Broken Girl

Broken Girl
tujuh belas bagian 2



Ara langsung melotot saat orang yang memanggilnya tadi langsung berlari ke arahnya kemudian memeluknya erat. "******! Gak bisa nafas gue," Rasya langsung melepaskan pelukannya saat mendengar keluhan dari Ara. Ya, orang itu adalah Rasya. Kakak kelas Ara yang sebenarnya anggota dari The Devil.


"Udah gue duga, ini emang loh Key! Gue udah selidikin loh pas dengar pak Angga menghukum Dinda, Sindi, sama Aina tentang pembullyan. Sumpah! Udah dua tahun kita nyariin loh dan gak taunya loh satu sekolah sama kita. Gue gak nyangka banget tau gak," Ara tersenyum manis mendengar ocehan manusia di hadapannya ini. Jujur saja, ia sangat rindu dengan suasana dulu. Di mana saat ia tersiksa dengan sikap keluarganya ia bersandar pada sahabat-sahabatnya. Ya, anggota dari Genk The Devil. Selogan The Devil di ambil karena saat ketua Genk yakni Ara ketika sedang marah, akan menyerupai setan yang tak ada ampun pada musuhnya.


"Heheh, loh gak berubah Ras, tetap aja banyak bacot."


"Yang penting ganteng aja dah cukup.''


"Tapi ..." Rasya menjedah kalimatnya.


"Kenapa?"


"Tampilan loh sama yang dulu bedah ya? Dulu itu loh kek laki banget. Sekarang agak mendingan deh," Rasya menatap tampilan Ara dari atas sampai bawah.


"Apa sih," kekeh Ara.


"Loh gak mau ke basecamp? Anak-anak pasti kangen banget sama loh."


Ara berpikir sejenak kemudian mengangguk. Ia melupakan tujuan sebenarnya adalah pergi ke kelas Tasya dan pulang ke rumah. Ah, tidak ada salahnya senang-senang sedikit. Rasya tersenyum saat melihat Ara mengangguk, ah ia sangat menyayangi Ara layaknya seorang adik. Tapi, pada saat mode normal aja ya? Kalau mode ngamuk bukan adik lagi tapi setan. Wkwkwkk.


Untunglah sudah waktunya pulang jadi, tidak terlalu banyak murid yang berada di sekolah, kalau murid masih banyak pasti akan menjadi perbincangan hangat.


"Nih," seruh Rasya memberikannya helm pada Ara. Ara menerimanya kemudian langsung menaiki motor Rasya. Ah, dia kangen suasana ini.


***


Pip pip


Bunyi klakson motor berbunyi membuat segerombolan cowok yang sedang mabar gem langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah bunyi klaksonan motor dan ...


"Woi, si bu bos.'' Dia Rehan, cowok yang berteriak histeris saat melihat kedatangan Ara bersama dengan Rasya. Mendengar suara nyaring Rehan, semua cowok itu langsung menatap ke arah Rasya dan Ara. Ya, dan benar saja. Itu memang Ara, gadis yang menyembunyikan diri dua tahun ini.


Empat cowok itu langsung berhamburan ke pelukan Ara. Mereka Rehan, Putra, kenzi dan Aksen.


"Gue gak bisa nafas njiing," teriak Ara saat empat cowok lebai itu memeluknya erat.


"Hehehe, maaf bu bos. Soalnya gue kangen banget, udah dua tahun gak ketemu," cengir Kenzi. "Iya loh, dari mana aja sih?" tanya Rehan. "Terus kenapa gaya pakaian jadi kayak gini. Terkesan lucu-lucu games gimana gitu," gemes Aksen memperhatikan gaya pakaian Keyra.


"Tau gak sih? Si Key jadi nerd di sekolah. Dan lebih parahnya lagi, satu sekolah sama gue," Rasya dengan ekspresi wajah anehnya mencoba mencerna kata-katanya sendiri. Jujur saja ia bingung.


"Hah?" Cengoh mereka yang tak menyangka dengan ucapan Rasya. Lalu mereka langsung menatap ke arah Ara seakan meminta jawaban. Ara kikuk melihat ekspresi mereka. Ya, walaupun mereka sahabat tapi entah kenapa rasa canggung menghampiri Ara. Mungkin efek dari perpisahan selama dua tahun, mungkin.


"Gue butuh nenangin diri buat lupa insiden itu. Insiden yang berhasil ngerenggut nyawa orang yang paling gue sayang sekaligus bersama jiwa gue. Haha, gue terlalu sok dramatis ya?" ujar Ara saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya. Terkesan narsis menurutnya.


"Jadi keputusan loh apa? Balik lagi jadi Key yang dulu atau hidup sebagai Key yang baru?" tanya Rehan. Ara menggeleng sambil menghembuskan nafasnya. "Gue akan kembali ke kehidupan gue yang dulu, tapi secara perlahan. Gue lelah jadi Key yang menjelma dengan sebutan nama 'ARA' gadis lugu yang terkesan lemah di mata semua orang," ucap Ara menekan kata ARA, panggilan orang-orang yang tidak mengenal siapa sosoknya sebenarnya. "Caranya?" Sambung Kenzi.


"Tunggu aja waktunya, gue bakal nunjukin gue yang sebenernya dan ngebantai orang-orang yang udah jatuhin harga diri gue," Ara menyeringai membuat ke lima cowok yang ada yang di sampingnya bergidik ngerih. "Jangan bercanda Key," Ara menengok ke arah Aksen yang sebenernya memang ragu dengan apa yang di ucapkan Ara. "Aksen Aksen, loh adalah cowok terpeka yang gue temuin. Hahaha," Ara benar-benar tertawa keras membayangkan gidikan ngerih dari cowok disampingnya, yang kecuali Aksen. Dia benar-benar pintar. Ya itu merurut Ara.


Kenzi, Putra, Rasya dan Rehan menghelah nafas lega. Mereka terlalu ngerih saat membayangkan perkataan Ara tadi benar-benar ia lakukan. Ara terlalu tidak cocok di sebut sebagai manusia saat sedang marah. Julukan iblis sedikit pantas pada saat langsung menyaksikan Ara yang berantem bak orang kesetanan, sehingga para anggota The Devil kadang kualan dengan mencoba mengendalikan Ara di bandingkan melawan musuh.


Tes tes


Hujan mulai turun bercucuran membuat Ara mendongak langit sekilas berwarna abu-abu kelam. Suasananya pas jika untuk merindu.


"Key? Ngapain di sana? Mau basah kuyup?" Ara menggeleng kemudian berlari ke arah teman-temannya yang tengah berteduh.


"Key? Loh ke kamar aja ya? Pulangnya bentar aja, masih hujan soalnya."


"Kalian mau kemana?"


"Mau beli perlengkapan. Hehehe, soalnya gak nyangka bakal hujan. Dan, karena hujannya lumayanlah lebat kayaknya lebih baik kalau ngemil sambil ngenang masa lalu gitu. Bukan apa-apa stok Snack nya abis," ucap Rasya dengan kekehan.


"Ada Kenzi, Rehan sama Putra kok, jadi gak usah khawatir," Ara mengangguk samar kemudian tersenyum. "Titip seblak sama bakso," Aksen dan Rasya mengangguk kemudian menjalankan motornya berlalu dari basecamp.


Ara masuk ke dalam kamar yang berada di basecamp itu, sesuai instruksi dari Aksen yang menyuruhnya untuk menunggu di kamar saja. Karena Aksen paham, Ara sedikit benci dengan kebisingan dan tau lah ketiga temannya ini sangat berisik. Bisa enek si Ara ngeliatin mereka. So, pilihan terbaik adalah masuk ke kamar kan.


Ceklek


Ara membuka pintu kamar itu dengan perlahan, mendadak dadanya perih, memorinya berputar pada masa dua tahun yang lalu. Bagi ia dapat melihat jelas Rival yang tertawa keras karena mendengarkan candaan dari Adit dan Rehan. Ara tersenyum miris, ingin sekali ia memeluk Rival sekarang. Tapi sayang, Rival berbeda dimensi dengannya.


Perlahan ilusi ini menghilang di gantikan dengan ruangan yang sepih yang terlihat buram.


"Gue rindu ..." lirih Ara dengan senyuman nanar.


"Ini yang gue takutin balik ke sini, gue selalu kebayang loh Val. Ilusi loh seolah nyata tau gak."


Pandangan Ara teralihkan pada tataan di setiap sudut ruangan. Benar-benar tertata rapih, semuanya tidak berubah, masih sama dengan pandangan dua tahun lalu.


"MAKANAN DATANG!" Ara membalikkan badannya saat mendengar teriakkan dari Aksen. Ah, sepertinya mereka sudah sampai. Dengan langkah gontai Ara keluar dari kamar dan langsung menghampiri Rasya dan Aksen, ralat! Bakso dan seblaknya.


"Nonton Drakor yuk," seruh Ara mengambil remote TV dan langsung menonton drama kesukaannya.


Lima lelaki itu hanya bisa mengangguk setuju dan mengikuti Ara yang sudah duduk di tempatnya.