
***
Tak terasa, kejadian pembullyan Dinda ddk terhadap Keyra telah berlalu kurang lebih seminggu yang lalu. Masih terpampang jelas di benak para murid, betapa mengerikannya guru BK mereka, Angga. Di saat marah. Dinda ddk yang notabenenya anak donatur sekolah saja nyaris di keluarkan dari sekolah. Angga mengancam akan memenjarakan mereka kalau tidak di tindak tegas.
"Key?"
"Ya?"
"Loh ngapa bisa di bully sama Dinda ddk sih? Perasaan gue loh orangnya kalem amat dah. Kok mereka nge-bully loh?" tanya Ilham yang memang sangat kepo dengan apa yang sebenarnya terjadi. Aish! Mana hari itu dia sedang latihan basket rugi banget gak bisa nyaksiin guru killer itu ngamuk.
"Gara-gara pacar kalian lah," ucap Ara enteng, masih fokus dengan bukunya. Ya, sekarang mereka berada di perpus. Awalnya Ara hanya ingin mengajak Tasya. Tapi, entah karena kebetulan apa Raka the Genk tiba-tiba nongol dan ikut bersamanya. Jujur saja, Ara risih. Apalagi sekarang ia menjadi topik hangat di sekolahnya, hanya karena Angga mengamuk saat menemukannya yang tak sadarkan diri saat berada di toilet. "Huff," Ara mengembuskan napasnya kasar saat ingin menjelaskan yang sebenarnya. Dia tak sadarkan diri bukan utuh karena Dinda ddk. Waktu itu ia kalut saat bayangkan Rival terpampang jelas di benaknya. Jadi ia lebih memiliki menyalakan shower di toilet itu.
"Tunggu, emangnya gue punya pacar, Dit? Rak? Sya?" ambigu Ilham menoel-noel dagunya.
"Loh kan jombloh karatan, iya kan Dit?"
"****** loh!"
"Hahahahaah," sontak tawah mereka pecah saat melihat tatapan tak terima dari Ilham.
"Eh iya juga ya? Kalau Raka bilang Ilham jombloh karatan, terus yang Key bilang pacar kita siapa dong? Makhluk gaib, ih---" Adit tak melanjutkan ucapannya saat rasa ngerih dan seram tiba-tiba menghampirinya. Bisa saja ada hantu yang juga mencintainya? Secara kan ia udah ganteng tahap akhir.
"Ngawur!"
"Ko aing di gaplok sih, Sya?" Keluh Adit saat dengan tidak elitnya, Tasya melayangkan tangannya di kepala Adit.
"Lah kok cuma di gaplok sih, Sya? Kenapa gak di tendang ke planet mars aja? Soalnya bumi ini udah gak pantes untuknya berpijak," dengan ucapan lebaynya Raka terkekeh. Rasanya senang sekali kalau harus membully salah satu sahabatnya.
"Kumenangis," ucap Adit sok dramatis memegang dadanya.
"Brisik amat sih? Ini perpus tau gak?" ketus Ara. Ah ayolah, Ara sangat malas saat berhadapan dengan mereka. Dari dua tahun lalu sampai sekarang mereka tidak berubah ya? Tampang aja dingin, eh nyatanya bobroknya gak ketulungan. Kalau ada Rival, pastinya---. Ekspresi Ara tiba-tiba menjadi datar. Karena lagi dan lagi Rival terlintas di benaknya.
"Key?"
"Apa?"
"Em, gak jadi."
"Oh ya udah," lanjutnya kembali fokus pada buku yang ia baca.
Raka, Adit, Ilham dan Tasya hanya geleng-geleng kepala melihat Ara. Apalagi Raka, bukannya Ara waktu itu benci banget yang namanya buku ya? Kok?.
"Dari pada gue mati cuma liatin Key baca buku mending gue ke kantin ah, Ham? Ikut gak?" Ilham mengangguk. Kalau di pikir kenapa juga mereka berdiam diri di perpus karena mengikuti Ara? Padahal kan mereka adalah salah satu murid yang paling anti yang namanya perpustakaan.
"Yee, pergi aja! Lagian tadi gue cuma ngajak Tasya. Kalian Mala ngikutin gue," ucap Ara sambil menutup bukunya. Sepertinya ia sudah selesai membaca.
"Au ah! Aing mau makan dulu. Yuk," seruh Ilham menarik Adit dengan paksa.
Plak!
"Woi Bambang! Kalau mau ngajak sih ngajak aja, jangan narik paksa guru tau gak? Kalau nanti lengan gue cidera gimana?" kesal Adit sambil menjitak tangan Ilham.
"Kalau loh cidera gak apa-apa kok Dit, loh mah tetep ganteng," ujar Ilham membuat Adit berbinar.
"Ah, apaan sih Ham, gue kan jadi malu,"
"Huuuek, ya amvun. Gue kok jyjyk ya?"
"Apa-apaansih Sya! Perasaan dari tadi sewot aja. Suka ya Lo sama gue?" Sarkas Adit.
"Kalau memang iya kenapa?"
Deg
Tiba-tiba jantung Adit memompa dengan tak teratur, desiran daranya menjadi aneh.
"Ehm, gak usah baper. Canda doang."
"Wkwkwkwkk, Adit di PHP in, njiir."
"Apa sih Sya! Udah bikin gue baper. Eh, malahan bikin gue jadi lembek, sakit neng.''
Entah kenapa Tasya merasa bersalah melihat ekspresi Adit yang berubah tiga ratus enam puluh derajat.
"Baperan loh nying!"
"Yeh, sih Adit jadi sadboy,"
"Yaudah deh Dit, pacaran kuy."
"Hah?" Cengoh Ilham, Raka dan Ara. Kok gak jelas ya? Oh ya Allah.
"Nape loh? Jombloh ya? Wwkwkwkkk," oke fiks. Logika Ara tidak sampai jika harus memikirkan bagaimana hubungan Tasya dan Adit. Akh! Pusing gue.
***
Ting!
Suara nontifikasi dari HP Ara berbunyi.
Babang tamvan🤧🤟
Ra? Loh berangkat pake taksi aja sama Tasya, soalnya kakak masih ada rapat.
Ara mengembuskan napasnya kasar. Udah capek-capek nungguin Angga. Eh, orangnya Mala rapat. Mana dari tadi Ara Nungguin lagi, belum lagi ajakan sahabatnya Raka sama Ilham ia tolak. Emm, Tasya? Dia udah berangkat dari tadi. Katanya mau jalan-jalan dulu sama pacarnya. Namanya juga pasangan baru ye kan?.
"Gue berangkat sendiri nih?"
"Ah, yaudah deh. Yang penting nyampe aja," putusnya kemudian memesan taksi online.
***
Pip pip
"Ah makasih ya pak? Ini bayarannya," ucap Ara dengan memberikan tarif pada sopir taksi tersebut.
"Ya, uangnya kelebihan dek," Ara tersenyum. "Itu buat bapak. Eh, jangan nolak!" Sopir itu mengangguk kemudian mengucapkan terimakasih kepada Ara.
"Ara!!!" Tunggu dulu, suara teriakan itu? Ayah?!. Seketika tubuh Ara langsung menegang. Mana Angga sedang di luar lagi, tamat riwayat loh Ara!
"A---yah? Baru sampai?" Seruh Ara dengan gugup.
"Iya, saya baru sampai. Dan, saya juga rindu nyiksa kamu." Dia tersenyum bak monster yang menakutkan.
Jleb
Ara tersenyum masam saat mendengar perkataan ahir dari ayahnya, Wijaya. Apa katanya? Rindu nyiksa kamu? Apakah dia seorang ayah? Kenapa dia mengatakan hal yang menakutkan seperti itu? Kenapa dia selalu bersikap kejam pada Ara sementara pada Tasya dan Angga begitu lembut?.
"A---yah?"
"Apa!!" Sarkasnya dengan galak.
"Ayah kenapa jahat sama Ara? Ara salah apa sama ayah? A--tau Ara anak haram? Anak angkat? Atau anak pungut. Maka--"
Plak
"Biadab! Apa maksud pertanyaan mu itu hah?!"
Ara masih meringis memegang pipinya yang memanas akibat mendapatkan tamparan keras dari ayahnya. Tak berani menjawab, dia hanya bisa menangis saat ayahnya memperlakukannya seperti ini. Baiklah, Ara pasrah sekarang.
"Ada apa ini? Mas? Ara?" Rini muncul dari dapur karena mendengar suara gaduh dan teriakan. Ah, sepertinya dia paham sekarang.
"Saya pikir kamu sudah mati waktu itu, kenapa kamu masih hidup? Bukannya sebelum kami berangkat ke luar negeri kamu koma? Kenapa kamu tidak mati saja, hah?!"
Plakkk
"Aaaaaaaaaaaaakh, ibu!!!! Lepasiiiiin. Hiks ... Akkkhhh," Ara berteriak histeris saat setelah selesai menampar Ara. Rini menarik rambutnya dengan sangat kencang. Oh ayolah, apa salah Ara sebenarnya?.
Duagh
"Sssshh," rintih Ara saat dengan kasarnya badannya membentur meja yang terbuat dari kayu itu. Badan Ara kini penuh memar, matanya bengkak dan membiru, sudut bibirnya sobek dan hidungnya yang mengeluarkan banyak darah.
"Kenapa waktu itu kamu gak mati, hah?! Kamu itu pembawa sial! Gak pantes hidup tau gak!"
Plak
Belum sampai di situ, Rini menarik rambut Ara yang kemudian menghadiahkan sebuah tamparan kasar di wajah putrinya itu. Ara benar-benar kesakitan, ia tak sanggup menahan perih luka pukulan dari orang tuanya.
Nafas Rini memburuh saat melihat putri bungsunya yang hanya diam tanpa meminta ampun sepertinya biasanya.
"Dasar anak biadab!"
Ara tak bisa berhenti mengeluarkan air matanya saat menerima siksaan dan cacian hina dari orang tuanya. Rasanya kenapa begitu menyesakkan? Apakah Ara sanggup jika harus bertahan lebih lama lagi?.
"Sudah! Hari ini cukup!" Ucap Wijaya sambil menarik tangan istrinya untuk menjauh dari anaknya, Keyra.
Sungguh, Ara tak sanggup melihat tatapan mata membunuh dari orang tuanya, sebesar apakah dendam orang tuanya padanya? Apakah kesalahannya begitu besar?.