Broken Girl

Broken Girl
Tiga



***


Ceklek


"Assalamualaikum?'' saat Ara mengucapkan salam tidak ada yang membalasnya, Ara hanya mengembuskan napasnya. Sudah biasa tidak dihargai kan?.


Saat Ara mulai melangkah ia mendengar seperti gelakan tawa, pandangan Ara menuju pada arah suara itu dan terlihatlah wajah bahagia keluarganya yang bersuka ria tanpa dirinya. Haha, lucu ya? Tanpa Ara mereka bahagia banget.


Dengan cepat Ara melangkahkan kakinya mendekat ke arah mereka. "Ma? Pa? Ara pulang," ucap Ara yang ingin meraih tangan kedua orang tuanya namun, langsung di tepis oleh mereka.


"Yaudah! Pergi sana! Pergi dari hadapan kita, muak tau gak!" Bentak Rini, ibu Ara. Ara tersenyum kemudian mengangguk.


"Eh, Ar? Gabung sama kita aja yuk," seruh Tasya dengan antusias. Ara hanya tersenyum mendengar ajakan sang kaka perempuannya. Sontak saja Ara menengok ke Ara keluarganya yang lain, mereka menatap tajam Ara. Ah, mungkin maksud mereka jangan.


"Gak ah kak, Ara ada tugas yang mau dikerjain soalnya," tolak Ara dengan lembut.


"Padahal kita lagi seruh loh."


"Biarin aja Ara belajar Sya," sahut Angga yang di angguki kedua orangtuanya.


Dengan cepat Ara langsung pergi dari hadapan keluarganya yang membuat hatinya semakin sesak. Ara paham betul dengan maksud ucapan Angga , ah ayolah! Ara bukan lagi anak SD yang tak mengerti setiap kata yang muncul dari mulut seseorang. Kenapa Allah menciptakannya persis di tengah-tengah kebahagiaan mereka? Ah, Allah tidak salah, mungkin dia hanya sedang ingin Ara menikmati jalan hidupnya dengan tantangan.


***


Setelah selesai membersihkan badannya Ara memilih berbaris di atas kasur dibandingkan harus turun untuk melihat kedua orangtuanya. Dia sudah cukup lelah dengan ini, sudah delapan tahun ia di asing kan dalam keluarga ini. Entah, sebesar apa kesalahan yang pernah Ara buat dulu sampai membuat keluarganya membencinya. Kecuali, Tasya kakak perempuannya.


"Kenapa kalian kaya gitu sama Ara? Ara salah ya? Kalau Ara salah, salah Ara apa? Coba deh jelasin biar Ara paham. Ara capek di benci tanpa alasan."


Tangis Ara pecah seketika saat membayangkan perlakuan kejam keluarganya. Bukan hanya umpatan namun juga pukulan yang Ara terima di setiap harinya. Hati Ara lemah, dia paham tentang rasa sakit.


Pada saat Ara sedang terisak ia lupa kalau ia tidak menguncin pintu kamarnya. Dan kebetulan Angga sedang lewat di depan kamar Ara, mendengar suara lirih tangis yang menyedihkan itu, kontan Angga melihat ke arah Ara yang sedang terisak sambil menjambak rambutnya. Terlintas rasa kasihan di hati Angga saat melihat keadaan adiknya itu. Namun, lagi-lagi bayangan delapan tahun yang lalu membuat Angga menatap Ara dengan kebencian.


"Ka Angga ngapain di sini?"


"Gue cuma lewat, salah?! Keberatan!" Ara menggeleng pelan dan tersenyum.


"Ara cuma nanya ko, gak lebih. Maaf, kalau bikin Ka Angga gak nyaman."


Angga memutar matanya malas mendengar ocehan yang menurutnya lebay.


"Udah bacotnya? Sana balik, tidur gih."


Ara tersenyum mendengar ucapan Angga. Ah, dia rindu bintangnya. Bintang yang tiba-tiba redup tanpa ada alasan apapun.


Saat baru saja melangkah penglihatan Ara tiba-tiba buram, sakit kepala dan pinggangnya mulai menyerangnya. Kenapa tiba-tiba sih kambuhnya? Mana Ara belum minum obat lagi.


Angga mengerutkan keningnya saat tiba-tiba Ara memegang pinggangnya dan menggelengkan kepalanya. Mungkin lagi ngedrama dianya.


BRUKK


Ara sudah tidak dapat menahan pusing di kepalanya lagi. Dia langsung jatuh pingsan persis di depan Angga. Angga yang melihat itu hanya berdecih, mungkin saja adik bungsunya sedang ekting biar dapat belas kasihan darinya.


Namun, tiba-tiba perasaan Angga mulai kacau saat melihat cairan darah kental yang keluar dari mulut Ara. Dengan cepat Angga membopong tubuh Ara ke atas tempat tidur.


Wajah Ara begitu teduh saat ia menutup matanya. Terselip rasa bersalah di benak Angga saat melihat wajah pucat sang adik yang terekam.


"Ara sakit apa?" Lirih Angga menatap nanar ke arah Ara yang sedang terpejam.


"Maaf, kaka salah!" Ucap Angga kemudian keluar dari kamar Ara. Rasanya begitu sesak saat meninggalkan Ara dalam kondisi itu. Namun dirinya yang lain mengatakan bahwa Ara adalah gadis yang pantas di benci, tapi alasannya apa? Entah, rasa benci di hati Angga tumbuh tanpa alasan.