
Semua sahabatnya lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain di bandingkan harus melihat sahat wanita yang benar-benar mereka jaga tengah hancur kehilangan kekasihnya. Kekasih yang memberikan ketenangan padanya kini telah pergi ke pangkuan illahi. Ia pergi meninggalkan beribu bahkan berjuta kenangan dan air mata.
"Rival udah pergi Key, loh harus ikhlas," Ara hanya menggeleng tak terima saat Raka mengucapkan kata-kata yang tak bisa ia terima. Dia sangat mencintai Rival, tolong kembalikan Rival untuknya, Ara akan berjanji memberikan apapun bahkan hidupnya. tapi ia minta satu hal, jangan pisahkan ia dengan Rival, sekali lagi jangan.
Flashback end
Kelima sahabat Ara mendapatkan tugas masing-masing saat melihat Ara terlelap. Rehan bertugas mengambilkan selimut, Rasya menggendong Ara ke kamar, Putra membereskan sisah-sisah makanan yang berceceran, Kenzi mematikan TV dan Arsen menyiapkan tempat tidur agar nantinya Ara nyaman dan tak terusik.
"Kayaknya malam ini kita harus nginap di basecamp deh, gue gak mau ninggalin Ara sendirian," usul Arsen yang di balas anggukan oleh sahabat-sahabatnya.
"Iya, gue juga udah izin. Emm, loh gimana mana Ras?" tanya Kenzi pada Rasya yang terlihat tengah menimang-nimang keputusan. "Kayaknya gue juga nginap deh," putusnya.
Akhirnya mereka semua memutuskan untuk menginap di basecamp untuk menemani Ara. Mereka terlalu takut kalau Ara kenapa-kenapa cukup dua tahun lalu merek melihat hancurnya Ara. Untuk sekali jangan lagi.
***
Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, namun Ara belum menunjukkan tanda-tanda untuk pulang yang membuat Angga khawatir setengah mati. Bagaimana kalau Ara sedang kenapa-kenapa? Aish! Ara kemana sih?.
"Kak, duduk dulu. Tasya malah tambah pusing liat kak Angga yang mondar-mandir gak jelas tau gak!" tegur Tasya pusing karena memikirkan Ara di tambah dengan Angga yang mondar-mandir di hadapannya memberikan pusingnya Demak menjadi-jadi.
"Arrrgh, Ara di mana sih? Udah malam, hujan lebat lagi. Kenapa tuh anak gak pulang sih? Dia gak tau apa gue khawatir banget," teriak Angga frustasi mengacak rambutnya. Untung saja orang tuanya belum sampai karena di luar sedang hujan lebat jadi, tak ada yang bisa menegurnya karena mengkhawatirkan Ara.
Tasya menggeleng, ia juga bingung sebenarnya Ara kemana? Bukankah ia sudah janjian bersama Ara untuk menemui di kelas? Akh! Ini salahnya, kenapa ia tak muncul di hadapan Ara tadi pagi? Tasya terlalu fokus dengan tugasnya hingga melupakan keberadaan adiknya.
"Kak Angga gak liat Ara tadi di sekolah?"
"Tadi dia itu ngobrol sama Raka pas mau masuk kelas dan setelah itu gua gak ngeliat dia. Dan, gue liat Raka, Ilham sama Adit juga pulang bareng dan gak ada Ara sama mereka," jelas Angga yang sudah frustasi memikirkannya keberadaan adiknya, mana di luar hujan lebat lagi.
***
Ara terbangun dari tidurnya saat mendengar kokokan ayam. Ia mengerjapkan matanya dan menatap sekeliling, ruangan ini seperti tak asing. Ah, ia Ara ingat ia kan berada di basecamp.
"Eh," Ara terkejut saat hampir saja menginjak Kenzi yang sedang terlelap di atas lantai. Dan betapa terkejutnya Ara saat melihat keempat sahabatnya yang tertidur di atas lantai tanpa beralaskan apapun.
"Dah bangun?" Ara menoleh saat suara serak Rasya terdengar. Ara tersenyum kecil mengangguk. "Kok mereka tidur di lantai?" tanya Ara yang hanya di balas senyum oleh Rasya.
"Kok senyum sih? Di tanyain juga," kesalnya sambil memukul lengan Rasya dengan kuat sehingga membuat sang empuh meringis. "Kita lebih milih kedinginan di bandingkan harus biarin loh tidur kesepian di dalam kamar, end biar kalau ada apa-apa kita langsung berdiri aja gak pake lari-larian lagi, heheh," Ara menatap haru ke arah Rasya, dia benar-benar tersentuh dengan ucapan dari Rasya. "Ih soswit banget sih! Awas kalau gue jatuh cinta gimana?" ucap Ara dengan wajah genit yang di buat-buat.
"Ternyata loh gak berubah ya? Narsisnya minta ampun," sewot Rasya dengan gaya angkuhnya.
"Gue beneran gak berubah kok Ras, karena gue itu bukan kyuranger, utramen, apalagi Kamen raider. Gue manusia biasa jadi gak akan berubah, loh tenang aja," Rasya menggeleng tak menyangka mendengar ucapan Ara yang terkesan ngawur.
"Gak gitu konsepnya Key."
"Lah? Suka-suka gue lah. Kalau sewot liat aja nanti gue keluarin jutsu gincuriki kyubi gue dan rasenggan. Gue abisin loh."
"Terserah loh deh Key, loh makin kesini ucapannya makin gak jelas tau gak!"
"Si bambank ribet banget sih?"
"Brisik banget sih Key! Hoaaaam," Kenzi yang terbangun mendengar debatan yang terkesan tak jelas oleh Rasya dan langsung menegur mereka. Enak saja orang yang sedang enak-enakan tertidur malah di tanggal.
"Gak kok Key, gue gak kebangun."
"Terus yang ngomong sama gue siapa dong?"
"Makhluk halus," Ara dan Rasya langsung tertawa mendengar jawaban Kenzi. Sepertinya tidurnya memang terganggu akan suara bising Ara dan Rasya.
"Dah ah! Mau ke sekolah guenya," ucap Kenzi mulai bangkit dari tidurnya dan langsung bergegas ke kamar mandi.
"Loh juga mandi, gue tunggu di ruang bawah ya? End cepetan soalnya jarak sekolah sama basecamp jauh. Butuh sejam lebih berangkat nya," Ara hanya menganggukkan kepalanya. Oh iya, masalah baju sekolah tenang saja, waktu Rasya keluar untuk membeli camilan ia menyempatkan untuk membelikan Ara seragam sekolah.
***
"Belum dapat kabar dari Ara?" Adit, Tasya, Ilham dan Raka menggeleng. Pasalnya sudah sejam lalu mereka tiba di sekolah. Bayangin bro, jam 04:26 di sekolah, cuma buat mastiin kalau Keyra gak kekunci di sekolah jadi gak sempet pulang. Kali aja kayak di film-film kan?.
Angga menghembuskan nafas beratnya sambil menatap nanar ke arah ponselnya berharap bahwa Ara menelpon atau setidaknya mengirimkan SMS atau apalah yang penting ada kabar dari Keyra.
"Emangnya Key kemana pas pulang sekolah?" Raka bertanya pada Angga. Angga menggeleng, ia benar-benar tidak tahu.
"Apa jangan-jangan Key ke basecamp? Ah! Tapi gak mungkin sih. Dia kan udah dua tahun gak pernah ke sana." Ah, tunggu dulu. Ucapan Adit membuat Raka menepuk jidatnya, ia lupa satu hal. Waktu ia pertama kali bertemu dengan Ara di sekolah ini ia berjanji untuk mengajak Ara ke basecamp tapi tidak jadi karena ia membawanya bertemu dengan bundanya.
"Masuk akal Dit, cepetan hubungi Kenzi. Pulsa gue habis soalnya," Ilham langsung mengangguk dan menghubungi Kenzi.
Via telepon
"Halo? Ken? Loh liat key gak? Soalnya dia gak pulang semalaman, kali aja dia ke basecamp kan?" Kenzi yang sudah berada di atas motor mendengus sebal karena perjalanannya terganggu oleh makhluk kamvret yang bernama Ilham. "Udah berangkat satu jam yang lalu dia sama Rasya. Udah dulu ya? Gue udah telat nih gara-gara ngangkat telepon loh!"
Tut Tut
Ilham tersenyum legah saat mendengar jawaban Kenzi. Ternyata Ara benar-benar pergi mengunjungi basecamp dan kehujanan jadi tidak sempat pulang ke rumah.
"Gimana Ham?"
"Jangan khawatir pak, katanya Key udah di perjalanan ke sekolah sama Rasya."
"Rasya yang kelas sebelas?" Ilham mengangguk. "Gimana ceritanya bisa barengan sama Rasya?"
"Tuh anak anak buahnya si Key pas dulu," sambung Adit yang membuat Angga semakin bingung.
"Maksudnya?" cengoh Angga. Raka memutar matanya malas kemudian menatap Adit membentuk instruksi untuk menjelaskan kejadian sebentar.
"Pak Angga ingat gak waktu Rival yang katanya temennya Key meninggal karena tauran?" Angga mengangguk, Tasya yang sudah tau dengan cerita itu hanya diam dan mendengarkan saja.
"Sebenarnya Rival nggak tauran pak, tapi dia itu di hajar sama Bara dan beberapa suruhan nya. Bara itu cowok yang di tolak Key karena milih Rival buat jadi pacarnya di bandingkan Bara. Padahal kalau masalah kedekatan, Bara yang pertama kenal Key waktu masih jaman SD. Dan pada saat dia dengar Key udah punya pacar, Bara itu marah banget bahkan langsung temuin Key ke basecamp kita dan nanya apakah Key benar-benar udah pacaran sama Rival? Pas Key membenarkan ucapan Bara. Nah, si Bara marah banget tuh dan natap si Rival kayak natap iblis. Terus pas besok harinya kita langsung dengar kabar dari Key kalau si Rival di gebukin sama Bara dan gak taunya pas kita sampai Key nangis sejadi-jadinya terus meluk Rival yang udah meninggal. Dah! Udah berbusa mulut gue ngejelasin," keluh Adit yang merasa penjelasannya terlalu panjang.
"Sumpah! Kok ceritanya sad ending sih?" gumam Tasya menatap Adit yang selesai bercerita. "Bakalan Heppy ending kok, kan masih ada Raka yang bakal warnain hidup Key," ucap Raka dengan songongya.
"Jadi, si Rival itu pacarnya Ara dan mati persis di hadapannya?" Mereka mengangguk.
"Ya udah, pas Ara udah sampe bilang langsung ke ruangan saya."