
Pagi menjelang aruna keluar dari kamar sambil mengucek kedua matanya, matahari telah meninggi. Aruna mengedipkan mata agar terbuka pelan2 mendapati danis duduk disofa dengan wajah masam.
"danis" ucap aruna mendekat
"sudah jam berapa aruna, aku sudah berkemas koperku sudah siap, bagaimana dengan pakaianmu?" tanya danis sambil menunjuk koper didepannya.
Melihat danis kecewa, aruna sedikit kebingungan
"tenang, akan kusiapkan peralatanku secepatnya, lagipula danis aku tak perlu membawa pakaian banyak, aku bisa berbelanja kan nanti disana" aruna kembali masuk ke kamar dengan cepat.
Danis mendengus merasa istrinya tak bersemangat sedikitpun. Bagaimana bisa mau berbulan madu tapi tak terlihat antusias.
"molor sampe pagi jelas2 siang ini harus terbang" gerutu danis sambil memasukan kopernya ke dalam bagasi mobil.
Lewat setengah jam aruna sudah menyiapkan pakaian yang akan dibawanya. Memang tidak banyak hanya satu tas besar tapi membawa koper kosong.
"aku sudah siap, sudah mandi juga" ucap aruna sumringah.
"cepet amat" danis menuju dapur dan diikuti aruna.
"ayo sarapan sudah disiapkan de nem" danis mulai mengambil piring.
"hmm masakan de nem ga pernah gagal, wangi banget baunya, masak apa de?" tanya aruna.
"bikin soto reques mas danis" jawab de nem.
Aruna ikut mengambil piring dan mulai mengambil nasi.
Mereka sarapan bersama sebelum pergi berbulan madu.
"de nem, karena kita mau pergi beberapa hari de nem bisa masak persediaan yang ada di kulkas ya, kalau kurang dompet belanjaan sudah kuisi de?" ucap aruna.
"yaa" jawab de nem.
Selesai sarapan aruna kembali ke kamar mengambil tas yang disiapkannya, dan membawanya ke dalam mobil. Sedangkan danis kembali ke kamar mengambil camera ingin mengabadikan moment selama bulan madu mungkin.
Usai bersiap keduanya berpamitan pada de nem.
"jaga rumah baik2 ya de, kalo ada apa2 bisa telpon ya, kalau mau pergi jalan2 juga boleh" kata2 aruna dijawab anggukan.
"kami berangkat ya de" tambah danis.
Wajah aruna terlihat sumringah, ponsel danis berdering, tak sengaja aruna melihat nama celine disana. Danis memasukan ponselnya dan memilih masuk ke dalam mobil.
Aruna mengikuti danis masuk ke dalam mobil.
"kenapa ga diangkat?" tanya aruna.
"nanti aja kalo sudah sampai disana baru aku kabari lagi" jawab danis.
"perlu ya kasih kabar sama celine, aku aja ga kabari mama lo, kamu juga ga kabari papa? Kenapa kabari celine?"
"oke, aku tak akan kabari celine, sudah!" danis bersiap menghidupkan mesin.
"oke" ucap aruna sambil mengenakan sabuk pengaman.
Aruna dan danis mengubah tujuan bulan madunya, mereka memilih ke kiyoto banyak hal yang menjadi pertimbangan mereka.
Sepanjang perjalanan ke bandara aruna hanya mengalunkan lagu yang diputar dimobil danis.
Mendengar suara aruna, danis sempat kaget, ternyata istrinya juga bersuara merdu tak kalah dari celine.
Danis tiba2 mematikan lagunya dan aruna berhenti bersenandung.
"kenapa danis?" tanya aruna kaget
"sudah kau bernyanyi sendiri saja aku mau mendengar suaramu!"
Aruna tersenyum tipis tapi tak meneruskan nyanyiannya.
"jika boleh tolonglah bikinkan aku lagu, akan kunyanyikan sendiri untukmu bukan orang lain" ucap aruna malu.
"memangnya kau sudah mulai menyukaiku?" tanya danis.
"oh ya aruna ini judulnya bulan madu, jangan minta dua kamar ya untuk kita" danis menegaskan.
"tidak masalah, awal kita menikah kan kita juga sudah sekamar drumah mama, terus pas kita dikontrakan pertama juga sekamar kan" aruna santai menjawab pertanyaan danis.
"iya benar, tapi kan bukan pasangan suami istri sesungguhnya, ini bulan madu aruna garis bawahi" ucapan danis yang barusan membuat aruna berpikir.
Jangan2 danis minta dilayani sebagai suami yang sesungguhnya. Aruna masih perlu waktu untuk itu.
"danis, kita liburan lebih dari 5 hari, bisa kan hari pertama kita istrahat saja, hari kedua kita jalan2 dan untuk bulan madu yang kamu maksud, nanti bisa kita rencanakan lagi kan?" aruna berharap danis mengerti.
"tidak juga tidak apa2 jalan2 sajalah" jawab danis .
Kali ini aruna hanya terdiam, sebenarnya danis mulai masuk ke dalam hatinya, bermesraan dengan danis aruna juga mau, apalagi suaminya jika diperhatikan tampan juga. Tapi untuk melayani danis, aruna tidak tau harus bagaimana.
"jangan dipikirkan santai saja, anggap saja kita pacaran, tau kan pacaran gimana? Mesra tapi ada batasannya kan?" tambah danis
Aruna hanya mengangguk.
Sampai dibandara, danis memberikan kunci mobilnya pada karyawan aruna yang menunggunya disana.
"kamu kasih ke de nem ya kuncinya, nanti kalau kita udah balik kamu jemput ya?" perintah danis.
"siap mas, mbak aruna selamat bulan madu ya?" ucapnya ikut senang melihat atasannya berlibur.
"kok cuma mba aruna yang dikasih semangat?"
"iya mas danis juga"
"hahahha... Iya iya, kita masuk dulu ya" ucap danis menarik koper dan membawa tas besar aruna.
Mereka akan melakukan penerbangan menuju kyoto jepang.
****
Sesaat sesampainya kyoto danis dan aruna disambut guide yang dipesannya secara privat tour.
Mereka diajak menikmati makanan dulu disebuah resto sebelum menuju hotel tempat mereka menginap.
Restonya juga reques dari danis karena privat tour jadi segala sesuatunya sesuai keinginan danis, sementara aruna hanya menurut saja.
"danis kita lagi dijepang malah makan makanan turki sama india" ucap aruna tertawa.
"sudah makan saja, sudah dipastikan enak"
"memangnya kau pernah kesini?"
"aku sudah brosing" jawab danis sambil menahan tawa.
"oke! Lagipula masih banyak waktu" aruna menikmati makanan yang tersaji.
Danis terlihat lahap, aruna tersenyum, tidak menyangka pernikahan yang awalnya tanpa rasa, pernikahan yang dipaksakan hanya untuk keegoisan aruna menjauhkan mamanya dari papa danis, tapi kini berubah menjadi hungungan yang hangat, aruna beruntung danis bukan lelaki yang dibayangkannya lelaki kasar jahat, seperti ayahnya. Meskipun di awal2 pernikahan danis sangat membencinya, dan aruna juga sangat tak menghargai danis. Tapi menjalani hari ini aruna merasa ada kebahagiaan yang menyapa. Selama bersama mamanya aruna merasa kebahagiaannya cukup, tapi kini aruna merasa dengan adanya danis kebahagiaannya menjadi sempurna.
Aruna diam2 mengambil ponsel dan mengambil gambar danis
"hei, candid harus bayar!" danis menyadari aruna mengambil gambarnya.
"memangnya mau dibayar pakai apa?" tanya aruna sok manja.
"oh sudah mulai nakal, disini sangat dingin sepertinya kau sudah mulai butuh kehangatan"
"daniss!!!" aruna berkacak pinggang.
"ayoo makan, nanti kalo mau photo nanti aruna" danis melanjutkan makannya.
Aruna kembali tersenyum dan melanjutkan makannya.
Semua disponsori Pak prayoga, entah kenapa bos danis begitu baik, bahkan kemarin malam saat danis mengutarakan niatnya berangkat hari ini, langsung diberi transferan yang jumlahnya tak masuk akal.
Aruna takut kalau nanti danis, digunakan sebagai alat karena jaman sekarang segala sesuatu tidak ada yang murah kan. Seandainya saja aruna tau Pak prayoga melakukan ini untuknya, pasti pemikirannya berbeda.