Broken Girl

Broken Girl
sepuluh



***


"bang?"


"Iya? Key butuh apa?"


"Mmm, gak jadi deh," Alan mengerutkan keningnya, bingung.


"Eh Key, hari ini kamu udah bisa pulang." Ara mengangguk, aish! Rasanya malas jika harus bertemu dengan orang tuanya di rumah. Dia sedikit muak menerima kenyataan bahwa orang tuanya tak menjenguknya setelah sebelas hari di rawat. Yang datang hanya Angga dan Tasya. Kemana ayah dan ibunya?


"Lah? Ko murung? Harusnya Key itu bahagia karena setelahnya sekian lamanya dirawat Key akhirnya bisa pulang," Ara mengangguk patuh.


"Key boleh nginep di rumah abang nggak?" Kali ini Ara sudah berani mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya. Alan melirik sekilas kemudian fokus kembali pada kegiatannya yang sedang menulis beberapa resep obat yang harus Ara minum.


"Gak boleh!"


"Abang gak seruh ah!" Alan menyelesaikan kegiatannya kemudian menatap lekat wajah Ara yang kini ia tekuk, kesal.


"Key kan tau, semenjak Rival meninggal abang udah tinggal sendiri karena mama sama papa pindah ke London. Kalo Key tinggal di rumah, entar siapa yang nemenin? Kan Key tau Abang sibuk," Ara mengangguk pelan.


Melihat raut wajah Ara yang sedikitnya murung membuat Alan merasa bersalah. Sebenarnya ia akan senang ketika Ara tinggal di rumahnya, agar nantinya pas Ara sakit dia langsung menanganinya. Tapi, disini situasinya berbeda, Alan sangat sibuk. Ia tak mau kalo Ara tinggal bersamanya, Ara akan kesepian. Dan, Alan tidak mau itu.


"Ya udah deh, gak apa-apa. Key ngerti," Akan tersenyum kemudian membelai rambut Ara dan menciumnya.


"Nanti kalo abang ngambil cuti, Key bakal abang ajak liburan," Ara mendongak menatap wajah Alan dengan antusias. "Bener? Abang gak bohong kan?" Alan mengangguk.


"Yeeaa, hore. Abang emang terbaik," Alan tersenyum geli saat Melih raut yang amat bahagia di wajah Ara. Baginya Ara adalah titipan Rival yang sangat berharga. Oh iya, Rival pacar Ara yang meninggal itu punya kakak. Nah, kakak itu Alan. Dokter yang bersama Ara sekarang, dia sangat menyayangi Ara karena selain Rival menitipkan wasiat padanya untuk menjaga Ara. Alan juga memang sudah menyayangi Ara sebagai adik kandungnya.


Ceklek


"Hai," sapa Angga tersenyum ke arah Alan dan Ara.


"Udah siap Ra?" Ara mengangguk pelan.


"Yaudah, pulang yuk," Angga mengambil barang-barang Ara yang terletak di atas meja. Angga tersenyum melirik ke arah Alan yang tengah tersenyum menatapnya.


"Titip adek gue, jangan sampai dia kembali lagi di sini dengan keadaan yang sama. Usahakanlah pas dia ngunjungi tempat ini tujuannya mau memuji gue buka karena sakit." Angga mengangguk dan menepuk pundak Alan. "Gue kakaknya. Jadi, tenang aja."


"Ayok Ra."


Entah, Ara bingung. Bingung harus berekspresi bagaimana menghadapi kehidupannya sebentar, apakah ia akan bahagia karena kakaknya sudah baik padan atau? Ah ayolah, Ara sangat bingung memikirkannya.


Ara tersenyum canggung saat melihat Angga yang mendadak perhatian bahkan terkesan memanjakannya. Apa Angga benar-benar berubah? Ah entahlah, Ara cukup ragu tentang itu.


"Kenapa Ar?'' tanya Angga karena sedari tadi Ara menatapnya dengan tatapan yang membalasnya tidak nyaman.


"Ah, enggak kak."


"Oh yaudah, kamu tiduran dulu. Soalnya jalan macet pasti bakal lama kita sampainya." Seruhnya sambil membelai rambut Ara. Ara tersenyum tipis karena perlakuan lembut Angga.


***


"Ra? Bangun, dek?" Angga mengusap lembut rambut Ara untuk membangunkannya karena mereka sudah tiba di halaman rumah.


"Ra?" panggil Angga dengan selembut mungkin agar Ara terbangun dengan damai. Namun, Ara tak kunjung bangun. Ara masih setia memejamkan matanya, sepertinya tidurnya sangat lelap. Entahlah, tiba-tiba Angga merasakan udara menusuk yang menerpa hatinya saat mendengar dengkuran halus dari Ara. Pikirannya menerawang perilakunya dulu saat membangunkan Ara, dia pasti akan memabanting tubuh Ara di kamar mandi kemudian akan ia sirami dengan air dingin hingga membuat Ara terbangun. Rasa bersalah itu muncul lagi, kenapa dia begitu kejam? Oh Tuhan, tolong maafkan Angga.


Dengan elusan lembut pada rambut Ara, yang Angga berikan seketika membuat tidurnya semakin nyeyak. Ia nyamannya dengan sentuhan lembut sang kaka. Bagaimana tidak, selama ini jangankan mendapatkan kasih sayang kakaknya. Ia mala sering di siksa dengan berbagai macam cara kekejaman entah dengan kata-kata menusuk atau bahkan pukulan fisik. Kalau di tanya apakah Ara lelah? Tentu saja bukan? Bahkan dulu Ara pernah mencoba membunuh dirinya. Tetapi, gagal karena Rival, Raka, Adit dan Ilham sudah menyelamatkan nya sebelum kejadian itu terjadi.


Ok, back to topic.


Dengan perlahan Angga menggendong tubuh Ara dengan hati-hati agar sekiranya Ara tak terbangun karena tindakannya. Angga tersenyum tipis melihat wajah Ara yang sedang di peluknya. Ternyata adik bungsunya memiliki wajah yang menarik. Ara sangat cantik menurutnya. Tiba-tiba senyum tipis Angga tergantikan dengan senyuman nanar. Aish, dia perna menampar wajah adiknya dengan keras hingga pipinya membengkak dan meninggalkan bekas biru.


***


Ara mengerjapkan matanya dengan perlahan, ia menelisik ruangan tempatnya berada sekarang. Ah, dia sedikit asing dengan tempat ini. Tunggu, sepertinya dia pernah ke sini. Mata Ara melotot seketika menyadari bahwa ini adalah kamar kakaknya, Angga. Kenapa dia tidur di sini? Kalau Angga tau bagaimana? Aish! Ia sungguh ceroboh dan ia akui itu.


Dengan pikiran yang kacau saat membayangkan ekspresi wajah marah dari keluarganya saat mengetahui ia tidur di kamar kakaknya sudah merasa badan Ara panas dingin. Ya, mendadak ia demam. Apakah karena rasa cemas yang berlebihan? dan lihatlah kepalanya mendadak pusing. Ara menggelengkan kepalanya agar pusingnya sedikit redah. Kenapa dia bisa demam dadakan?.


Ceklek


Denyutan suara pintu yang terbuka seketika memberikan Ara menegang di tempat. Kini rasa cemaskan kian bertambah dan rasa pusing di kepalanya kian membuncah. Rasa sesak di dadanya kian menghampirinya.


"Ara?" Entah sejak kapan Angga berdiri dihadapan dan memanggil namanya. Ara mendadak tegang di tempatnya.


"Maaf kak, Ara nggak tau kenapa Ara bisa tidur di kasur kak Angga. Sumpah kak Ara juga nggak ngerti, jangan hukum Ara kak, Ara mohon. Ara sakit, Ara gak kuat kalau harus dapat cambukan atau pukulan dan di kurung di kamar mandi. Kak, ampun kak. Ara nggak bakal ngulangin lagi. Ara janji ... Hiks ... Ara minta maaf,"


Ara menutup matanya sambil memeluk kaki Angga berharap agar Angga luluh dan tidak menghukumnya malam ini.


"Wake up" pelan dan lembut. Tutur kata yang Angga ucapkan membuat Are menghapus air matanya kembali berdiri sesuai perintah Angga.


"Siapa yang nyuruh Ara ada disini?"


"Emm, maaf."


"Kalau ngomong sama kakak harus sopan! Kenapa menunduk?" Ara perlahan mendongakkan wajahnya menatap Angga. Karena takut akan amukan sang kakak ketika perintahnya di abaikan.


"Balik ke tempat tidur!" Ara mengangguk kemudian mulai beranjak dari tempat ia berdiri namun, tiba-tiba Angga mencekal tangannya.


"Kenapa kak?"


"Mau kemana?"


"Mau kekamar Ara kak," Angga menghembuskan nafasnya memburu. Sepertinya Ara belum terlalu menyadari kejadian selama beberapa hari ini.


"Jangan keluar!" Ara mendongak menatap Angga dengan bingung. Tadi katanya balik ke tempat tidur.


"Kan kata kak Angga, Ara di suruh balik ke tempat tidur."


"Di sini juga ada tempat tidur kan? Kenapa harus ke kamar Ara?"


"Maksudnya?"


"Anak dongkol! Masa gitu aja gak paham. Di sekolah aja rangking umum. Kok bego si?" ucap Angga menjitak kepala Ara. Ara yang sudah hapal dengan kata-kata pedas dan perlakuan kasar sang kakak kian memaklumi saat Angga menjitak kepalanya. Tapi, tunggu rasanya ada yang aneh.


Tiba-tiba tubuh Ara seperti melayang saat Angga menggendong tubuhnya ala brid style. Matanya melotot dan dadanya bergerumuh hebat. Apakah Angga akan membantingnya di kamar mandi? Seperti yang ia lakukan sebelum-sebelumnya?. Angga yang merasakan tubuh Ara bergetar hebat langsung menatap adiknya yang menutup matanya. Sepertinya adiknya ketakutan. Mendadak Angga menjadi khawatir saat kening Ara menyentuh dadanya, rasanya hangat. Ara demam? Angga langsung kalut kemudian langsung meletakkan tubuh mungil Ara di atas kasur dengan perlahan.


"Ra? Demamnya kapan? Perasaan pas tadi Ara baik-baik aja loh," lirih angga mengecek tubuh Ara yang benar-benar panas.


"Tasya?!" Angga berteriak meminta adiknya yang lain. Untung saja hari ini hanya Tasya, Ara dan Angga yang berada di rumah. Ayah dan ibunya sedang berada di luar negeri karena tuntutan pekerjaan.


Tasya yang sedang enak-enakan menyantap makanan terganggu saat sedang lahapnya memakan masakan yang Angga buatkan tiba-tiba ada yang berteriak memanggil namanya. Aish! Kenikmatan yang tertunda.


Tasya mendengus kesal kemudian berjalan ke arah orang yang berterima memanggilnya.


"Apa?"


"Ara? Ara kenapa kak?" Tasya syok saat melihat Ara yang sedang gemetar di dalam dekapan Angga.


"Ambilin kompresan. Cepat! Ara demam tinggi," pinta Angga. Tasya memangguk dan kamudian mengambilkannya yang Angga maksud.


"Ara kenapa demam? Kayaknya pas pulang dari rumah sakit dia sehat wal afiat."


Angga yang tengah mengompres dahi Ara menggeleng lemah. Ia tak mengerti juga kenapa Ara bisa demam tiba-tiba.


"Apa jangan-jangan kak Angga mukul Ara lagi?" Tasya mecingkan matanya menelisik secara detail kakaknya yang ada di hadapannya.


"Kalau gue mukul Ara gue gak akan sekhawatir ini," selahnya yang di angguki Tasya. Karena sangat jelas terdapat ekspresi khawatir, takut dan ibah di sana. Tidak mungkin kan kalau Angga memukul Ara?.


Ara yang masih sadar saat mendengar perbincangan kedua kakaknya kian bingung. Ada apa ini sebenarnya? Dia pikir dia sedang bermimpi Angga berubah saat ia masuk rumah sakit. Apakan ini juga penggalan mimpinya?


"D--ingin," entah keberanian dari mana. Mulut Ara dengan lihai mengucapkan kata itu.


Angga yang mendengar keluhan dari Ara langsung memandangnya dengan tatapan khawatir. Padahal AC ataupun alat pendingin sudah Angga matikan kenapa Ara masih mengeluh dingin?. Bahkan ia sedang memakai selimut yang tebal sekarang.


"Sya? Gimana nih? Bantu kakak dong. Ara kedinginan padahal dia pakek selimut kakak yang paling tebal loh," tiba-tiba cairan bening itu dengan lancangnya keluar dari pelupuk matanya. Dia takut, takut dengan keadaan Ara yang begitu lemah. Kenapa ia tidak menyadarinya sejak lama? Bahwa adiknya adalah sosok rapuh yang harus dilindungi, kenapa ia mala menyakiti?.


Tasya memandang kedua saudaranya ini dengan air mata berlinang. "Tasya gak tau ... Hiks ..."


"Ara mau di peluk kak Angga gak? Biar agak angetan."


"Ara takut," kata-kata yang paling menusuk di telinga Angga. Sungguh! Seakan hatinya teryayat saat itu juga.


Ara membuka matanya, pusingnya sedikit meredah saat mendapat kompresan dari Angga.


"Jangan kayak gini. Kakak takut, kakak nggak mau Ara kenapa-napa."


Ara menangis saat Angga memeluknya dengan air mata. Aish! Kenapa mimpinya seperti sangat nyata? Tunggu, apakah ia suda mati? Dan, ini semua hanya ilusi yang tuhan berikan padanya? Kalau iya, Ara mohon jangan pernah Bangunkarta Ara.


"Kak, sesak." Keluhnya karena Angga memeluknya erat.


"Tadi katanya dingin, sekarang masih dingin?" Ara menggeleng. Tercetak senyum legah di sana.


"Ara makan ya?" Tawar Tasya, ara mengangguk kemudian Tasya beranjak dari tempat duduknya beralih mengambil bubur ayam yang Angga letakkan di atas meja.


"Kak Angga boleh suapin Ara nggak?"


"Heheh, gak bisa ya? Maaf deh kak, gak jadi. Tadinya Ara pikir mimpi Ara bisa Ara kendaliin,"


"Hah?!" Cengoh Tasya dan Angga yang kebingungan.


"Iya, mimpi. Mimpi ini bakal Ara ingat dan perlu Ara cetak di buku Ara. Supaya Ara gak lupa tatapan khawatir dan senyum hangat kak Angga."


"Ara seneng kak Angga di mimpi ini tau gak? Di dunia nyata kak Angga itu ibarat iblis buat Ara. Dia kejam tapi gak apa-apa. Ara tetap sayang kak Angga," Ara tersenyum di balik wajah pucat itu.


"Mmm, tapi masa ayah sama ibu gak ada sih? Kan ---"


PLeTak!


Belum sempat ucapan Ara ia lanjutkan. Ia suda mendapat jitakan dari orang yang ada di hadapannya.


"Masih yakin ini cuman mimpi? Padahal Ara tidurnya baru lima jam. Eh, mendadak amnesia Ama demam,"


Ara melotot saat mendengar suara berat dari orang yang di hadapannya. Ah tunggu, jadi ini nyata?


Ara kemudian menatap kakaknya dengan lekat. Benarkah ini nyata?.


"Nih kak buburnya. Udah dingin dikit nih, mau yang baru?"


"Coba tanya Ara."


"Ra? Mau bubur baru atau ini aja?"


"Yang ini aja,"


"Ya udah, sini kak Angga suapin." Ara menggelengkan.


"Kenapa? Kak Angga nggak ngaruh racun loh."


"Masih gak percaya nih anak kalau kakaknya yang paling ganteng udah berubah. Goblok di pelihara!"


"Ara gak jadi makan. Ara mau tidur aja." Potongnya dengan cepat.


"Oh ya udah." Ucap Angga memberikan kembali piring bubur itu pada Tasya.


"Kita tidur bertiga. Sekasur, eits ... Gak ada penolakan! Siapa yang gak mau bakal kak Angga ceburi di kolam renang malam ini juga."


Tasya bergeming kemudahan langsing naik di atas kasur dimana Ara sudah ada di sampingnya.


Angga tersenyum simpul kemudian naik di atas kasur. Ia menempati dirinya berada di tengah, agar bisa memeluk kedua adiknya sekaligus.


"Udah! Sekarang tidur! Besok pagi kita sekolah," ucap Angga mengecup kening adiknya satu persatu.


"Selamat tidur my sister."