Broken Girl

Broken Girl
dua puluh bagian 4



"Maaf ya karena abang Alan lama kondisi kamu jadi kaya gini," Ara menggeleng lemah di balik wajah pucatnya, dia sedang kesakitan sekarang. "Gak apa-apa," ucapan yang mematahkan hati Nadia seketika. Dia belum pernah bertemu dengan orang seperti Keyra. Dia benar-benar sekarat sekarang, andai saja tadi saat menangani Ara, Nadia tidak menaikkan joule dan memukul dada Ara pasti belum tentu gadis di hadapannya ini masih bisa bernafas dengan legah.


"Jangan pernah bilang gak apa-apa sama gue Ar, gue bukan Alan, Tasya, Angga, Raka, atau yang lainnya. Gue ngerti sekarang loh benar-benar kesakitan," Nadia memeluk Ara dan terisak. Entah kenapa hatinya mendadak perih saat melihat pertama kali Alan berlari dengan tergesa-gesa dengan membopong Ara yang sedang tak sadarkan diri. Calon suaminya benar-benar membuang predikat dokter cuek dan dingin, tadi Alan benar-benar menangis di hadapan semua orang, Nadia paham Ara adalah titipan yang sangat berharga dari mendiang adik kesayangannya, Rival.


"Untuk sementara loh pakai kursi roda dulu ya? Daya tahan tubuh loh semakin melemah dan ginjal loh udah hampir gak berfungsi. Loh harus benar-benar dapat pendonor waktu dekat ini, kalau gak loh bisa kenapa-kenapa. Gue gak punya adik, untuk itu jadi adik gue dan baik-baik aja, jangan pernah ninggalin gue apapun alasannya." Ara tersenyum nanar, ia takut berjanji kalau nantinya ia akan mengingkarinya karena ia paham perubahan daya tahan tubuhnya makin parah.


"Mau gue panggilin Raka?"


"Gak usah, nanti dia khawatir lagi," Nadia tersenyum kemudian melihat ke arah Alan yang tengah menatap mereka dengan senyuman. "Mereka ada di depan ruangan ini, Raka udah bangun setelah satu jam pingsan, Rasya, Adit sama Ilham juga udah baik-baik aja. Bahkan mereka udah delapan orang nungguin loh sadar semenjak empat jam lalu. Gue panggil aja ya?" Ara mengangguk, mungkin sudah saatnya mereka tau keadaannya yang sebenarnya.


"Woi! Masuk aja," teriak Alan pada orang-orang yang berada di depan ruangan ini.


Klek


Pintu terbuka dengan memperlihatkan kedelapan teman Ara yang kini menatapnya dengan khawatir.


"Kenapa gak pernah bilang kalau loh sakit? Loh mau buat kita ngerasa bersalah? Gitu? Hah!?" Ara menggeleng, bukan itu maksudnya ia hanya tidak mau para sahabat akan mengkawatirkannya.


"Key? Kita sahabatan udah dari SD kenapa loh main rahasia-rahasiaan? Kecewa gue."


"Gak usah ngomong! Mau gue Taru lakban tuh mulut!" Ara benar-benar tidak kuat menahan tangisnya melihat para sahabat yang memeluknya seakan tak ingin kehilangan sesuatu yang sangat berharga. "Kita sayang loh, jangan kenapa-kenapa lagi."


"Rival aja yang pergi, loh jangan!"


Udara di ruangan itu perlahan seperti menipis, penyebab rasa sesak yangluar biasa di hati mereka masing-masing. Entah kenapa mereka dapat merasakan sakit yang Ara derita melalui sorotan matanya. "Loh harus sembuh ******! Gue rindu tonjokkan loh. Loh lebih serem sakit kaya gini, jadi sehat ya?" Ara terkekeh pelan.


"Keadaan kak Angga gimana bang?" Tatapan mereka semua yang berada di ruangan itu saling tukar menukar. Entah harus bagaimana mengucapkannya. "Mulai hari ini jangan pernah kembali ke rumah itu kecilku buat ngambil barang-barang loh! Sekarang loh bakal tinggal sama abang Alan. Gak ada penolakan," tekan Raka menatap dingin ke semua orang. Sementara Alan terkekeh pelan, ternyata Raka lebih peka dari yang ia kira.


"Oke deh. Tapi, kak Angga baik-baik aja kan? Mmmm, Serly sama Tasya?"


"Loh ya? Masih aja mikirin orang lain. Udah mau sekarat juga," Adit mengacak rambut sahabat wanitanya itu dengan kasih. "Serly lagi ngurusin kasus abangnya. Loh tau gak? Kakaknya Serly itu Bara. Emm, kalau pacar gue gak lagi baik-baik aja. Gue nyamperin aja di dorong ama di bentak sama dia, orang lagi pegal-pegal lagi. Gue itu butuh belaian," semuanya terkekeh mendengar ucapan Adit pada akhir kalimat. Wah, kayaknya percintaan Adit tragis ya? Wwkwkkk.


"Terus Serly udah gak apa-apa?"


"Dia lagi perjalanan ke sini sama Bara." Jawaban Kenzi membuat semua tatapan menuju ke arahnya. "Yang benar loh Ken," Kenzi mengangguk sambil mengacungkan dua jari nya, sebagai bukti bahwa ia benar-benar serius.