
***
Ara berjalan menelusuri koridor sekolah dengan kepala menunduk. Ia enggan memperlihatkan wajah rapuhnya pada orang-orang sekitarnya. Kalau ia menunjukkan wajah rapuh itu apakah ada yang akan peduli? Tidak ada bukan? So, untuk apa.
Dengan menarik nafas panjang kemudian mengembuskannya, Ara memasuki kelasnya dengan perasaan campur aduk. Jujur, saja ia menjadi sasaran bullying di kelas maupun sekolahnya. Saudaranya tau itu. Namun, seakan buta, tuli, dan bisu mereka samasekali tidak pernah mau berniat untuk menolongnya.
"Woi, Ara? Kerjain tugas gue. Keburuh ibu Tuti masuk." Seruh Dinda dengan wajah sok cantiknya.
"Ta---pi?"
"Gak ada tapi-tapian, atau loh mau gue bully hah?!" Gertak Dinda membuat Ara menghembuskan nafasnya. Ia samasekali tidak takut, hanya saja ketika ia ingin membalas segala perlakuan kejam dari dunia padanya, bayang-bayang Rival selalu menghampirinya.
"Yaudah. Tapi, jagain di depan pintu. Takutnya Bu guru masuk, soalnya jam pelajaran hampir mulai," gumam Ara. Dinda tersenyum miring kemudian mengikuti instruksi dari Ara.
"Oke. Btw ngisinya kayak kemarin-kemarin harus benar semua," Ara mengangguk kemudian mengambil buku tugas yang diberikan Dinda padanya dan langsung menyalin jawaban dari buku tugasnya ke buku Dinda.
***
Tringg!
Gemah lonceng kemerdekaan yang dinantikan para siswa akhirnya berbunyi juga. Dengan berbondong-bondong para siswa siswi berlari ke arah kantin. Tapi, tidak dengan gadis satu ini. Dia lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk menenagkan pikirannya. Namun, belum sampai pada tempat tujuannya Ara sudah dicekal oleh seseorang.
"Ke kantin yuk Ra," Ara tersenyum kecut melihat orang yang mengajaknya untuk makan.
"Gak perlu!" Ketusnya.
"Ra? Loh belum makan kan? Gue tau. Jangan siksa diriloh kayak gini. Gue gak suka Ra, walau gimanapun loh tetap adik kandung gue. Walaupun gue bersikap ketus di hadapan Abang Angga, ayah dan bunda. Tapi, pliiis Ra. Itu terpaksa."
"Gak usah ngedrana deh, kak Tasya itu gak ada bedanya sama mereka tau ngga? Yang bisanya nyakitin batin ama fisik Ara. So, jangan sok baik," sergahnya kemudian menghempaskan tangan Tasya, kakaknya yang mencekalnya.
Ara menatap nanar punggung Tasya yang mulai menjauh. Kenapa rasanya begitu sesak? Kenapa dia menolak niat baik saudarinya itu? Sebenarnya ia sangat ingin menerima tawaran Tasya hanya saja ia takut kalau Angga melihatnya bersama Tasya. Dia lelah di siksa setiap harinya. Ia butuh waktu untuk bahagia, setidaknya beberapa menit saja.
Ara tak jadi pergi ke perpustakaan, rasanya moodnya hancur seketika.
Plakkk
Belum sempat Ara melangkah ia sudah di sambut dengan tamparan yang mendarat manis di pipinya. Hingga sudut bibirnya sedikit mengeluarkan darah segar.
Ara memegang pipinya yang terasa panas, rasanya tamparan itu sangat kuat. Ara hanya meringis dengan menunduk. Tidak melihat saja ia sudah tau pelakunya pasti kakak sulungnya, Angga Wijaya yang menjabat sebagai guru BK disekolahnya.
"Punya keberanian apa buat bentak Tasya? Hah?! Mikir! Tempat kamu itu di mana? Jadi, jangan sok!" Tegas Angga kemudian berjalan menjauh dari Ara dengan menendang betis Ara.
Ara berbalik melihat punggung Angga yang mulai hilang ditelan tembok sekolah. Ia tersenyum nanar 'bang? Key kangen ama Abang. Kenapa abang berubah? Bukannya udah Ara ama kak Tasya jelasin? Semuanya kecelakaan, Ara gak sengaja.' jerit Ara dalam hati.
***
Setelah pulang sekolah, Ara melanjutkan rutinitasnya yang akan singgah di makam Rival sebelum ia pulang ke rumah. Rasanya walaupun mungkin Rival sudah lama tiada namun, tidak dengan Ara. Baginya Rival tidak pernah meninggalkannya, Rival selalu di sisinya saat ia memang merasa benar-benar hancur. Rival lah yang selalu menenangkannya saat ia kalut oleh emosi. Hanya saja sekarang sedikit berbeda, waktu dulu saat Ara menyampaikan keluh kesannya pada Rival, Rival pasti akan memberi ketenangan untuknya dengan memeluknya. Sekarang saat Ara menyampaikan keluh kesannya Rival terkesan diam, tak ada lagi kalimat penenang dan pelukan hangat, entahlah! Sekarang hanya ada suara isakkan piluh yang terdengar saat Ara menyampaikan keluh kesannya pada Rival.
"Assalamualaikum Rival? Kabarnya gimana? Baik kan? Ara di sini baik-baik juga. Rival tenang ya di sana? Ara janji, suatu saat nanti Ara bakal temuin Rival secara langsung," ucap Ara mencium batu nisan yang bertuliskan nama kekasihnya itu.
"I love you Rival, Ara pamit ya?"
Setelah berkunjung ke makam Rival, barullah Ara pulang ke rumah.
"Yang kuat Ra," ucap Ara menyemangati dirinya sendiri, karena ia sudah hapal pada saat ia memasuki rumahnya pasti akan mendapatkan pukulan entah itu dilakukan ayah, ibu atau kakaknya. Rasanya Ara sedikit bosan dengan perlakuan mereka, namun bagaimanapun mereka adalah keluarga Ara.