
****
Setelah beberapa menit semua lawan tumbang di tangan Ara dan polisi pun sudah tiba di tempat itu untuk menangkap para pelaku penyerangan. Tak bisa di pungkiri dalam hal ini mereka cukup lambat dalam bergerak hingga pas mereka tiba sudah banyak yang jadi korban.
Ara benar-benar kalut, takut, marah di campur dengan sakit. Ia benar-benar gemetaran melihat dari balik pintu ICU dua orang yang ia sayangi tengah berbaring lemah dan di tangani oleh para dokter. Tuhan, jangan lagi. Jangan, please help me!.
Beberapa guru dan murid yang lain sedang di rawat juga tapi, tidak terlalu parah di bandingkan Raka dan Angga. Mereka hanya babak belur dan luka-luka sedangkan Angga dan Raka sampai tak sadarkan diri. Sekarang Ara hanya bisa berharap agar keduanya tak apa-apa.
"Pak? Bu? Ada apa sebenarnya ini? Anak saya kenapa?" Rini yang mendengar kabar mengenai Angga langsung datang ke rumah sakit yang di beritahu oleh pihak sekolah. Tak lupa juga ia menghubungi Wijaya, suaminya untuk melihat keadaan sang anak.
"Maaf bu, kami samasekali tak tau sumber permasalahannya. Geng motor itu tiba-tiba langsung nyerang sekolah dan di cegat oleh beberapa guru dan murid."
Mendengar ucapan kepala sekolah, Wijaya langsung naik darah kemudian mencari di mana anak bungsunya, Ara. Ia mengepalkan tangannya saat melihat Ara yang sedang menangis sesenggukan di depan pintu ICU.
Plakkk
Plakkk
Bugh
Bugh
Plakkk
Rini yang mendengar suaminya berteriak langsung menengok ke arah suaminya yang tengah memukuli Ara. Seketika Rini kalut dengan emosi dan langsung menendang badan Ara hingga terbentur di tembok rumah sakit dengan keras. Ara hanya bisa meringis sesekali mengeluarkan air matanya saat rasa perih kian menjalar ke tubuhnya.
"Anak bedebah! Anak sialan!" teriak Rini dengan kencang hingga membuat perhatian orang yang berada di koridor itu mengarah kepada nya. Ada yang menatap ngerih, nanar, dan juga kasihan saat melihat Ara di pukuli dengan brutal. Tapi, mereka samasekali tak berniat menolongnya.
"Bu, udah! Kasihan Ara."
"Dia harus mati! Harusnya yang ada di sana dia bukan Angga! Dia gak pantas hidup."
"Tenang bu, ini rumah sakit jangan bikin tambah kacau."
"Pak! Tenangin istri anda dong! Anda mau Ara mati di tangannya?" Wijaya sebenarnya tak ingin menghentikan Rini. Dia Mala senang sekali melampiaskan emosinya pada Ara. Tapi, karena pandangan tak suka dari orang-orang jadi Wijaya memilih untuk menghentikan istrinya.
Ara benar-benar kesakitan, badan dan kepalanya seakan hancur karena beberapa kali di bentur di dinding rumah sakit. Mau menjerit-jerit kesakitan? Oh tidak, ini tempat umum ia tak mau orang tuanya menjadi sangat buruk di mata orang-orang.
"Anda itu tidak punya hati ya? Anda tau? Kalau bukan keyra. Mungkin anda tidak akan pernah melihat anak anda. Keyra sudah menyelamatkan sekolah dan penghuninya. Kenapa anda memukul tanpa ampun? Beginikah cara kalian mendidik?" kepala sekolah benar-benar murka dengan perlakuan jahat mereka. Apalagi ini berada di tempat umum dan suasananya cukup kacau.
"Ara? Bisa bangun?" Kepala sekolah mengulurkan tangannya ke arah Ara. Ara yang benar-benar sudah kesakitan hanya bisa melihat samar-samar orang yang mengajaknya bicara tanpa bisa melihat jelas. Pandangannya kunang-kunang dan seperti memutar.