
***
"Ara?" mendengar suara seperti ada yang memanggilnya, Ara membalikkan badannya dan tersenyum saat mengetahui yang memanggilnya adalah Serly, teman sekelasnya.
"Apa?"
"Cielah, ngegas banget nyahutnya."
"Iya deh. Ada apa Serly cantik," gumam Ara dengan suara yang di buat sok imut yang membuat Serly tersenyum menang. Memang karena kejadian Serly melaporkan pembullyan Dinda pada Ara. Mereka sedikit menjadi dekat, dan bisa di anggap teman baik.
"Pak Angga mana?" tanya Serly dengan tampangnya yang sok imut membuat Ara rasanya ingin muntah.
"Kak Angga Mulu deh di pertanyaan loh. Kenapa gak sama orangnya langsung sih?" ketus Ara yang merasa bosan karena di setiap kalinya mereka bertemu atau berbicara lewat via HP pasti yang pertama di pertanyakan Serly adalah kakaknya, Angga.
"Namanya juga naksir, pasti gitulah. Secara kan, pak Angga ganteng, cool, baik ahh, pokoknya semuanya tentang pak Angga mendekati sempurna deh."
"Serah deh serah. Emm, btw sih Dinda ddk mana ya?"
"Ngapa nanya mereka? Mau di bully lagi loh?"
"Gak sih, cuma rasanya gimana-gimana gitu gak ada gangguan mereka."
Pletak!
"Di gaplok guenya njiing," Ara memegang kepalanya yang perih saat Serly menjitak kepalanya dengan keras. Definisi teman lucnut.
"Loh si, yang di kangenin yang model kaya gitu. Aneh!!"
Tak terasa selama mereka berbincang sambil berjalan mereka telah sampai di depan kelas dan langsung memasuki kelas.
"Hello guys," sapa Serly pada teman sekelasnya. Ara hanya diam dan jalan saja tanpa memperdulikan tatapan aneh dari teman sekelasnya. Jujur saja, mereka cukup sedikit kesal dengan Ara. Gara-gara dia, mereka tidak dapat hiburan, hiburan pembullyan maksudnya. Karena Angga sudah mengancam keras bagi pelaku pembully.
Bruk!
Ara terjungkal ke lantai saat salah satu temen sekelasnya dengan sengaja mendorongnya.
"Ssssh," ringis Ara memegang lututnya yang berdarah. Bukan menolong, seisi kelas Mala menertawakan kesialan Ara, bagi mereka penderitaan anak culun seperti Ara merupakan sesuatu Rahmat yang tak bisa di sia-siakan. Serly yang memang sedang memakai headset saat memasuki kelas tak mendengar keadan riuh di dalam kelas, sampai akhirnya Serly membalikkan badannya saat melihat teman-teman di sampingnya sedang tertawa.
"Woi!" teriak Serly saat melihat Linda, teman sekelasnya yang mau menumpahkan minumannya pada Ara yang tengah meringis memegang lututnya di lantai.
Linda terhenti saat mendengar teriakkan serly kemudian menatap Serly dengan tajam.
"Apa?!" jawab Linda dengan nyolot, Serly adalah tipe yang samasekali tidak suka di bentak. Dan sekarang Linda membentaknya? Oh, tidak bisa dia biarkan.
"Nyolot banget sih, loh."
"Kenapa? Marah? Woi? Ingat ya? Loh juga salah satu dalang gue gak bisa ngeliat Ara di bully. Padahal loh kan tau gue seneng banget liat dia menderita."
Serly naik pitam dan langsung mendaratkan tamparan di pipi Linda sehingga meninggalkan bekas tangan yang memerah disana. Linda tersenyum miring sambil memegang pipi kanannya yang terasa perih.
"Maksud loh nampar gue apa? Hah?! Mau berantem loh sama gua? Sini, gue ladenin. Guys," tantang Linda sambil memanggil teman-temannya yang di sahuti oleh mereka dan siap-siap menghajar Serly karena sudah berani-beraninya mengganggu kesenangan mereka.
Serly yang pertama kali berani tiba-tiba nyalinya ciut saat Fatma, Elsa, Nanda, dan Nathalia yang berdiri di hadapannya seperti sedang mempersiapkan pelajaran berharga padanya. "Curang loh, masa beraninya keroyokan?" enteng Serly yang sebenarnya sudah ketakutan.
"Satu tumbang, semua ikut campur. Itu prinsip persahabatan kita," ucap Elsa dengan nadah sombongnya menatap Serly dengan enteng.
Serly hanya bisa menggerutu dalam hati saat baru pagi-pagi ia sudah berbuat gara-gara dengan kembaran Dinda ddk. Bukan kembar saudara gitu ya, nggak! Maksudnya tukang bully.
"Serang guys," instruksi Linda yang kemudian mereka angguki dan bersiap-siap menjambak dan mengeroyoki Serly. Karena kebetulan masih sangat pagi, jadi pasti tidak ada guru yang mengetahui nya.
Mereka berjalan ke arah Serly dan ...
Brukh
Brukh
Bugh
Bugh
Dunia seakan berhenti, tak ada yang bisa mengedipkan matanya dan bernafas. Semuanya mengangah tak percaya saat melihat Ara yang membanting dan memberikan pukulan pada Linda ddk yang bersiap memukul Serly, mala berbanding terbalik. Mereka lah yang terkena sial dan mendapatkan pelajaran dari Ara, murid yang sering mereka bully.
"SENTU DIA, KALIAN MATI," sarkas Ara dengan nadah dingin menusuk serta melayangkan tatapan tajam ke arah teman sekelasnya satu persatu. Semuanya bergidik ngerih melihat ekspresi Ara yang persis dengan psikopat yang ingin membunuh mangsanya, ini adalah pertama kalinya mereka melihat Ara berperilaku seperti itu.
Serly yang berada di tepat di belakang Ara. Hanya mampu menganga tanpa berkedip, ternyata Ara tidak secupu yang ia kira. "Ra?" lirih Serly memegang lengan Ara dengan sedikit gemetar, Ara tak menggubrisnya malahan ia menghempaskan tangan Serly dengan kasar dan berujar. "JANGAN ANGGAP GUE DIAM DAN GAK NGEBALAS PERLAKUAN BRENGSEK KALIAN SELAMA SETAHUN INI KARENA GUE TAKUT ATAU LEMAH. KALIAN SEMUA TAU GAK? GUE ADALAH TIPE ORANG YANG BAR-BAR DAN PEMARAH. DAN, KALAU GUE CUMA DIAM TANPA BEREAKSI SAAT KALIAN BULLY GUE? ITU TANDANYA GUE UDAH ANGGAP LOH SEMUA BINATA*NG!!" Ara benar-benar emosi untuk saat ini. Ia bisa terima saat ia mendapat perlakuan tak menyenangkan dari mereka. Tapi, tolong jangan perlakukan temannya seperti itu atau kalian akan dapat akibatnya.
Kelas yang tadinya ricuh mendadak sunyi, dan orang yang menertawakan Ara tadi, hanya bisa tertunduk dan gemetar ketakutan. Ara benar-benar seperti iblis sekarang.
Brakkk
Dengan kasarnya Ara, mengangkat meja dan melemparkan ke Ara Linda ddk yang membuat seisi kelas berteriak histeris termasuk Serly.
"Ara!!! Stop! Gue takut, jangan ngelakuin ini." Ya, hanya inilah yang bisa Serly lakukan. Memeluk Ara dengan erat sambil terisak, ia tak ingin Ara kenapa-kenapa, Ara adalah teman baiknya yang luguh. Tidak mungkin Ara gadis kasar, bukan?.
Ara langsung terdiam saat Serly memeluknya dengan kuat dan terisak. Ara merasa bersalah karena telah membuat temannya itu ketakutan. Dengan menghembuskan nafas beratnya, Ara tersenyum kemudian memeluk Serly. "Maaf ya? Tadi kelepasan aja, heheh," ucapannya terkekeh.
Semua orang yang di dalam kelas bernafas legah saat Serly berhasil mengendalikan keadaan Ara yang tadinya begitu menakutkan. Serly melepaskan pelukannya kemudian menjitak kepala Ara, ya seperti biasanya. "Loh nakutin, nyeremin tau gak!" keluh Serly mengusap air mata yang masih tersisah di matanya. Ara tidak mengeluh saat Serly menjitak kepalanya seperti biasa, Ara malah tersenyum dan menglap sisa-sisa air mata di pipi temannya itu.
"Maaf, Keyra yang dulu tiba-tiba datang tadi. Soalnya kangen udah dua tahun gak bikin orang koma," santai Ara menarik tangan Serly untuk duduk di bangkunya. Sementara Serly hanya cengoh, apa katanya? Bikin orang koma? Sinting!
Setelah Ara duduk di bangkunya bersama dengan Serly, keadaan kelas kembali normal. Kecuali, Linda ddk yang masih meringis merasakan kenikmatan yang Ara berikan. Wwkwkwkkk.
Orang di dalam kelas tak luput menatap Ara dengan penasaran. Sepertinya dia memiliki kepribadian ganda, lihat saja ekspresinya yang santai dan tertawa saat mendengar lolucon dari Serly. Perasaan tadi ia berubah jadi mengerihkan, kenapa dia berubah seolah tak terjadi apa-apa?