Broken Girl

Broken Girl
dua puluh bagian 3



Angga mulai mengerjapkan matanya yang terasa pusing dengan perlahan-lahan. Aish, kenapa kepalanya sangat sakit? Ada apa?---.


"Kak Angga?" Pelan tapi pasti Angga menengok ke arah sumber suara yang memanggilnya dengan lirih.


"Syaa," lirih Angga dengan suara serak khas orang sakit.


"Kak, ibu sama ayah mukul Ara habis-habisan di depan guru-guru dan sebagian murid. Ara sampai tergeletak kak, dia pingsan karena di benturin berkali-kali. Hiks ... Dan bodohnya Tasya gak ada waktu mereka nyakitin Ara. Tasya masih di perjalanan ke sini jadi gak bisa nolongin Ara," Tasya menangis sejadi-jadinya di bersandar pada dada bidang Angga. Ia benar-benar ketakutan saat melihat perkelahian tadi pagi, dia barusan melihatnya Ara yang dulu, brutal, kejam dan tanpa ampun. Semua lawannya tergeletak hanya dengan satu pukulan.


"Sssshh, terus Ara mana Sya?" Mati-matian Angga menahan perih yang menjalar di kepalanya karena barusan sadar setelah lima jam mengalami kritis dan pas bangun mala di suguhkan dengan berita yang cukup menyayat hatinya. Tasya menggeleng dan mempererat pelukannya pada Angga. Dia syok saat mendengar perkataan teman dan guru setibanya ia di rumah sakit, terlebih ia tidak menemukan Ara dan hanya kedua orang tuanya yang duduk di lobi rumah sakit. Tasya sempat bertanya dan berakhir dengan cekcok. Ketika orang tuanya mengatakan hanya memberikan sedikit pelampung pada Ara, Tasya menggelak dan sungguh tak percaya kenapa ia bisa lahir dari orang tua yang tak memiliki perasaan seperti mereka.


Klek


Tasya melepaskan pelukannya dari Angga, perlahan mengusap air matanya beralih menatap ke arah pintu yang sepertinya ada yang masuk.


"Sya?" lirih Rini dengan suara parau. Ia habis menangis karena anak kesayangannya membentaknya dan pergi dengan tangisan. Rini takut Tasya ataupun Angga membencinya, mereka adalah hartanya yang paling berharga.


Tasya membalikkan badannya ke arah semula, menggenggam tangan Angga yang menatap dengan tatapan sayu. Angga paham, adik sulungnya ini tengah di rundung dengan rasa kecewa yang amat besar pada orang tuanya. "Ayah sama ibu kejem banget! Kenapa harus ngelakuin hal se kejam itu, hah?! Gimana kalau Ara luka parah atau sampai cidera? Ibu sama ayah gak mikir apa? Semenjak kejadian Tasya kecelakaan kalian semua itu berspekulasi bahwa Ara pelakunya! Ara gak salah! Tasya benar-benar celaka dengan sendirinya bukan karena Ara! Bahkan Ara nyoba nyelematin Tasya, kenapa kalian kejam banget?" Tasya benar-benar meluapkan segala yang ia pendam semenjak beberapa tahun semenjak kejadian yang membuat dia koma dan kemudian setelah beberapa tahun setelahnya Angga kecelakaan parah dan harus kehilangan semua ginjal, untung saja waktu itu ada yang mau mendonorkan ginjalnya pada Angga yang memang sudah sangat parah. Semua kejadian itu semakin menambahkan rasa benci Rini dan Wijaya pada Ara, padahal anak bungsu mereka itu samasekali tak tau apa sebenarnya yang terjadi.


"Sya?" lirih Rini yang meraih pundak Tasya yang tengah tertunduk di lantai di hadapan mereka. "Ibu kejem tau gak!" Tasya tak menyahuti panggilan ibunya, malah memberikan ucapan yang menohok di hati Rini. Rini benar-benar tidak kuat saat aurah permusuhan sedang tumbuh di hati anak kesayangannya.


"Tasya! Jaga bicara kamu!" Wijaya angkat bicara saat melihat istrinya yang memohon agar Tasya melihat wajahnya namun, Tasya enggan menunjukan wajahnya. Iya teramat kecewa pada orang tuanya yang tak berhati nurani sampai melakukan hal yang sangat kejam pada adiknya.


"Ayah sama aja! Tasya kecewa! Ayah sama ibu gak tau aja gimana perjuangan Ara nyelematin kak Angga sama temen yang lain? Dia sampe rusakin pintu gerbang, dan kalian mala nyiksa dia? hiks ... Ara gak pernah buat salah, gak pernah," ucapan Tasya sangat menohok di hati orang tuanya. Jangan sampai anaknya mereka membenci, oh bisa gila mereka. "Sya? Jangan nyudutin ayah sama ibu, beriin mereka waktu buat mikirin ini bi---"


"Ayah, ibu? Jangan sampai kalian nyesel pas tau kondisi Ara yang sebenarnya," setelah berucap itu Tasya langsung keluar dari ruang rawat Angga. Dia butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri sekarang.


Rini dan Wijaya menatap nanar kepergian anak kesayangannya itu. "Angga?"


"Udah bu, nanti Angga bicara sama Tasya bentar. Gak usah di pikirin, dia cuma butuh waktu buat sendiri untuk saat ini. Biar dia tenang dulu," Angga memberikan pengertian kepada orang tuanya agar paham dengan situasi sekarang. "Tapi, ibu gak bisa kalau Tasya benci sama ayah ibu. Ibu gak kuat di benci sama orang yang ibu sayang," ucap Rini di sela-sela tangisnya. Wijaya tak banyak mengeluarkan suara untuk saat ini, dia lebih banyak bertindak menenangkan istrinya yang menangis dari tadi pagi sejak kedatangan Tasya yang marah-marah pada mereka berdua.


"Ara juga gitu bu, udah delapan tahun kita nyiksa dia, gak pernah merhatiin dia, sampai-sampai dia ngoleksi barang-barang yang di pakai buat bunuh diri buat dia pakai kalau dia benar-benar frustasi. Angga pernah liat dia nangis sambil gigit bibirnya sampai berdarah, saking sesak di dadanya karena perlakuan kejam kita. Ara bukan cuma kecewa, dia terluka Bahkan ia sedang hancur untuk sekarang ini. Yah? Bu? Please," Rini hanya bisa terisak. Ia tak tau harus bagaimana lagi, jujur saja kadang saat ia jauh atau saat Ara tidak ada di rumah ia merindukan sosok Putri bungsunya. Tapi, entah setan apa yang masuk ke dalam dirinya saat ia melihat Ara emosinya akan berapi-api, bayangan Tasya kecil yang terbaring dengan darah membuatnya marah seketika.


"Ibu bakal minta maaf sama Ara, asalkan kalian gak benci sama ayah, ibu," Angga tersenyum mendengarnya. Akhirnya hari yang ia tunggu-tunggu tiba juga, semoga saja keluarganya akan seperti delapan tahun lalu. Penuh dengan keharmonisan dan kasih sayang bukan seperti sekarang yang di baluti rasa benci.


"Tapi, Ara di bawah sama dokter, ibu nggak tau dia siapa," kelas h Rini saat tiba-tiba mengingat kejadian lima jam yang lalu saat Alan membopong tubuh Ara agar menjauh dari mereka.


"Kita cari dia sama-sama," ucap Wijaya yang di angguki Rini.


***


"Key?"


"Mmm?"