
****
Plakkk
"Anak biadab! Sudah berapa kali ayah katakan? Hah!? Jangan bertengkar lagi. Apa kau tidak puas dengan meninggalnya temanmu gara-gara berantem, hah!?"
Ara hanya menutup matanya menahan sesak di dadanya yang tak kunjung hilang. Rival? Ara butuh dirimu, kenapa kau pergi?
"Ara di bully ayah! Ara hanya membela diri sedikit, salahkan?"
"Berani sekali kau membantahku? Sudah jelas-jelas gurumu memanggil ayah tadi. Dasar anak tak tau malu! Seharusnya kau tidak lahir saja di dunia ini."
Jreeng
Hati Ara mencelos seketika, kenapa begitu sakit saat mendengar perkataan pedas sang ayah? Begitu buruk kah ia di mata ayahnya?.
Wijaya berlalu dihadapan Ara dengan perasaan amarah yang begitu besar. Entah mengapa ia maupun istri beserta putranya sangat membenci anak bungsunya itu.
Ara berlari ke kamarnya yang berada di lantai dua. Kamar inilah yang menjadi saksi bisu hancurnya hati seorang keyra menghadapi kehidupan pahit setelah kehilangan sosok penyemangat.
"Argh," Ara berteriak frustasi dengan menjambak-jambak rambutnya. Rasanya hanya itulah yang membuatnya sedikit tenang. Menyiksa diri yang rapuh adalah kebiasaan Ara dua tahun belakangan ini.
Ara meraih pil di atas mejanya kemudian meminum tiga butir pil itu. Setidaknya dia akan tertidur setelah ini.
"Selamat malam Rival," ucap Ara tersenyum kemudian matanya mulai terpejam dengan perlahan.
***
Langit mulai menunjukkan cahayanya, sepertinya sebentar lagi matahari akan muncul. Namun, gadis berwajah polos itu tak samasekali terusik dari tidurnya. Matanya masih terpejam polos, sepertinya dunia mimpi memang lebih menyenangkan untuknya.
Tok tok tok
"Ara!!? Hey? Ara?!!" Sedari tadi Rini, ibu Ara mengetuk-ngetuk pintu kamar Ara guna membangunkan sang anak. Tapi, jangankan untuk bangun, menyahut saja ia enggan.
Karena merasa kesal dengan anak bungsunya itu, Rini bergegas mencari suaminya dan putranya untuk menyuruh mereka mendobrak pintu kamar anak bungsunya. Rupanya Ara sedang bermain-main dengan singa, liat saja apa yang akan terjadi setelah ini.
"Angga? Mas Jaya?"
"Ada apa yang."
"Apa ma?"
Karena orang yang dicarinya sudah ia temukan Rini bergegas menghampiri mereka berdua.
"Tasya udah berangkat ke sekolah?" Wijaya dan Angga mengangguk kompak. Karena benar, Tasya anak kedua mereka sudah berangkat sekolah pagi-pagi ini.
"Ara belum bangun," turur Rini dengan santainya membuat dua lelaki di hadapannya ini mengeram kesal.
"Udah yah, Bun, biar Angga yang kasih pelajaran buat anak pemalas itu," ucap Angga kemudian beranjak dari duduk manisnya. Berani sekali adik bungsunya itu bermalas-malasan, untung saja dia sekolah di tempat Angga mengajar. Jadi, Angga bisa sedikit meringankan hukuman untuk adik bungsunya itu ketika berbuat ulah disekolahnya.
Brakkk
Angga berhasil mendobrak pintu kamar Ara kemudian langsung menatap tajam gadis yang tengah tertidur dihadapannya itu.
"Dasar anak pemalas!" Dumelnya kesal kemudian menggendong Ara dan menghempaskan tubuh Ara di kamar mandi.
Ara terkejut bukan main saat tubuhnya tiba-tiba menyentuh lantai dengan tidak elitnya.
Byuuuuur
Sudah badannya tiba-tiba jatuh kelantai, tiba-tiba tubuhnya diguyur air lagi. Ara menggeram kemudian menatap siapa pelaku yang telah melakukan hal menyebalkan ini padanya.
"Akkkh, abang lepasin, sakit bang." Belum sempat Ara melihat pelakunya tiba-tiba rambutnya sudah di tarik hingga ia dapat melihat sang pelaku, ternyata Angga yang melakukannya.
Bukannya menghentikan tarikannya pada rambut Ara, Angga mala makin memperkuat tarikannya dan sesekali menampar Ara.
Plakkk
Plakkk
Sreeet
"Akkkkh."
"Aaaaa."
"Ampun bang, ampun ... Hiks ... Ara salah apa? Ara minta maaf," ringis Ara di tengah-tengah tangisnya.
"Brengsek! Berani nunjukin air mata palsu itu? Cuuh, gak guna anjing!" Dengan tak berperasaan Angga meludahi wajah polos adiknya itu kemudian menendangnya hingga tak sengaja kepala Ara terbentur pada dinding kamar mandi. Ara menjerit ketakutan saat melihat darah mulai muncul dari kepalanya. Ia takut darah.
Angga yang sudah di balik pintu mendengar jeritan Ara langsung masuk ke kamar mandi kembali untuk melihat apa yang terjadi pada adik bungsunya itu.
Hati Angga mencelos saat melihat kepala Ara sudah di penuhi oleh cairan kental berwarna merah itu. Dia memilih untuk tidak peduli dan kemudian meninggalkan Ara yang sedang gemetar ketakutan.
"Cepat mandi kemudian pakai baju sekolah. Kamu udah hampir telat!" Ucap Angga berteriak di balik pintu.
Ara hanya menangis sambil menggigit bibirnya guna menahan sesak didadanya. Kenapa keluarganya begitu kejam padanya? Kenapa? Apa salah Ara?.
Walaupun Ara sedikit trauma saat melihat darah, ia mencoba untuk melawan traumanya itu. Dengan perlahan Ara mulai membersihkan badannya walaupun sesak dihatinya tak kunjung redah.
"Semangat Ara, Ara gadis kuat. Gak boleh lemah, nanti Rival marah nanti." Ucap Ara menyemangati dirinya sendiri. Kenapa rasanya sesakit ini? Tuhan? Tidak adakah secercah bahagia untuk Ara? Kalau ada tolong berikan sekarang. Ara butuh itu.
Bersambung