Broken Girl

Broken Girl
empat belas



***


Setelah merasa orang tuanya sudah cukup jauh dari pandangannya. Ara mencoba bangkit dengan tertatih-tatih. Akh, rasanya badannya remuk semua.


***


Melihat dengan tatapan nanar ke arah pantulan wajahnya di cermin. Rasanya hatinya begitu mencelos, lihatlah matanya yang bengkak dan membiru, sudut bibir sobek, dan hidungnya yang mengeluarkan darah.


"Val? Lo lihat kan? Loh lihat kan? Hah?! Jawab gue bego! Woi?! Kenapa loh ninggalin gue hah?! Siapa yang udah nginjinin loh buat ninggalin gue sendiri? Nggak ada kan? Terus kenapa loh ninggalin gue hmmm? Val? Kenapa Val!! Hiks ..." Ara menjedah kalimatnya dan mengambrukkan tubuhnya ke atas lantai. Menangis, tertawa dan berteriak secara bersamaan. Ara benar-benar hancur Bahkan sangat. "Seenggaknya kalau mau pergi pamit ke gue, biar gue bisa ikut. Padahal loh tau kan? Manusia yang peduli banget sama gue di dunia itu cuma loh, hanya dan emang cuma loh! Terus kenapa loh ninggalin gue sendiri, hah?!"


"Hiks ... Val, jemput gue. Gue mau mati. Gue gak mau hidup, hidup gue terlalu menyedihkan tau gak? Gue gak sanggup kalau harus kayak gini terus. Orang tua gue gak pernah inginin keberadaan gue, mereka mau gue mati Val, makannya jemput gue. Valllll!!!!!!!" Ara menangis dan berteriak sejadi-jadinya. Untung saja kamarnya kedap suara jadi, tidak ada yang bisa mendengar rintihan tangisnya. Biarlah ruangan kedap suara ini yang menjadi saksi betapa hancurnya seorang Keyra di setiap saat.


"Val? Rivaaaaaaaaaal! Hiks ... Loh kejem tau gak! Kenapa loh ngelakuin ini ke gue. Gue tersiksa Val hiks ..."


Ara bangkit dari keterpurukannya. Lagian untuk apa ia meracau menangis? Apakah dengan ia melakukan itu ia akan mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya? Atau Rival akan kembali? Tidak bukan? So, untuk apa?.


Ara berjalan tertatih-tatih ke kasurnya. Duduk di tepi kasur kemudian membuka laci dan mengambil beberapa pil penenang dan pil tidur.


"Gue capek, jadi gue minum ini dulu ya?"


Setelah selesai meminum pil itu, Ara merebahkan tubuhnya di atas kasur. Menatap ke arah langit-langit yang mulai buram dalam penglihatannya dan akhirnya kesadarannya sepenuhnya hilang.


***


"Kak?"


"Iya?"


"Sih Keyra mana? Bukannya bareng kakak?" Angga mengangkat bahunya. Ia tak tau, sebenarnya Ara tidak pulang bersamanya karena ia sedang rapat dan tidak mau membuat Ara menunggu. Makannya ia menyuruh Ara untuk naik taksi saja.


"Tadi kakak rapat jadi, kakak nyuruh dia naik taksi."


"Ara udah pulang dari tadi," tiba-tiba Rini muncul dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman dan di letakkannya di atas meja.


Angga memicingkan matanya menatap ibunya. "Ibu gak ngapa-ngapain Ara kan?"


"Cuma kasih penyambutan sedikit aja," entengnya sambil meminum minuman yang ia bawah tadi.


"Keyra punya nama Bu," sarkasnya.


"Kenapa kamu tiba-tiba kaya gini sih? Kenapa kamu kayak gak suka saat ibu coba ngejelekin anak itu? Biasanya kamu biasa aja dan malahan kamu ngedukung ibu."


"Bu, cukup ya? Awas aja kalau Keyra kenapa-kenapa. Angga gak akan tinggal diam. Dia itu anak ibu sama ayah dan dia juga adik Angga Bu. Dia punya hak buat dapat kasih sayang, Wala hanya sedikit Bu, Angga mohoh."


"Anak itu gak guna Angga!"


"Kalau gak guna ngapain ibu ngelahirin dia?"


"Angga!" Rini kehabisan kata-kata, ia kecewa dengan perubahan sikap Angga yang sepertinya cenderung ke arah Ara. Rini beranjak dari hadapan dua anaknya itu dengan hati yang sulit di jelaskan. Yang jelas ia sangat marah, dan marahnya itu pada Ara. Anak yang sedang tertidur di kamar dan tak tahu apa-apa.


***


"Mas?"


Wijaya yang berada di tepi kolam dan pembaca koran langsung menghentikan kegiatannya dan menatap istrinya.


"Kok cemberut?"


"Masa sih mas, Angga marah pl gara-gara tau kita ngasih pelajaran dikit tadi sama Ara. Emangnya salah ya? Anak itu memang gak boleh di manjain, kan udah setengah bulan kita gak mukul dia. Tangan aku tuh gatel kalau gak mukul dia tau gak!" Wijaya menatap istrinya yang sudah berumur itu dengan tatapan lucu. Padahal istrinya itu sudah berumur tapi kenapa ia sangat imut?.


"Jangan marah-marah. Entar keriput tau rasa.''


"Mas ih.''


"Udah gak usah ngebahas anak biadab itu. Mending kita mesra-mesraan aja.''


"Kita udah hampir punya cucu, tapi kamu masih aja mesum."


"Kamu sih."


Ya, begitu lah. Kasih sayang seorang suami yang Wijaya berikan pada istrinya, Rini. Dan, ia juga merupakan tipe ayah yang ideal selalu mengerti kemauan anaknya dan menuruti semua keinginan mereka. Tapi, di garis bawahi ya?. Hanya untuk Tasya dan Angga Wijaya berperilaku seperti malaikat. Tidak dengan Ara, dia bagaikan iblis yang dengan senangnya menyiksanya putri bungsunya.


***