Broken Girl

Broken Girl
sembilan belas



****


Ras!" Ara memanggil Rasya dengan sedikit berteriak karena lajunya motor yang ia kendarai.


"Apa!!" Rasya juga tak kalah keras berteriak menjawab panggilan Ara. Karena mungkin kalau tidak dengan berteriak mereka tidak akan terlalu mendengar satu sama lain.


"Udah mau pukul tujuh, ngebut lagi bawahnya," Rasya mengangguk dan langsung menancap gasnya motornya hingga kecepatan sudah di atas rata-rata.


***


Brum ...


Hah! Akhirnya sampai juga, kenapa tempat basecamp dan sekolahnya jauh sekali sih? Kan harus ngebut gini bawah motornya, malah rambut jadi lepek lagi. Ya Allah lengkap dah penderitaan.


"Woi!" Raka yang memang sudah lama menunggu kedatangan sahabatnya ini langsung menghampiri mereka dan menarik tangan Ara agar menjauh dari Rasya.


"Ngapain bawah kabur, Key?" Rasya menyerit bingung tak paham dengan maksud Raka. Bawah kabur katanya? Kabur mbakmu? Sa ae loh.


"Apaan sih Rak! Gak jelas!"


"Diam loh! Loh tau gak? Cuma gara-gara khawatirin loh? Kita itu udah kayak hantu yang berkeliaran pagi-pagi buta di sekolah."


"Lah? Emang kenapa?" cengoh Ara. Jujur saja, ia masih bingung dengan ucapan Raka. "Loh gak pulang semalaman dan gak ngasih kabar," Ara menyengir seakan tak berdosa dengan apa yang ia lakukan. Berani sekali ia membuat orang linglung gara-gara mengkhawatirkannya.


"Hp gue lowbat. So, gak usah ngegas," sewot Ara menatap tak suka ke arah Raka. Raka tak memperdulikan Ara dan kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Rasya. "Ngapain loh masih disini? Mau di hukum juga? Gak kan? Ya udah sana," belum juga di jawab. Raka sudah mendorong Rasya ke dalam gerbang sekolah dan kemudian menarik Ara dengan paksa. Ara yang mendapatkan perlakuan menjengkelkan dari Ara hanya menurut tanpa melawan saat Raka menarik tangannya dengan kasar. Bukan apa-apa, ia malas berdebat untuk sekarang.


***


Ara hanya berjalan mengikuti ke arah Raka menariknya. Semakin lama Ara semakin bingung, kenapa tidak ke kelas? Kenapa malah ke ruang guru?.


"Permisi," Raka melepaskan genggamannya pada tangan Ara dan langsung menghempaskannya ke arah Angga yang tengah duduk di ruangannya. Ara terkejut? Tentu, gimana gak terkejut apa, awalnya di marah-marahin, terus di tarik-tarik dan sekarang? Langsung di hempasin gitu aja? Untung saja ada Angga yang langsung menahannya agar tak jatuh kelantai.


"Woi ******! Mau kemana loh?" Raka berjalan lurus tanpa menyahuti panggilan Ara. Sepertinya moodnya hancur saat melihat kejadian di depan gerbang saat Rasya merapikan rambut Ara yang berantakan karena menaiki motor dengan ngebut. "Tuh anak cari gara-gara sama gue, awas loh!" geram Ara.


"Dari mana loh?" saat sedang khusyuknya mencibir Raka, Angga tiba-tiba membuktikan suara yang sukses membuat jantung Ara hampir terpingkal. "Niat banget ngebunuh Ara," cibirnya memanyunkan bibirnya. Baru pagi-pagi moodnya sudah di buat suram oleh laki-laki menyebalkan yang sayangnya Ara sangat mencintai keduanya.


"Jawab kakak, semalam ke mana? Dimana? Dengan siapa? Dan ngapain?" Ara terkekeh pelan. Walaupun kakaknya menyidutinya dengan beberapa pertanyaan tapi, entah kenapa terkesan lucu di benaknya. Pertanyaannya mirip lirik lagu. "Ara? Kakak paling gak suka kalau ngulang kata-kata. So, jawab," Ara mulai merasakan aurah-aurah menyeramkan dari ucapan Angga langsung memilih untuk menjawab pertanyaan tersebut. "Sebenarnya mau mampir ke basecamp doang kak. Tapi, tiba-tiba hujan turun, terus sahabat-sahabatnya Ara beli cemilan. Dan Ara gabung lah dari pada gabut kan? Dan akhirnya Ara gak sengaja ketiduran," Angga mengembuskan napasnya legah, ia sudah berpikir aneh-aneh tadi tentang Rasya dan Ara. Ia pikir mereka melakukan hal-hal yang aneh.


"Pak? Cepetan keluar pak! sekolah kita di serang sama geng motor. Mereka udah mau ngancurin gerbang tapi masih di cegat sama murid-murid cowok." Ara yang awalnya mau pamit terkejut saat Serly memotong ucapannya dan berucap dengan tergesa-gesa. Sepertinya ia ketakutan. Angga yang mendengar itu langsung berlari ke luar ruangannya dan menuju ke arah gerbang yang menjadi pusat kekacauan. Terbukti saat Angga tiba di depan kelas, ia melihat ke arah gerbang keributan sangat kacau. Para siswa nya sedang susah paya menghalangi geng motor yang entah siapa yang menjadi objek sasaran mereka sehingga berani-beraninya menyerang sekolahnya.


Sebelum menghampiri mereka, Angga terlebih dahulu mengintruksikan kepada para guru untuk mengontrol para murid agar sedikit menjauh dari depan kelas yang berdekatan dengan gerbang sekolah dan tak lupa pula menyuruh yang lain agar segera memanggil polisi kemudian Angga langsung keluar dari gerbang untuk membantu mereka menangani para pemberontak yang tak tau aturan.


Bugh!


"LOH NGAPAIN KE SINI BANGS*T!!" Raka meneriaki orang di hadapannya ini dan langsung memberinya Bogeman bertubi-tubi. Tak tinggal diam, Bara juga ikut membalas dengan memberikan pukulan pada wajah Raka. Persis seperti yang Raka lakukan padanya. Oh iya, yang nyerang sekolah Raka, Bara ya?. Pasti kalian tau kan? Bara itu pernah di patahin hatinya sama Ara? Dan berakhir ngabisin nyawah pacar Ara? Nah, pas Ara lagi boncengan sama Rasya pas berangkat sekolah gak sengaja pas di lampu merah mereka ketemu sama Bara tapi, cuma Bara yang ngeliat mereka. So,dia ngikutin mereka sampai sekolah dan pas mastiin itu benar-benar Ara yang ia cari selama ini ia langsung menghubungi geng motor yang selalu ia bayar untuk membuat kerusuhan. Tujuannya hanya satu, menemukan Ara dan menjelaskan padanya apa yang sebenarnya terjadi.


Ok guys back to topic.


"BRENGS*K!"


bugh


Bugh


"NGGAK PUAS LOH BIKIN SAHABAT GUE MATI? HAH?! MAU LOH APA BANGS*T!"


bugh


Raka benar-benar geram dengan kedatangan makhluk biadab ini ke sekolahnya. Baginya Bara adalah pembunuh yang harus di menyiapkan. Karena untuk apa hidup jika tak berguna?.


"B**NGSEK!!" Bara mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah akibat pukulan dari Raka. Ia bangkit dan kemudian melanjutkan perkelahian ini agar impiannya bertemu dengan Ara bisa terwujud.


Terjadinya baku hantam yang tak ada hentinya antara pihak dari Raka yang berisikan sejumlah murid dan guru yang juga ikut membantu untuk mencegal pihak Bara dengan puluhan anggota geng motor yang ia sewa.


Ara yang terkejut dengan kabar yang ia dengar dari Serly langsung melakukan interogasi agar paham apa yang terjadi.


"Kenapa Ser? Kok gemetaran?" Serly menggeleng kemudian langsung memeluk orang yang sudah menjadi sahabatnya itu. "Gue takut liat orang berantem tau gak? Hiks ... Loh tau gak? Yang lagi berantem itu abang gue. Gue takut entar dia kenapa-kenapa, gue udah pernah ngeliat dia di balik jeruji setahun yang lalu dan sekarang gue gak mau lagi itu terjadi ... hiks ... kenapa dia bandel banget sih? Keluarga kandung gue tinggal dia. Hiks ... kalo dia pergi gue sama siapa dong?" Ara mengusap pundak Serly saat tangis gadis itu kian menjadi. Keinginannya ingin melihat hal yang terjadi urung saat rasa tak tega meninggalkan sahabatnya yang tengah ketakutan itu sendiri di sini.


"Abang loh nyerang sekolah kita? Kenapa?" Serly menggeleng lemah, iya samasekali tak tau apa-apa mengenai abangnya itu.


"ARAAA!!!" Serly dan Ara menengok serempak saat Tasya berteriak lantang dan berlari tergesa-gesa ke arah mereka. "Kak Angga lagi berantem Ar, kita kala jumlah. Murid cowok-cowok yang lain gak mau bantuin mereka. Mereka takut Ra! Yang lagi mereka lawan itu geng motor yang paling berpengaruh di jalanan," Ara seakan bungkan mendengarkan ucapan Tasya. Kepalanya berputar pada masa kejadian dua tahun lalu yang membuatnya sedikit trauma saat melihat darah dan perkelahian. Itulah sebabnya ia sedikit menjauhi yang namanya membuat masalah. Ia takut kejadian dua yang lalu terulang kembali.