Broken Girl

Broken Girl
tujuh



***


Ara menghembuskan nafasnya menatap pintu kamarnya, entahlah! Dia sedikit enggan melewati saudara dan orang tuanya di meja makan.


"Bismillah aja deh.''


Ceklek


Ara menuruni tangga dengan berlari, aish! Malas sekali harus melewati keluarganya.


"Hufff," Ara mencoba mengubah ekspresinya sebisa mungkin, dengan cepat ia mengambil botol minumnya kemudian mengisinya dengan air galon.


"Ara ngapain?"


"Ngisi air," jawab Ara tanpa menoleh pada seseorang yang mengajaknya bicara.


"Emang mau diapain airnya?"


"Mau Ara minum kalo nanti Ara kelaparan, supaya ngeganjal perut," ucapan Ara membuat empat orang yang berada di meja makan itu membeku. Jadi, alasan kenapa Ara begitu kurus adalah soal makanan?.


Karena merasa botolnya sudah penuh, Ara tersenyum kemudian mengambil gelas besar, mengisinya dengan air dan kemudian di tandasnya sampai habis.


"Lumayan ganjal perut," ucap Ara tersenyum dan mengusap-usap perutnya. Aish, rasanya walaupun hanya air, tapi setidaknya ia bisa menahan lapar sebelum ia pergi bekerja.


Angga membeku seketika mendengar dan melihat Ara pagi ini. Jujur saja ia pertama kalinya tau akan hal ini. Pantas saja dia seringkali melihat Ara minum obat maag waktu istirahat. Terlalu jahat kah ia sebagai seorang kakak yang sering menyiksa dan tidak memperhatikan adiknya? Oh Tuhan, Angga minta maaf.


Angga menatap nanar belakangan Ara yang sudah mulai menjauh, ada jejak rasa menyesal yang ada dihatinya saat melihat senyuman palsu Ara. Ia tau, Ara sering menunjukkan lukanya lewat senyum pahit yang tersimpan begitu banyak luka. Tapi, entah kenapa ia lebih memilih untuk tidak peduli.


"Dek? Kamu naik taksi aja ya? Soalnya kakak ada jadwal buat piket sebentar," ucap Angga.


"Iya kak, Tasya naik taksi aja," Angga mengangguk kemudian pamit kepada orang tuanya dan adiknya, Tasya.


***


Angga memelankan laju mobilnya saat melewati gang persimpangan lewat rumahnya. Matanya menelisik mencari apa yang ingin di carinya.


"Ara kok jalannya cepat banget sih?"


Mata Angga terus menelisik jalan raya hingga tertangkap dengan sudut matanya sosok perempuan yang tengah bersandar di halte bus. Ya, dia Ara.


Angga tersenyum saat menemukan yang ingin di carinya, namun belum sampai Angga menghampiri Ara. Sudah ada sosok laki-laki yang menghampiri Ara, mata Angga menyipit guna memperjelas penglihatannya untuk memastikan siapa yang di lihatnya.


"Raka?" Angga terkejut saat mengenali orang yang menyampari Ara, dia adalah Raka, sih murid paling BAD di sekolahnya.


Dengan cepat Angga menghampiri Ara dan Raka yang sepertinya sedang bercakap-cakap.


Ciiiiitttttt


Suara klakson mobil Angga sontak membuat Ara maupun Raka terkejut bukan main. Ada masalah apa dengannya?.


Raka menatap datar ke arah Angga saat mengerjakan orang yang mengagetkannya adalah guru BK disekolahnya.


"Bapa apa-apaan sih? Ngagetin aja tau gak!" Ketusnya membuat Ara membelalakkan matanya. Kenapa dia sangat lancang dengan guru dihadapannya itu?.


"Ara! Naik!" Pintah Angga.


"Saya bicara dengan Ara!"


"Ara?! Naik saya bilang!" Ara menggeleng, ia sudah berniat tidak akan mengharapkan kasih sayang keluarganya lagi. Toh, bersama Raka saja ia sudah bahagia.


"Jangan ngebentak cewe saya pak!" Selah Raka membuat Angga turun dari mobilnya dan menatap tajam ke arah Raka.


"Saya guru kamu! Kenapa tidak sopan, hah!?" Raka berdecih kemudian tersenyum miring.


"Itu di sekolah! Kalau di sini, gak! Kita sama-sama manusia, so? Gak apa-apa kan? Lagian bapak yang mulai. Padahal saya tadi masih sopan loh pak!" Delik Raka menatap sinis Angga.


"Udah ah! Nanti kita telat loh, berangkat ke sekolah aja yuk," ucap Ara berniat untuk menengahi.


"Naik mobil saya!"


"Maaf, Ara gak bisa."


"Ara!?"


"Ayo Rak," ucap Ara yang langsung naik motor Raka dan mengambil kemudi. Raka tersenyum kemudian menatap Angga dengan ejekan.


***


Saat melewati koridor berjalan bersama Raka, tak sengaja mereka berpas-pasan dengan Angga yang menatapnya dengan tatapan tajam. Apakah Angga marah? Kalau Angga marah, siap-siap aja deh Ra, siksaan menantimu.


"Rak?"


"Iya?"


"Kita pisah di sini aja ya? Lagian kan kelas kita beda," ucap Ara.


Raka menggeleng kemudian menggenggam tangan Ara. "Gue antar loh sampai di kelas loh," Ara menggeleng. Oh, jangan sampai Dinda dan siswi fens Raka yang lain melihatnya bersama Raka. Pasti ia akan mendapatkan masalah besar.


"Udah, ke kelas loh aja Rak, gue bisa sendiri," tolak Ara, dan lagi-lagi Raka menggeleng.


"Gue antar sampai di depan kelas atau gue cium?"


Blush, tiba-tiba pipi Ara memerah mendengar ucapan Raka. "Loh mau gue jadiin perkedel? Udah lupa loh siapa Keyra? Gue ini bosnya loh. Sopan dong," ucap Ara membuat Raka terkekeh.


"Bu bos baperan deh, yaudah sampai sini aja, nanti pas udah istirahat gue jemput disini," Ara tersenyum miring sementara Raka tiba-tiba bergidik ngerih melihatnya. Dia masih benar-benar ingat Keyra yang dulu. Dia gak segan-segan buat nyiksa orang yang berani ngeganggu ketenangan hidupnya.


Melihat punggung Raka yang mulai jauh di telan tembok. Ara menatapnya dengan tatapan bersalah, mengapa dia begitu mengabaikan perasaan Raka dan memilih Rival? Ah, itu sudah masa lalu. Rival sudah pergi, dan keadaan sudah berubah, bisa saja sekarang Raka sudah mempunyai orang yang ia cintai dibandingkan dirinya dulu. Apa boleh Ara putar waktu? Ara ingin Rival hidup dan ia menerima cinta Raka. Tapi, nasi sudah jadi bubur. Nyatanya ia, memilih Rival dan kemudian kehilangannya, sementara Raka tetap kembali bersamanya walaupun mungkin dengan perasaan yang berbeda.


"Maaf Rak, sampai sekarang gue belum bisa cinta sama loh dan ngelupain Rival. Tapi, gue akan belajar buat semuanya," kata Ara sambil melihat punggung Raka yang mulai hilang di balik pintu. Rasanya begitu menyesakkan saat kita tak bisa menerima kenyataan yang ada. Ah, entahlah rasanya begitu perih.


***


"Key?"


"Mmm?" sahut Ara tanpa mengalir pandangannya dari layar HP-nya. Raka yang merasa terabaikan mencoba untuk mencairkan suasana. Dari tadi pas Raka ngejemput Ara di koridor, Ara bersikap cuek dan selalu fokus menatap layar HP-nya.


"Key?"


"Apa sih! Berisik tau gak!" Delik Ara dengan tatapan tajam. Raka yang melihat ekspresi wajah Ara yang berubah langsung diam kemudian menyeruput minumannya.