Broken Girl

Broken Girl
delapan belas



***


Tak terasa rasa kantuk menghampiri Ara saat sedang asyik-asyiknya nonton drakor dengan di temani lima sahabatnya, camilan dan hujan yang amat deras di luar sana. Ia langsung terlelap tak selang beberapa lama drakor favoritnya itu di mulai, sepertinya suasana ini membuatnya nyaman. Suasana di mana ia mendapatkan kembali kebahagiaan yang sempat hilang karena ia tinggalkan. Di mana ia tak butuh kehadiran orang tuanya untuk mendapatkan kasih sayang, tawa, dan kebahagiaan. Menurutnya bersama dengan para sahabatnya saja ia sudah merasa bahagia.


"Sen?" Kanzi menoel-noel kaki Rasya yang sedang serius dengan drakor yang tengah ia nonton. Ia menengok ke arah Kenzi yang berada di atas lantai. Kenzi mengarahkan tatapannya pada Ara yang membuat Rasya menengok ke arah Ara yang tengah menutup matanya dengan damai.


Melihat wajah polos Ara yang sedang terlelap membuat cetakan senyum sayu di bibir Rasya. Lihatlah betapa damainya Ara saat sedang terlelap. Ah iya, kenangan dua tahun lalu terlintas dalam benak Rasya.


Flashback on


Saat itu tepatnya tanggal dua February 2018 hari saat Rival di makamkan. Ia terbujur kaku dengan wajah yang pucat sebelum di timbun dengan tanah yang basah akibat air hujan. Tangis kehilangan mengiringi saat di sela-sela mayat Rival di masukkan ke dalam kubur. Semuanya menangis histeris saat tubuh Rival mulai di tutup dengan beberapa papan dan mulai di timbun dengan tanah. Ara benar-benar histeris, ia menangis dalam pelukan sahabat-sahabatnya. Tak ada yang lebih hancur selain Ara saat Rival meninggal. Bahkan orang tua dan kakak Rival, Alan. Mencoba menenangkan Ara saat ia meracau dan ingin masuk bersama Rival di dalam kubur. Rival meninggal karena di ajar habis-habisan oleh Bara, lelaki yang begitu mencintai Ara. Ia menghalalkan cara agar bisa mendapatkan cinta Keyra, namun jangankan menerima kehadiran Bara, merespon saat bara memanggilnya pun sangat jarang. Hingga pada suatu hari Bara mengetahui bahwa Keyra suda memiliki kekasih. Jujur saja, Bara benar-benar hancur saat itu. Ia kalut dan langsung bergegas memberikan pelajaran pada sepupunya, Rival. Ia tak telah di tikung, dan kejadian yang sebenarnya adalah Bara hanya memberikan peringatan dan sedikit pelajaran pada Rival. Tapi entah setan apa yang merasukinya hingga kelepasan dan membunuh sepupunya sendiri. Awalnya Bara gemetar ketakutan saat Rival jatuh setelah ia melayangkan pukulan pada bagian dada Rival dan, Rival mati pada saat itu juga.


Semua orang yang hadir di pemakaman itu menangis tersedu-sedu saat melihat betapa histerisnya Ara saat-saat terakhir Rival di masukkan ke dalam kubur. Ia benar-benar kalut hingga nanti butuh beberapa orang untuk menahannya, Rasya, Raka, Aksen dan Alan serta beberapa warga lain mengunci pergerakan Ara agar tak menahan Rival di kuburkan.


Orang-orang melepaskan cekalan mereka pada Ara saat Rival sudah benar-benar terkubur terbukti dari batu nisan yang tertuliskan nama Rival binti orang tuanya beserta waktu lahir dan wafatnya.


"Rivaaaaaaaaaal!!!"


"Loh lagi prank gue kan? Loh ngerjain gue kan? Hahaha, loh keterlaluan ******!!! Bercanda loh gak lucu tau gak? Hiks ...."


Raka yang tak tega melihat Ara yang sedang menangis lirih dengan memeluk nisan Rival, segera memeluknya erat untuk memberikan ketenangan. Tenaga Ara waktu itu benar-benar habis, ia terlalu lelah untuk meracau dan menangis lagi, ia lelah! Sangat lelah.


"Hiks ... Dia janji mau beliin gue bakso ama seblak ujung pekan, katanya mau makan bareng gue ... Tapi, dia ninggalin gue, jahat banget tau gak!? Dia ninggalin gue pas lagi sayang-sayangnya. Dia hancurin hati gue! Dia kejam tau gak!" Lirih Ara yang tengah berada di dalam dekapan Raka, sahabatnya.