
****
Tak selang beberapa menit setelah kejadian itu, bel pun berbunyi. Seisi kelas bernafas legah, akhirnya tak ada lagi yang mereka takutkan. Kalau ada guru, Ara tidak mungkin mengamuk seperti tadi, kan?.
Setelah selesai melaksanakan apel pagi, seluruh murid masuk kedalam kelas masing-masing.
Saat Ara memisahkan dirinya dari kumpulan murid yang berdesak-desakan masuk ke kelas, Raka, Adit dan Ilham menghampiri Ara yang terlihat memisahkan diri dari kerumunan.
"Woi!"
Ara memutar badannya otomatis dan melayangkan tatapan tajam pada orang yang sudah berani-beraninya mengagetkannya. Ilham yang menjadi pelaku, langsung bergingsut bersembunyi di balik tubuh Raka. "Njiir, baru pagi-pagi sih Key udah nyeremin," aduh Ilham pada Raka yang kini menjadi tamengnya dari tatapan mengerihkan dari Ara.
"Santai aja elah! Tatapan loh ngingetin gue waktu jaman SMP. Loh tau kan, kalau loh natap kaya gitu loh bakal buat anak orang masuk rumah sakit," ucap Adit dengan sedikit kekehan. Jujur saja, saat membayangkan Ara yang dulu Adit seperti kehilangan nyawanya saat bersama dengan Ara.
"Kalian takut sama Key?" mendengar ucapan Raka, otomatis Adit dan Ilham mengangguk mantap. Raka tersenyum miring kemudian mengecup bibir Ara dengan tiba-tiba membuat Adit dan Ilham melotot.
Plak!
"Tuh, nikmatin Rak. Rasanya kayak ada manis-manisnya pasti, hahahahaah." Dengan tampang tak berdosanya Ilham dan Adit tertawa kencang saat melihat Raka mendapatkan tamparan hangat dari Ara. Padahal ini masih pagi loh.
"Sialan loh Dit! Teman menderita bukan di tolong malah di ketawain," keluh Raka dengan mengusap pipinya yang di tampar oleh wanita dihadapannya.
"Heheh, maaf ya Rak, tadi kelepasan. Makannya kalau mau nyium bilang-bilang dulu biar guenya bereaksi." Canda Ara menatap aneh ke arah Adit dan Ilham yang tengah terbengong mencernah kata-katanya.
Raka hanya tersipu malu, masih teringat jelas saat pertama kali ia mencium Ara. "Sialan loh Key!" Sarkas Adit saat ia sudah mengerti dan mendapatkan maksud dari perkataan Ara.
"Loh sama Raka beneran udah pernah ciuman gitu?" tanya Ilham, Raka dan Ara mengangguk.
"Ya ampun," teriak Ilham dengan keras. Sampai murid-murid yang tidak berada jauh dari tempat itu langsung menatap ke arah mereka.
"Malu njiir, loh mau mati?" ancam Ara karena tak enak dengan tatapan aneh yang dilayangkan murid-murid yang masih berada di koridor.
"Ancaman loh emang the best key, gue suka."
"Gue juga suka sama loh," canda Ara yang di hadiahi pelototan oleh Ilham. "Sialan loh! Mau bikin gue baper? Sorry gak mempan, gue udah kenal loh lama." Sombongnya menatap Ara dengan enteng.
"Udah woi, pacarannya. Loh gak mau masuk Ra? Pelajaran udah mau mulai loh," Serly tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka dengan tampang tak berdosanya menjitak kepala Ara. Tentu saja Raka the Genk melotot, apakah Serly tidak tau betapa bahayanya seorang Ara.
"Heheh, maaf Ra kebiasaan," kekeh Serly yang sadar dengan pelototan dari Raka, Ilham dan Adit.
"Ngapain minta maaf? Gak guna juga kalek. Tanpa jitakkan loh hidup gue kurang berwarna gitu." Selepas mengucapkan itu Serly dan Ara menatap wajah satu sama lain kemudian tertawa keras. Sementara tiga makhluk gaib yang berada dekat dengan mereka hanya menggeleng.
"Fiks, Key udah sinting," spontan Ilham yang masih menggelengkan kepalanya. Sumpah ya, ini pertama kalinya Ara tertawa semenjak peristiwa itu. Apalagi dia tertawa dengan begitu keras hanya dengan saling menatap dengan teman barunya, Serly.
Serly menghentikan tawanya saat mendengar seseorang seperti mengatai Keyra dengan lancang. Apalagi di hadapannya.
"Loh Ilham ya?" Ilham mengangguk menjawab pertanyaan Serly.
"Mau gue botakin kepala loh? Hah!?" Ilham terkejut saat intonasi manusia dihadapannya ini sedikit meninggi menjulang langit biru. Eaaa, kagak lah. Author cuma ngadi-ngadi aja.
"Lah? Kita belum kenal terus loh mau botakin kepala gue dan ninggiin suara loh? Wah, berani banget sih loh!" cerocos Ilham yang sedikit terpancing.
"Mau aduh jetos loh sama gue?"
"Tunggu, sebelum kita gelud gue mau nanya. Loh jombloh?" tanya Serly membuat Ilham mengerutkan keningnya bingung sendiri dengan pertanyaan dengan pertanyaan orang yang ada dihadapannya ini.
"Kalau iya, emangnya kenapa? Naksir loh?"
"Loh bukan tipe gue, gue gak naksir banci yang ngajak cewek gelud kayak loh."
"Hahahaha."
"Hahahaha."
"Rasain! Di semprot kan. Hahahaha," tawa mereka memang pecah saat melihat ekspresi kesal sekaligus malu dari Ilham karena mendapatkan perkataan yang seperti bahkan jelas-jelas menghinanya.
"Sialan loh!" Serly menarik Ara dan menjulurkan lidahnya ke arah Ilham yang menatapnya dengan tajam. Ara tertawa melihat ekspresi lucu dari kedua temannya ini. Apalagi sekarang ia di seret oleh Serly menjauh dari sana.
***
Saat memasuki kelas, Serly benar-benar memperhatikan seisi kelas yang menatap Keyra dengan penuh ketakutan. "Ar?"
"Apa?"
"Mereka kok ngeliatin loh kaya gitu banget deh," Ara mengerit kemudian menatap sekeliling kelas. Yang tadinya memperhatikan Keyra langsung memalingkan wajah mereka ke arah lain agar tak tertangkap basah tengah menatapnya. Keyra yang memang merasakan teman sekelasnya menatapnya dengan ketakutan langsung menghembuskan nafasnya kasar. Dia bukan monster, psikopat, atau iblis. Tolong jangan pandang dia dengan tatapan itu. Tatapan penuh luka seperti teman sekolahnya masa SMP dulu. Dia tidak memiliki teman kecuali anggota dari Genk motor yang ia pimpin, The Devil yang beranggotakan sembilan orang.
Ara sering di pandang dengan tatapan menakutkan sehingga sangat jarang yang mau berteman dengannya. Hanya sekedar menatap mata Ara saja, mereka sudah akan berkeringat dingin apalah ketika berteman, bisa mati di tempat.
Aish, memori kelam itu teringat lagi di benaknya, dengan pelan ia menggelengkan kepalanya guna mengusir ingatan kelam yang mengurungnya dalam dunia kelam kesendirian.
Ara menyuruh Serly agar tak terlalu pusing memikirkan tatapan teman sekelasnya dan memilih untuk duduk saja karena guru telah memasuki ruangan.
***
Bel pulang telah berbunyi menandakan pelajaran telah usai dan akan di lanjutkan hari esok.
"Loh pulang bareng siapa Ra?"
"Kayaknya sama kak Angga, emang kenapa?"
"Gak apa-apa. Emm, gue deluan ya? Dah. Sampai ketemu besok."
Pletak
Tak lupa sebelum pergi, Serly terlebih dulu menjitak kepala Ara, katanya sih kebutuhan sebagai seorang teman lebih tepatnya sahabat. Ya, untuk sekedar teman mungkin tidak ya? Hubungan mereka murni persahabatan.
Setelah Serly pulang dan pamit padanya, Ara berjalan menuju kelas Tasya yang satu tingkatan darinya. Aish, anak itu tidak menunjukkan batang hidungnya sejak tadi pagi.
"Key?" Ara yang tengah berjalan menghentikan langkahnya saat seseorang memanggilnya, Ara membalikkan badannya melihat siapa yang memanggilnya.
"Loh? Kok?" Ara jadi bengong sendiri saat melihat orang yang memanggilnya, dia pikir Raka, Ilham atau adit. Ya, karena cuma mereka makhluk yang memanggilnya dengan sebutan 'KEY' nama panggilan ketua Genk motor The Devil.
Grep