
***
"makasih Rak," ucap Ara saat Raka mengantarkannya hingga di depan gerbang rumahnya. Raka tersenyum dan mengangguk, rasanya ia ingin Keyra yang ceria seperti dulu kembali lagi.
Raka memandangi Ara hingga tubuh Ara hilang dibalik pintu rumahnya. Setelah memastikan Ara sampai dengan selamat hingga masuk rumahnya , barulah Raka bergegas pergi .
Ara memasuki rumahnya dengan perasaan tak karuan, ia masih ingat tatapan Angga waktu di koridor sekolah tadi. Tatapan yang seakan menunjukkan ada rasa yang ingin berperang dari sana.
"Ara!" Angga memanggil Ara dengan suara beratnya. Ara berjalan tertunduk ke arah Angga, siap-siap Ara, siksaan menantimu.
"Jauhin anak itu," ucap Angga yang sedikit terkesan membentak, Ara mendongak menatap wajah kakak sulungnya ini dengan tatapan kecewa sekaligus bingung. Kenapa dia menyuruh Keyra untuk menjauhi Raka? Dan, alasannya apa?.
"Tadi adalah hari terakhir kakak liat Ara jalan sama dia, kalo Ara nggak mau ngejauhin dia! Ara liat aja apa yang bakal kakak lakuin sama Ara," tekannya membuat Ara mengeraskan rahangnya. Apa haknya melarang Ara untuk berhubungan dengan Raka?.
"Lakuin aja yang mau kak Angga lakuin ke Ara, gak usah sok-sokan ngancem Ara buat jauhin sahabat Ara. Kak Angga gak punya hak buat ngebatasin pertemanan Ara."
PLAKKK
"Berani sekali kamu ngebentak Kakak kamu! Emang kamu gak tau diri ya?" Dengan tidak epiknya Rini, ibu Ara muncul dari dalam kamar. Mendengar suara seperti suara gaduh ia langsung keluar kamar dan mendapati anaknya yang sedang berkelahi.
Ara meringis, bukan karena tamparan yang ibunya daratkan pipinya, bukan! Ini murni sakit hati karena sering diperlakukan dengan tidak adil oleh keluarganya.
BUGH
BRUKK
Kali ini Wijaya yang datang dan langsung menendang Ara hingga badannya terbentur di lantai. Pembantu yang melihat kejadian itu hanya bisa menatap Ara dengan kasihan tanpa ada niat untuk menolongnya, lagipula ia tidak punya hak selain Bekerja di rumah ini. "Malang sekali nasibmu nak," gumam pembantu itu.
Karena tubuhnya yang terhempas kuat membuat tubuh Ara seakan remuk. Bagaimana bisa seorang ayah dan ibu melakukan ini pada anaknya?
PLAKKK!!
Tak berhenti dengan menendang putrinya, Wijaya kembali melayangkan tamparan keras pada wajah mulus Ara yang kini sudah babak belur. Ara hanya diam tak samasekali berniat untuk membalas.
Angga yang tidak menyangka ini akan terjadi mencoba memberhentikan yang orang tuanya lakukan pada adiknya namun, ia terlambat. Tendangan dan tamparan keras sudah ia terima sebelum Angga menolongnya. Ini salahmu Angga! Andai kau tidak memulai perdebatan ini.
"Kenapa ngelawan sama yang lebih tua? Hah!? Kamu udah ngerasa hebat?" Ara menggeleng tanpa ada niat membalas ucapan ibunya yang kini tengah di kuasai amarah. Ah ayolah Keyra, kau wanita hebat!
"Anak bedebah!"
PLAKKK!!
Ara jatuh tersungkur tak berdaya, ia pingsan yang di iringi dengan kejang-kejang. Tasya yang barusan tiba di rumah, menegang seketika melihat pemandangan ngiluh dihadapannya. Apakah ini pembunuhan?.
"KEYRAAAA!!!!" Tasya berteriak histeris, cukup! Ini sudah keterlaluan. Tasya tidak bisa diam melihat perlakuan keluarganya pada adik bungsunya, Keyra bisa tewas mengenaskan kalau seperti ini.
Tapi, seakan bisu. Orang tuanya dan Angga hanya diam di tempat tanpa berniat menolong Keyra yang sudah tak sadarkan diri. Tasya memeluk erat Keyra mencoba memberikan kekuatan untuk adiknya yang sudah menutup matanya.
"Ibu gila! Kalian semua gak waras! Bisa-bisanya kalian lakuin hal di luar nalar kaya gini sama keyra. Kalian manusia atau gak sih?! Kalian gak ada hati, kenapa kalian kejam banget sama dia hah?! Jelasin ke Tasya kenapa? Hiks ... hiks ...,'' sudah! Tasya sudah tak tahan lagi jika harus menahan emosi yang sudah menggelengkan hebat di dalam hatinya.
"Tasya, dia itu pernah buat kamu koma selama sebulan dan ngebuat Angga harus kehilangan ginjalnya. Kamu tau? Kalau waktu itu gak ada yang donorin ginjalnya ke Angga, Angga udah mati pasti. Jadi, Tasya udah ngerti kan?"
"Itu bukan alasan buat ngelakuin semua itu sama Keyra," lirih Tasya.
"Sya?"
BRAKKK
"Rak? Ara," Raka mengangguk kemudiam membopong tubuh Ara keluar dari rumah itu.
***
Ara mengerjapkan matanya berkali-kali mencoba menelisik ruangan bernuansa putih itu. "Ini dimana? Rumah sakit atau?"
Ceklek
Saat melihat orang yang muncul dari balik pintu masuk Keyra akhirnya tau, dia berada di rumah sakit.
"Adiknya gue udah sadar," ucap Alan mengacak rambut Keyra. Sang empuh tidak melarang mala membiarkan dokter itu mengacak rambutnya. Nyaman, hanya itu alasannya, ia ingin di sayangi keluarganya seperti yang Dokter Alan lakukan padanya selama kurang lebih dua tahun ini. Dia adalah tempat mengadu seorang Keyra.
"Lama banget sadarnya, abang khawatir tau gak! Apalagi pas delapan hari yang lalu, Key? Kamu kritis banget tau gak. Abang takut, kamu nyusul Rival."
Ara tersenyum memandang peluh wajah khawatir dari seseorang dihadapannya ini. Dia adalah orang yang lebih mengenal seorang Keyra dua tahun belakangan ini.
"Selama itu Key gak sadar bang?" Alan mengangguk.
"Yang jengukin Key, ada nggak bang."
"Sih Tasya ama Angga. Tapi, kalau buat yang jagain, abang sama si Raka gantian. Nah, sekarang kan dia lagi sekolah sekarang giliran abang jagain Key," Keyra tersenyum simpul mendengar ternyata Angga menjenguknya.
"Penyakit Key, apa kabarnya bang?"
Degh
Tiba-tiba detak jantung Alan berpacuh sangat cepat darahnya seakan berhenti mendesir. Pertanyaan Keyra membuat hatinya tiba-tiba seperti mendidih, ia belum siap kehilangan sosok di hadapannya ini. Dia masih ingin melihat Keyra meraih cita-citanya dan kelak mempunyai rumah tangga, Keyra tidak akan mati secepat itu.
"Bang?"
"Ginjal Ara gimana?"
"Abang keluar ya? Yang penting Key udah sadar, soalnya banyak pasien."
"Baang,"
Grepp
Alan memeluk Keyra dengan erat sambil terisak. Dia tidak akan kehilangan adik yang kesekian kalinya. Cukup Rival saja, jangan Keyra. Hidupnya cukup tersiksa dengan keberadaannya yang hadir di tengah-tengah keluarganya yang kejam itu, kenapa penderitaannya harus bertambah dengan penderitaan sakit parah? Bolehkah posisi Keyra di tukar dengan Alan? Kalau boleh, pasti sudah lama ia melakukannya.
"Key baru sadar dari koma, sekarang fokus sama kesehatan Keyra dulu. Gak usah mikirin hal-hal yang lain,'' seakan mengerti dengan ucapan Alan. Keyra tersenyum dan membalas pelukan orang yang sudah di anggap kakak kandungnya itu.
"Udah parah ya?"
"Jangan tinggalin abang, abang bakal kasih apapun yang Keyra minta asalkan Keyra tetap bertahan."
"Key lelah kak," Alan melepaskan pelukannya kemudian mengusap air matanya dan memberikan kecupan di kening Keyra.
"Bertahan buat abang boleh?" Keyra langsung mengangguk saat melihat wajah peluh dari Alan. Dokter di hadapannya ini akan menjadi seorang yang cengeng saat membahas kondisi kesehatannya. Sebenarnya setahun yang lalu Keyra akan melaksanakan pengangkatan ginjalnya yang sudah tak berfungsi. Namun, tiba-tiba Angga kecelakaan parah dan akibatnya ginjalnya rusak sehingga menyelamatkan nyawanya adalah hal yang mustahil kalau tidak punya pendonor. Keyra yang mendengar bahwa kejadian itu menimpa kakaknya langsung memutuskan membatalkan rencana operasinya dan merelakan ginjalnya yang masih utuh dan sehat kepada Angga. Dia menyelamatkan Angga tanpa sepengetahuan orang-orang, hanya Alan dan para dokter yang melakukan operasi itu yang tau.
"Sehat selalu."
"Keyra gak bakal mati sebelum ngelihat kak Alan nikah," Alan tersenyum malu saat mendengar ucapan Keyra. Dia memang sudah melamar kekasihnya dan akan mengadakan pernikahan dua bulan depan atas permintaan Keyra. Katanya sih, mau liat Alan nikah sebelum ia menutup matanya.