
Setelah ibunya pergi dari hadapan mereka, Tasya dan Angga langsung bergegas menuju kamar Ara. Karena setelah perkataan ibunya yang katanya memberikan sedikit pelajaran untuk Ara, membuat mereka khawatir terhadap kondisi Ara.
Ceklek
Jleb
Dengan tiba-tiba hati Angga dan Tasya mendadak perih. Pemandangan di depan mereka mampu membuat buluh remang mereka bergidik.
Ara yang tengah tertidur sembarang dan memejamkan mata dengan kerutan kening, seakan menandakan bahwa dia sangat kesakitan. Terlihat dari tubuh Ara yang di penuhi dengan goresan luka dan wajahnya yang sudah sangat di penuhi dengan lebam.
"Raa?" panggil Tasya persis di telinga Ara dengan suara lirih. Sungguh! Ia tak sanggup melihat keadaan memprihatinkan Ara, tidak puaskah orang tuanya sudah membuat Ara koma setengah bulan yang lalu? Apakah masih banyak tersimpan rasa luapan amarah untuk adiknya ini? Kalau masih ada, bolehkah Tasya menggantikan posisi itu? Ah, Tasya rasa tidak bisa.
"Sya? Biarin aja Ara tidur kita keluar aja yuk.''
"Ara kesakitan kak, dan gue gak bisa apa-apa. Kakak macam apa aku ini," ucapan Tasya tembus hingga ke uluh hati Angga. Seakan kata-kata itu menyindirnya dengan keras.
Tasya tak menghiraukan ucapan Angga, ia fokus mengecek keadaan adiknya itu. Oh iya, Tasya cita-citanya jadi dokter dan ia mulai mendalami ilmu ke dokteran sejak dini. Belajar dari tantenya, adik dari ibu.
Ah tunggu, denyut nadi dan detak jantung Ara?.
"Kak? Ara pake obat tidur sama obat penenang," ucap Ara histeris. Kenapa adiknya bisa mengonsumsi obat seperti itu?.
Angga hanya bisa membeku di tempat, ia percaya dengan ucapan Tasya karena begitu paham dengan kemampuan adik sulungnya ini.
"Hiks ... Bego banget sih? Itu bahaya Ra. Bego! Gimana kalau loh keterusan dan gak bangun-bangun lagi, hah?! Loh mau bikin gue gila?" Tasya menangis sejadi-jadinya, ia tak samasekali menyangka Ara sampai bisa mengonsumsi dua jenis obat itu sekaligus.
"Kak? Bantuin Tasya ngebongkar lemari sama laci Ara. Pokonya obrak Abrik semuanya, jangan sampai kita kelewatan apapun," Angga langsung menuruti perintah Tasya. Mereka mengobrak abrik kamar Ara dan sungguh! Gak sesuai ekspektasi, mereka mengumpulkan semua benda-benda yang Ara simpan. Mulai dari obat penenang, obat penghilang rasa sakit, obat tidur, bahkan tali gantung yang sudah di desain pun ada. Berbagai macam racun tersimpan di laci meja belajar Ara, dan pisau yang memang sudah di asah dengan tajam.
Tasya dan Angga benar-benar tak bisa berkata apa-apa lagi, kamar Ara sekarang sudah sangat kacau. Apalagi berbagai botol pil berserakan di lantai. "Kak?" Lirih Tasya gemetar ketakutan menatap ke arah Ara yang tengah memejamkan matanya dengan damai. "Udah, jangan kaya gini, kita singkirin atau kita bakar semua aja barang-barang gak guna ini, ya? Jangan sampai Ara ngelakuin hal yang enggak-enggak. Kakak nggak mau," Tasya mengangguk. Kemudian membantu Angga untuk membereskan barang-barang yang habis mereka temukan.
***
Matahari muncul dari celah gorden dan menerpa wajah polos Ara yang tengah terlelap. Membuatnya terusik dari tidurnya dan akhirnya mengerjapkan matanya untuk menormalistir kesadarannya.
Akh, sepertinya badan dan kepalanya terasa begitu nyerih. Ah iya, Ara ingat kejadian kemarin.
Ara membangunkan tubuhnya dengan perlahan-lahan, aish! Kenapa nyerih sekali? Bersandar di bantal dan menatap kosong ke arah depan. Memikirkan bagaimana hidupnya ke depan? Apakah ia akan sanggup menjalaninya? Atau dia akan memakai salah satu dari benda koleksinya? Entahlah, Ara juga bingung soal itu.
Ceklek
Mendengar suara pintu yang terbuka, Ara mengalihkan pandangannya ke arah pintu yang menampilkan sosok kakak lelaki dan wanitanya yang membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan buah-buahan.
"Pagi kak, emmm, gak ke sekolah?"
"GAK!" Jawab keduanya dengan kompak dan nada yang ketus terkesan kasar. Ara menunduk mendengar jawaban kasar dari kedua kakaknya, apakah mereka akan kembali seperti dulu lagi? Angga yang menyiksanya dan Tasya yang peduli tapi masa bodoh? Apakah?
"Nih, makan sampai kenyang. Dan, jangan mandi dulu. Kalau ngerasa badan kotor bersihin sama tissue aja."
"Mau makan atau mau di gampar? Lumayan sarapan pagi," Ara merinding seketika saat mendengar ucapan Angga dan memutuskannya untuk makan saja, dari pada kena gampar kan?
"Kak? Ara mau minum,"
"AMBIL AJA NDIRI," ketus mereka bersamaan. Ara menarik nafasnya kemudian menatap kedua kakaknya yang mandangnya dengan aneh. Ada apa?.
"Yaudah," putus Ara dengan tatapan yang sulit di artikan. Ara benar-benar tidak kuat jika harus mengambilnya air di atas meja itu. Duduk saja tadi sangat susah paya, ini saudaranya kenapa sih? Kalau Ara keburu keselek sebelum minum terus mati gimana Bambang!
Prang!
"Ssssh," rintih Ara saat kepalanya terasa nyut-nyutan melihat gelas picah. Aish, ingatan itu lagi.
"Sakit yang mana? Nih minum," Angga sungguh merutuki dirinya yang memutuskan untuk bersikap cuek pada Ara. Sebenarnya bukan maksud mereka seperti itu, hanya saja mereka kecewa dengan barang-barang yang di koleksi Ara. Sungguh! Mereka ketakutan saat membayangkan kejadian yang tidak-tidak menimpa Ara.
"Kak? Boleh ambilin pil di laci Ara nggak?"
"Buat apa?"
"Badan Ara sakit semua kak, dan Ara butuh itu."
"Ga boleh, dan akan bisa lagi Ara minum pill itu. Bahaya Ra," tegur Tasya yang mulai berkaca-kaca melihat ekspresi kesakitan Ara.
"Kak, cepetan kak hiks ... Sakit kak. Sssshh, Ara gak kuat sumpah."
"ARA!! Semua yang kamu simpan di sini udah kita bakar. Jadi, nggak usah minta macem-macem."
Lidah Ara seakan di dekat saat mendengar ucapan Angga. Semua obat? Bahkan barang yang ia simpan?.
"Maksudnya?"
"Kamu mau bunuh diri? Mau ninggalin kita, hmmm?"
Degh
Ara hanya bisa diam membeku di tempatnya tanpa memberi jawaban pada kedua kakaknya yang sepertinya sedang menginterogasinya.
"ARA, JAWAB!!" Tasya berteriak sangat kencang di hadapan Ara. Ini adalah pertama kalinya Tasya meneriakinya dengan nadah yang begitu di penuhi dengan amarah.
"Maaf, Ara benar-benar putus asa. Karena setelah kepergian Rival, Ara benar-benar hidup sendiri. Gak ada yang peduli sama Ara, Ara berjuang sendiri buat hidup dan pada akhirnya Ara berniat buat mati aja. Ara capek kalau harus minum berbagai macam pill cuma buat tidur atau nenangin pikiran. Ara cuma mau hidup tenang, tapi nggak ada yang peduli sama Ara. Bahkan penyebab keterpurukan Ara itu, orang tua Ara sendiri. Ara kecewa bahkan nyesel pernah lahir di dunia ini sebagai bagian keluarga Wijaya. Ara lahir di tengah-tengah keluarga yang gak samasekali inginkan kehadiran Ara, mereka hanya tau Ara anak biadab, gak tau malu dan pantes mati. Ya, Ara akui Ara memang pernah jadi orang biadab dua tahun lalu. Sering tauran, ikut balapan liar, bahkan selalu pulang larut malam dengan wajah yang babak belur. Tapi, kalian tau gak alasannya apa?" Ara menarik nafasnya menjeda kalimatnya dan menatap kakaknya satu persatu.
"Ara kesepian di rumah. Ara sakit hati dengan perlakuan masa bodoh kalian sama Ara, gak perduli, bahkan kalian main tangan sama Ara. Kak, Ara bukan sekedar sakit tapi, Ara benar-benar hancur hiks ... Ssssh," Isak Ara yang di barengi dengan ringisa kecil. Sepertinya sakit fisiknya belum terlalu sembuh. Oh iya, kalian mau tau ekspresi Tasya sama Angga setelah dengar perkataan Ara? Hah? Mereka keluh, tak bisa berkata-kata. Mereka suda benar-benar tidak memperdulikan Ara dengan waktu yang lama dan setelah mereka ingin peduli dan memulai kisah yang baru
Tapi, sepertinya mereka terlambat. Ara benar-benar hancur sekarang. Hati dan akalnya sudah tak berbentuk.
Wijaya yang tak sengaja ingin mengecek keadaan anak bungsunya yang kata kakak-kakaknya mengonsumsi pil tidur dan penenang, melihat sekaligus mendengar kata-kata menusuk dari Ara. Ungkapan mengerikan yang mampu menghancurkan serpihan hati yang mendengarnya. Wijaya seakan keluh tak tau harus berkata apa, maaf? Hahah terkesan lucu bukan? Kau tau? Kau meminta maaf berjuta-juta kali pun tak akan pernah mengembalikan keadaan seperti sebelumnya. Kau terlalu buruk untuk di sebut sebagai ayah. Kau terlalu pengecut untuk itu, WIJAYA!!!.