Broken Girl

Broken Girl
dua belas



***


Saat Angga memasuki toilet siswi yang di maksudkan oleh muridnya yang di kelas tadi. Tak sengaja ia mendengar suara air yang sepertinya berasal dari salah satu ruangan toilet di hadapannya. Dan?.


BRAKK


"KEYRA!!?"


"Ra?"


"Ra?"


"Ara? Ara bisa denger kak Angga kan? Ara!!?" Teriak Angga dengan frustasi sambil menepuk-nepuk pipi Ara. Berharap agar sang empuh merespon namun, sepertinya nasib baik tak berpihak kepadanya, Ara tak merespon. Matanya masih terbuka, hanya saja pandangannya kosong. Ah ayolah, bagaimana perasaanmu kalau menjadi Angga? Dia barusan berbaikan dengan adiknya dan baru hari ini pertama ia membawa Ara ke sekolah sebagai adiknya, bukan orang asing. Tapi kenapa hal yang pertama kali ia dapatkan seperti ini? Ara yang tergeletak lemas dan dengan air shower toilet yang mengalir tepat pada tubuhnya. Lihatlah, sekarang Ara sudah pucat fasih. Di tambah lagi, tunggu dulu! Apa ini? Di wajah Ara ada lebam? Jadi, maksud ada yang menyakiti adiknya? Siapa? Tunggu saja, ia akan memberikan pelajaran berharga pada mereka.


Dengan perlahan Angga menggendong tubuh mungil adiknya keluar dari toilet dan segera menuju UKS. Ara hanya bisa menatap kosong wajah peluh khawatir yang tengah menggendongnya. Aish! Untuk mengeluarkan suara saja ia sudah tak kuat. Rasa dingin, perih dan sakit menjalar seketika di tubuh Ara.


BRAAAK!!


"Eh, ayam-ayam."


"******!"


"Wih!"


Kurang lebih begitu lah reaksi orang yang berada di dalam UKS saat dengan kasarnya menendang pintu UKS.


Angga hanya menatap datar para anggota PMR yang secara tak sengaja mengumpatinya. Kalau saja tidak dalam keadaan genting pasti sudah ia habisi orang yang berani mengumpatinya.


"Pak Angga?"


"Gak usah banyak bacot! Udah cepetan ganti baju Keyra, kemudian tangani. Kalau saja ia kenapa-kenapa kalian berurusan dengan saya."


Tiga perempuan di hadapan Angga tiba-tiba tegang, sekaligus ngerih saat mendengar ungkapan mengerikan dari guru yang terkenal kejam di hadapan mereka. Tapi, tak bisa di pungkiri walaupun mungkin Angga memiliki kepribadian yang kejam tapi ketika melihat wajah tampannya seakan menyihir tanggapan kejam tentangnya. Menurut mereka Angga terkesan imut dan tampan.


"I---ya pak," ucap Asma.


"Pak, silakan keluar dulu. Saya mau ganti baju Keyra dulu," sambung Liza dengan nadah se sopan mungkin. Angga memilih mengangguk kemudian keluar dari UKS.


"Arrrg!" Angga mengacak rambutnya frustasi.


"Maaf, maaf, maaf. Kakak ngga bisa jaga kamu, maaf, maaf," Angga merutuki dirinya sendiri. Ah! Andai saja ia mengantarkan Keyra sampai di kelas. Pasti hal ini tidak akan terjadi.


Tiba-tiba darah Angga berdesir hebat, matanya memerah. Oh iya, dia ingat dengan kata Serly yang memberitahukan keberadaan Ara. Tunggu dulu, tau dari mana dia bahwa Ara di toilet?. Angga segera bangkit dari duduknya kemudian langsung berjalan ke arah kelas Ara.


***


"Ehem!"


Keadaan kelas yang tampak ricuh seketika menjadi hening saat terdengar deheman guru yang mereka takuti.


Angga menatap tajam semua muridnya satu-satu. Kira-kira siapa yang sudah melaksanakan itu pada adiknya. Kenapa mereka begitu tega? Cukup, orang tuanya saja yang Angga lihat menyiksa Ara. Yang lain tak perlu ikut campur.


"Boleh saya bertanya?" Angga membuka suara dengan pandangan yang masih lekat mengarah pada murid-muridnya. Semua murid di kelas ini menelan Salivanya dengan kasar, kecuali Dinda. Dia adalah salah satu murid di sekolah ini yang begitu mengidolakan Angga. Emm, kayaknya bukan idolah deh. Lebih tepatnya tergila-gila pada Angga. Bagaimana tidak, fisual Angga yang begitu gagah dan tampan membuang jauh-jauh tentang rumor kekejamannya. Para fens Angga menganggap Angga adalah guru yang cukup baik dan tak pernah menunjukkan kekejamannya. Itu hanya menurut fensnya aja ya? Bukan murid-murid yang bad.


"Serly? Maju," Serly yang masih fokus dengan gedgednya samasekali tak merasakan kedatangan Angga. Bahkan ia tak mendengarkan ketika Angga memanggilnya.


"Serly?" panggil Angga lagi. Namun, Serly tertalu larut di dunianya sendiri tanpa menyadari guru di depan kelasnya yang sudah mulai emosi dengannya.


"Serly?" Ah! Cukup, Angga sudah tak tahan bukankah sudah tiga kali ia memanggil muridnya itu? Kenapa di abaikan?. Lihatlah seluruh murid yang di dalam kelas itu tengah menatapnya dengan tajam.


BRAAAK!


"Omo omo. Jaemin~ah," Serly berteriak tak jelas saat dobrakan meja yang membuatnya yang sedang asik menonton biasnya jadi terganggu.


"Apa sih! Ngage---eh, pak Angga? Halo pa," Serly yang berniat mengomeli orang yang sudah berani-beraninya mengagetkannya urung saat melihat wajah guru di hadapannya ini dengan lekat.


"Kamu budek?"


"Maju!"


"Lah?" Angga meloloti Serly yang menurutnya sangat tulalit. Apa susahnya tinggal maju sih?. "Hehe, iya pak," melihat ekspresi Angga yang sepertinya marah dengan sikap. Serly menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan langsung maju ke depan sesuai dengan permintaan gurunya.


"Boleh saya bertanya, serly?"


"Pak Angga mah, banyak tanya. Kalau mau nanya langsung ke intinya aja pak. Soalnya males kalau banyak ngomong," gumam Serly.


"Eh eh--- maaf pak keceplosan. Ehm, silakan pak, tapi kalau ada yang gak bisa saya jawab maaf ya?" Ucap Serly dengan tampangnya yang merasa berdosa karena seperti berkata lancang pada gurunya itu. Angga memutar matanya malas, siswi di hadapannya ini memang memiliki karakter yang ajaib.


"Kamu kenapa bisa tau soal Ara yang ada di toilet?"


Deg


Suara Angga yang cukup bisa di dengar oleh murid di kelas ini. Membuat tak sengaja Dinda ddk mendengarkan ucapan Angga. Seketika tubuh mereka seperti melembek, mereka dikuasai gugup yang berlebihan. Bagaimana kalau Angga tau mereka yang sudah menyiksa Ara?.


"Karena saya tau, tukang bully kaya mereka pasti akan ngelakuin apa-apa sama Ara. Mereka narik Ara paksa soalnya," seruh Serly dengan mantap sambil menunjuk ke arah Dinda ddk yang kini sudah di kuasai rasa takut.


"Kamu jangan bohong, kalau bohong kamu tau kan konsekwensinya?" Serly tersenyum. "Emangnya muka polos kaya saya ada tampang bohongnya pak?" Angga menggeleng. Dengan melihat ekspresi wajah Serly yang polos itu tidak mungkin dia berbohong kan?.


Kini tatapan Angga beralih pada Dinda ddk. "Maju!"serunya menatap ketiganya dengan tajam.


Mau tidak mau mereka harus maju. Tidak lucu jika harus membuat guru ini marah. Citra mereka akan hilang nanti.


"Sekarang kalian keliling lapangan lima puluh kali. Dan, selama sebulan kalian harus bersihkan seluruh toilet sekolah,'' ucap Angga dengan lantang menatap tajam keduanya.


"What!!?"


"Hah?!"


"OMG," ketiganya tentu kaget. Bagaimana bisa most wanted girl seperti mereka di hukum seperti itu? Ini bukan mimpi kan? Hahah, gak lucu tau gak?.


Angga mengangkat satu alisnya melihat ekspresi kaget sekaligus tak terima dari ketiganya. "Mau protes? Atau saya aduin perlakuan kalian sama orang tua kalian biar mereka tau bahwa anak-anak mereka berbuat hal yang sekeji ini."


"Ah, jangan pak," ucap mereka bersamaan. Oke, mereka terima.


"Satu kali saya liat atau dengar kalian nyiksa Ara lagi. Saya akan buat perhitungan pada kalian! Ingat itu," Dinda ddk hanya tersenyum masam. Aish, mengesalkan! Setelah mengucapkan itu Angga keluar dari kelas. Tapi, baru berapa langkah tangannya sudah di cegat oleh seseorang.


"Pak?" Angga mengangkat sebelah alisnya seperti mengisyaratkan kata 'apa'.


"Kok cuma Ara aja yang di lindungin gitu sih pak? Sekarang nyawa saya juga dalam bahaya tau gak! Kalau mereka nyiksa saya gimana pak?" Angga menatap siswi dihadapannya ini dengan tersenyum. Oh iya, dia hampir lupa dengan anak ini. Bagaimana kalau di jadi sumber bully karena telah mengadukan pembullyan padanya?.


"Ya udah, ikut saya ke UKS."


"Lah? Ngapain pak?"


"Gak mau? Atau mau di kelas aja?" Serly menatap Dinda ddk yang tengah menatapnya tajam. Ia menggeleng lalu mengangguk menatap gurunya itu.


"Yaudah deh pak."


***


Ceklek


"Ehm," deheman Angga membuat empat orang yang berada di UKS itu teralihkan. Asma, Lisa dan Tia yang sedang bercerita dengan Ara mengalihkan pandangannya ke arah pintu UKS yang terbuka.


"Kak Angga?"


Angga tersenyum melihat Ara yang sudah lebih baik daripada tadi. Lihatlah, dia tersenyum menatap ke arahnya.


"Ara nggak apa-apa? Atau ada yang sakit?" Ara menggeleng dan tersenyum. "Makasih kak, kata mereka kak Angga yang udah bawah Ara ke UKS," Angga tersenyum kemudian memeluk Ara. Oh iya, Angga lupa kalau di sini bukan hanya mereka berdua.


Angga melepaskan pelukannya kemudian beralih menatap ke empatnya yang menatap bingung. "Keyra adik kandung saya jadi, gak usah mikirin macem-macem," mereka mengangguk