Raka yang sedang tertidur bersandarkan pagar rumahnya. Aish, anak ini memang aneh. Sekali aja ngantuk pasti langsung tidur, gak pernah liat situasinya.
Ara berjalan mendekat ke arah Raka yang tengah tertidur sambil membuka mulutnya. "Anak aneh, perasaan gue tadi cuma mandi terus ganti baju, emang lama? Sampai tidur nunggunya."
"Woi!!!"
"Eh, eh, sapi nembak gue!"
"Bwahahahhaha," Ara tertawa lepas saat melihat ekspresi Raka yang terkejut akibat dari kejahilannya. Dan, apa katanya? Sapi nembak gue? Segitu jomblonya sampai sapi pun di embet? Woa, daebak!.
Raka menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aish, hancur sudah citranya di hadapan gebetan.
"Udah ah Key! Gak lucu!"
"Kita mau kemana nih?" Tanya Ara yang memang merasa bingung mau kemana.
"Ke danau yuk," Ara menggeleng.
"Yaudah ke rumah gue, gak ada penolakan! Mama gue minta loh datang, katanya rindu ama loh."
"Base camp?"
"Nanti ah, gue lagi malas kesana Key," jawab Raka.
"Katanya tadi ke base camp, sekarang?"
"Brisik!" Raka langsung mencium bibir Ara kemudian menggendongnya ke atas motor. Sementara Ara? Raka gilak! Omo, Daebak! Dia udah bikin gue baper.
****