Broken Girl

Broken Girl
lima belas



***


"maaf karena kita gak peduli sama loh, Ra. Sumpah, gue ngerasa gagal sebagai kakak buat loh, gue terlalu biadab buat dapat julukan itu hiks ..." Tasya menjeda kalimatnya karena sesak telah menguasai pikiran dan hatinya saat mendengar ungkapan Ara. "Gue keterlaluan Ra hiks ..." Tasya benar-benar tak sanggup jika membayangkan dia lahir sebagai Ara. Mungkin saja kalau ia di posisi ini ia akan memilih mati di bandingkan hidup namun berasa hanya terapung pada kenyataan yang menyesakkan dada.


"Masih sakit? Atau mau ke dokter Alan aja? Biar di obatin." Angga tersenyum lembut sambil membelai rambut Ara dengan penuh kasih sayang. Kasih sayang yang tiba-tiba muncul yang telah mengisi hati dan otak Angga, bahwa betapa tersiksanya hidup sebagai Ara.


Ara menggeleng kemudian tersenyum menatap wajah tampan kakaknya. "Nanti abang Alan ngebunuh kak Angga kalau dia liat Ara sakit lagi," hahah, rasanya Angga ingin tertawa kencang sekarang. Lucu sekali perkataan adiknya. Dia khawatir padanya karena ancaman Alan waktu itu? Sementara dia? Selama ini mana rasa khawatir mu pada adikmu, hah?! Bukankah hanya bencilah yang kau nampakkan? Bodoh!.


Aish, pertahanan Angga runtuh. Ia tak sanggup lagi menahan air matanya yang sedari tadi memaksa untuk keluar. Setiap kata serta ungkapan yang keluar dari mulut Ara sungguh membuat hatinya merasakan kenyerian yang tak tertahankan. Kenapa orang sebaik adiknya harus mendapatkan perlakuan kejam dari mereka?.


Ara yang melihat punggung Angga yang membelakanginya seperti gemetar pun bertanya. "Kak? Kenapa?" Angga menghapus jejak air matanya kemudian kembali menatap wajah polos adiknya yang tengah tersenyum. Rasanya seperti ribuan pedang yang tiba-tiba menusuk hatinya. Ternyata bukan cuma di film Indosiar atau Drakor aja ya kisah kaya gini? Ternyata di kehidupannya ada juga. Apalagi ini di alami adiknya sendiri.


Grep


"Bodoh!"


"Wkwkwkwkk, gue kayak lagi nonton sinetron di Indosiar saat pemeran antagonis nya sadar. Rasain! Kena karma kan?" Entah dari mana datangnya Alan dengan tiba-tiba sudah berada di dalam kamar Ara dengan tawanya yang tak kunjung Redah.


"Eh? Kak dokter Alan ya?" Mendengar pertanyaan Tasya, Alan mengangguk kemudian tersenyum manis, semanis senyuman babang Suga. Huaa 😭 Abang Suga><.


"Awas loh," dengan kasarnya Alan menjauhkan Angga yang tengah mewek-meweknya dengan Ara. Gak ngerti suasana banget sih?.


Angga yang tak suka dengan perlakuan tak sopan Alan menghadiahi Alan dengan tatapan tajam sementara Alan? Dia tersenyum miring dan berkata. "Apa loh? Loh pikir dengan tatapan kaya gitu gue bisa merinding atau takut? Oh sorry loh bukan min yongi. End, ingat ya? Ancaman gue di rumah sakit masih berlaku."


Angga menghela nafasnya. Sangat malas mengahadapi dokter di hadapannya ini. Padahal dokter yang terkesan dingin tak tersentuh tapi, nyatanya? Udah! Buang aja deh ke Pluto gak guna tau gak! Heheh bercanda bang Alan.


"Loh ngapa minum obat itu lagi? Udah berapa kali Abang bilang jangan minum?" Kini tatapan Alan beralih pada Ara.


"Maaf."


"Ngapain minta maaf? Adeknya abang Alan gak pernah salah. Ya kan?" Alan mengacak rambut Ara dengan gemas, sementara Ara hanya tersenyum menatap lelaki kakak dari mantan kekasihnya itu. Mereka benar-benar tidak ada bedanya dari segi perlakuan lembut pada Ara.


"Emm, Abang ke sini gak sendirian loh," wajah Ara langsung berseri-seri mendengar ucapan Alan. Ara tentu mengerti pasti yang di maksud Alan adalah Nadia, kekasih Alan. "Oh ya? Terus Nadia nya mana? Aku kangen tau gak.''


"Tuh," Alan mengarahkan telunjuknya pada gadis cantik yang berdiri di ambang pintu Ara. Angga dan Tasya yang berada di sana juga ikut membalikkan badan mereka guna melihat wanita yang Alan maksud.


"Hai," sapa Nadia mengangkat tangannya guna untuk menyapa.


"Angga?"


Mereka terdiam beberapa waktu dan kemudian tertawa bersama. "Wah, makin cakep banget loh.''


"Loh mah bisa aja, hehe. Btw makasih."


"Eh, eh, ngapain loh genitin calon istri gue? Wah, minta di ajar ya loh."


"Lah? Si Bambang cemburu."


"Udah-udah! Gue datang ke sini mau ketemu sama sih Ara! Bukan kalian. Malah berantem, eh? Tasya ya?" Tasya mengangguk. "Ke Ara yuk? Biarin aja laki-laki yang gak pernah dewasa ini nyelesaiin masalah mereka sendiri," Tasya terkekeh mendengar ucapan wanita cantik yang bernama Nadia itu.


"Wah, gue gak di anggap njiir," Nadia menengok ke arah Alan yang sudah berpelukan dengan angga. Tadi berantem, lah? Sekarang? Bingung aing bambay!


"Ya udah gabung yuk."


Kelimanya larut dalam perbincangan, satu hal yang dapat Tasya nilai dari sosok Nadia, ramah dan menggemaskan.


"Nikahnya kapan, bang?"


"Uhuk uhuk," Nadia yang tengah menikmati minumannya tak sengaja tersedak dan kemudian menunduk malu. "Si Ara, orang lagi minum juga," goda Angga yang sudah tau kenapa Nadia tersedak, yang pastinya ia malu.


"Calon bini gue jangan di goda njiir. Mau mati loh?"


"Ops, psikopat mode on."


"Gaje ah! Bang? Jawab dong," Alan terkekeh kecil pertanyaan Ara yang seperti sedang memaksanya untuk cepat menjawab. Gak ada akhlak loh Ra.


"Minggu depan, kalian jangan lupa datang.''


"Wah, loh gasnya cepetan banget sih? Kan gak bisa nikung guenya," ucap Angga sok dramatis sambil memegang dadanya. "Gara-gara jombloh kelamaan kak Angga udah mau jadi PHO," semprot Ara tiba-tiba membuat Angga yang tengah tersenyum jahil ke arah Alan seketika menjadi murung. Itu penghinaan lembut padanya, ya elah punya adek gini amat ya? Kaga ada akhlak.


"Hahahaha, bener tuh Ar," Tasyalah yang tertawa keras saat mendengar semprotan Ara yang di tujuh pada Angga. Alan pun begitu, awalnya ingin menghajar Angga gara-gara ucapannya, eh mala ngakak.


"****** loh."