Broken Girl

Broken Girl
enam



***


Ara merutuki dirinya sendiri, kenapa dia harus diam saat Raka menciumnya? Aish, memalukan!


"Raka! Pelan-pelan bawahnya, gue masih mau hidup," teriak Ara karena Raka membawa motor itu dengan kecepatan tinggi. Ah ayolah, Ara belum nikah. Dia gak mau mati dalam keadaan jombloh, menggemaskan bre.


"Dulu aja kamu bawa motornya lebih laju dari ini," ucap Raka sedikit berteriak.


"Bacot!!! Loh pelanin atau gue loncat?"


Dengan terpaksa Raka memelankan laju motornya, mau bagaimana lagi. Ara itu orangnya nekat.


***


Setelah menempuh perjalanan sekitar tujuh belas menit akhirnya mereka sampai di kediaman Raka, sesuai kata Raka tadi, bundanya rindu Ara.


"Assalamualaikum," ucap Ara dan Raka kompak. Sara, bunda Raka yang memang sedang menunggu mereka langsung menghampiri mereka, ei ralat hanya Ara.


"Ya ampun anaknya bunda udah besar, dari mana aja sih?" Seruh Sara dengan girang saat bertemu dengan anak kesayangannya. Entahlah, padahal di sini Raka yang anaknya kandungnya tapi, Ara lah yang paling di sayangi nya.


"Raka gak di tanya njiir, woah! Babang Aka ternistakan," ucap Raka sok dramatis.


Ara terkekeh melihat wajah cemberut Raka, aish! Mengapa ia mengabaikan orang seperti mereka selama dua tahun ini?.


"Gak usah mikirin Raka, mendingan kita makan ya? Bunda udah masak makanan kesukaan Key," Ara tersenyum mendengar ucapan bunda Raka, kenapa ibu kandungnya tidak seperti bundanya Raka saja?.


"Raka ikut," seruh Raka, dia sangat kesal di abaikan pada saat Ara datang.


"Mmm, gimana ya? Tanya Key aja," ucap Sara melirik Ara.


"Key sayang? Boleh ya? Soalnya suami loh yang gantengnya kek Na jaemin NCT ini lapar," ucap Raka membuat Ara terkekeh. Lihatlah saat bersama mereka rasanya masalah Ara, sedikit dia lupakan.


"Gendong," ucap Ara membuat Raka mengangkat keningnya bingung, nih anak kesurupan apa?.


"Cie-cie, yang lagi PDKT bunda di lupain," Ara terkekeh.


Ara menyuruh Raka untuk menggendongnya bukan karena usil atau apa. Dia rindu Angga, kakaknya yang sering menggendongnya dulu, semua berubah sekarang. Angga membencinya, Rival meninggal, sekarang tinggal Raka lah tempat Ara mencurahkan kasih sayang.


Setelah sampai di meja makan , Ara terharu saat melihat makanan yang tersaji di atas meja. Benar kata bunda tadi, dia memasak makanan kesukaannya. Dibandingkan dengan ibunya, sangatlah berbeda jauh. Jangankan menyiapkan makanan kesukaannya, di beri makan saja jarang. Kadang Ara hanya makan makanan sisah, atau juga makanan yang di sembunyikan bi Ina dan diberikan padanya.


"Bunda kok masaknya banyak sih?"


"Spesial buat anak bunda," Sara mencium kening Ara. Ara mendapatkan kasih sayang lebih di rumah ini.


"Makasih bun, Key sayang bunda," haru Ara memeluk Sara.


Raka yang menyaksikan pemandangan di depannya hanya tersenyum miring. Raka tidak iri saat bundanya lebih menyayangi Ara, tidak! Malahan dia sangat senang, karena setidaknya Ara mendapatkan kasih sayang di sini dan masih ada orang yang menganggapnya anak, di bandingkan dengan keluarganya yang biadab itu.


"Raka terabaikan ... hiks," wahai Raka, kenapa kau sok dramatis sekali? Wkwwkwkk.


***


"Makasih ya Rak?"


"Sama suami gak perlu bilang makasih, ini udah kewajiban suami buat istri nya," jawab Raka yang membuat Ara memutar matanya jengah. Ini orang gak bisa dibaikin dikit ya? Nanti ngelunjak.


"Udah minum obat Rak?" Raka mengerutkan keningnya bingung. Minum obat? Memangnya ia sakit apa?.


"Gue gak sakit."


"Tapi, kok otak loh kaya kegeser gitu, atau loh kejedot ya?"


"Udah malam, pulang gih," ucap Ara karena memang hari sudah gelap dan Raka sudah mengantarkan Ara kerumahnya.


"Gue masih kangen sama loh, Key? Kita baru ketemu loh semenjak dua tahun ini. Gue masih pingin main,"


Cup


Ara langsung berlari ke arah rumahnya karena menahan malu. Raka sih, mulutnya kek betina, di sumpal pake bibir diam kan? Sementara Raka? Seketika badannya menegang, jantungnya berdetak kencang, pikirannya melayang entah kemana, bulshing Raka nya.


Perlahan bibir Raka tertarik keatas memamerkan senyumnya, ia mengusap bibirnya yang barusan di kecup Ara. Rasanya seperti mimpi, Ara tiba-tiba menghilang dengan luka yang amat dalam dan kini dia kembali hadir masih membawa luka itu. Raka janji, ia akan membahagiakan Ara walaupun nyawa taruhannya.


***


Ceklek


Ara membuka pintu dengan perlahan, berharap semua orang sudah tidur karena memang malam sudah sedikit larut.


Ara berjalan mengendap-ngendap dan melihat situasi sekeliling ruangan. Semoga mereka semua udah tidur.


Ara terkejut saat tangannya di cekal oleh seseorang. Dengan cepat ia membalikkan badannya menghadap ke arah orang itu.


"Dari mana?" Ara mendongak menatap wajah kakaknya yang memerah. Mungkin ia sedang di sulut emosi sekarang. Aish, dapat siksaan lagi malam ini. Padahal semenjak ia pingsan di hadapan kakaknya, Angga sudah tidak menyiksanya. Dan sekarang? Apakah Angga akan menyiksanya kembali?.


"Dari rumah bunda," ucap Ara jujur. Angga menatap Ara dengan bingung, bunda? Siapa?.


"Siapa?"


"Bundanya Ara," sambung Ara yang membuat Angga semakin bingung.


"Siapa dia?"


"Bunda Sara, bundanya Raka sama Ara," sambung Ara lagi.


"Bundanya Ara? Ingat Ra? Kamu punya ibu di rumah ini, kenapa masih mau nyari bunda lain di luar sana?"


Ara tersenyum. "Ara tau, Ara sayang ibu. Hanya saja Ara nggak disayang di rumah ini, Ara gak di anggap, bahkan Ara di anggap kaya binatang di rumah ini! Kak Angga tau gak? Pas Ara sampai di rumahnya bunda? Ara di peluk, di cium, bahkan bunda masak makanan kesukaan Ara. Ara bahagia," ucapan Ara membuat Angga bungkam.


"Kok diam kak? Kak Angga gak mau marah-marah atau mukul Ara gitu? Ara udah siap kok. Lagian tadi Ara juga udah bahagia, so? Apa salahnya kalau Ara di siksa sekarang."


"Naik ke atas, cepat! Sebelum ayah sama ibu lihat, ini udah malam. Jangan sampai Ara di kurung di kamar mandi lagi."


Jawaban Angga membuat Ara bingung. Ada apa dengannya?


"Ara salah Ara siap di hukum."


"Cepat naik!"


"Ara bukan pengecut," elaknya.


Bugh


Ara jatu pingsan saat Angga memukul bagian belakang leher Ara. Sebenarnya semenjak Ara pingsan kemarin malam, Angga berubah, ia ingin melindungi adiknya dari kemarahan orang tuanya. Tapi, karena Ara ngeyel jadi Angga harus melakukan ini.


Dengan cepat Angga membopong tubuh adiknya ke kamarnya. Angga menghela nafas panjang saat melihat tangga ke kamar Ara sangat banyak. Dia harus kuat.


Angga membaringkan Ara dengan perlahan, ia menatap teduh wajah adiknya yang selama ini di bencinya karena alasan yang tak jelas.


"Maafin kakak ya? Selamat tidur sayang, mimpi indah. I love you my sister."


***