
"Maaf Pak, jika saya liburan berarti bisa cuti kerja?"
"sudah danis, tak perlu kau pikirikan itu pergilah! Satu pesanku jangan sampai ada orang yang tau semua fasilitas dariku?"
"baik Pak"
"aku ada pekerjaan setelah ini, aku rasa cukup jelas ya? Kau bisa pergi sekarang!"
"sekali lagi terimakasih Pak prayoga, kami permisi" pamit danis.
Setelah berpamitan, aruna dan danis kembali kemobilnya. Mereka segera masuk dan melajukan kendaraanya.
"antar aku kerumah ratih ya?"
"aruna, aku akan mengajakmu belanja hari ini?"
"oh sudah merasa hebat, atau kaya?"
"terserah! Kalau tidak mau tak masalah" danis menepikan mobilnya.
Bukan tanpa alasan danis membelanjakan aruna, lagi2 semua perintah Prayoga. Danis sendiri juga bingung dengan kejanggalan yang diperintahkan prayoga padanya.
"kenapa berhenti?" tanya aruna dengan nada tinggi.
"kalau kau mau kerumah temanmu, turunlah! Cari taxi sendiri, aku tak mau mengantar" ucap danis tak memandang aruna.
"oke! Aku terima tawaran kamu belanja, aku juga mau makan enak"
"gampang" jawab danis singkat.
"untuk apa kau belanjakan aku, kau mulai tertarik?" tanya aruna.
"nikmati saja dulu aruna, selagi bisa" danis melajukan mobilnya kembali.
"dengar danis, aku masih pada keputusanku. Mempertahankan rumah tangga kita"
"sepertinya kau yang mulai tertarik padaku?" danis tertawa.
"itu tak mungkin kan? Kau mencintai si gadis manja itu"
"jangan sok tau aruna, cinta bisa berubah kapan saja"
"oh ya, aku tak tau" jawab aruna ketus.
"memangnya kau tak pernah merasakan jantungmu berdetak, atau merasakan tak ingin jauh dengan seseorang?" danis mulai penasaran dengan aruna.
Menurut danis hidup aruna itu membosankan, kurang teman. Fokus pada penderitaannya dimasa kecil. Bahkan tak pernah tertarik pada lelaki.
"pernah" jawab aruna mengejutkan danis.
"kapan?" danis berharap jawaban aruna adalah dirinya, agar bisa semakin membuat wanita disampingnya baper.
"jantungku berdegub danis, saat aku menatapnya, saat dia berada disampingku, menurutmu apa aku jatuh cinta?"
"siapa, siapa orang yang membuatmu begitu?" danis tak sabar mendegar jawaban aruna.
"memangnya kau benar2 ingin aku menceritakan padamu? Tadinya aku mau bercerita pada ratih" jawab aruna santai.
"apa menurutmu dia tampan?" tanya danis sambil tersenyum.
Baginya suatu kebanggaan bisa dicintai wanita, meskipun itu aruna.
"tampan dan kaya" jawab aruna.
"apa yang akan kau lakukan untuk mendapatkan hatinya?" danis semakin bersemangat menanggapi curahan hati aruna
"sayangnya tidak ada yang bisa aku lakukan danis" kini suara aruna terdengar tak bertenaga.
"kau jatuh cinta, harus berusaha mendapatkan hatinya? Siapa tau dia juga tertarik padamu?" teriak danis kesal melihat aruna seperti menyerah.
"ya aku tau itu kan maumu! Aku berjuang untuknya, lalu aku bersamanya dan meninggalkanmu!" aruna ikut berteriak.
"tunggu aruna, maksudmu yang kau ceritakan bukan aku!" danis kembali menepikan mobilnya, dan memandang aruna.
Aruna menggeleng dan wajah danis terlihat sangat kesal, merasa aruna mempermainkannya.
"siapa? Siapa yang membuat jantungmu berdetak?"
"kau marah danis, dari tadi kau pikir aku jatuh cinta padamu?" pertanyaan aruna membuat danis menarik nafas.
"jawab saja siapa? Aku tak akan marah"
"tunggu, aku hanya bertanya apakah jantung berdetak itu jatuh cinta? lagipula kan belum tentu yang kurasakan adalah cinta, kenapa kau yang marah?"
Danis kali ini terdiam, dan melajukan mobil masuk kedalam parkiran sebuah mall terdekat.
"siapa memangnya?" lagi2 danis mengulangi pertanyaanya, sambil memarkirkan mobilnya.
"namanya devano reiharja" jawab aruna.
"ayo kita masuk" ucap danis usai memarkirkan mobil.
Aruna menurut dan mereka berdua keluar.
"sini" danis menggengam erat tangan aruna dan menariknya Masuk ke dalam mall.
sampai didalam mall pun, danis tetap tak melepaskan genggamannya. Aruna pun diam menikmati genggaman tangan danis, berharap danis tak melepaskannya.
"kau mau makan apa? Tadi kita belum sarapan?" tanya danis, kali ini bernada lembut.
"kita makan masakan jepang ya?" aruna antusias
"oke" danis setuju tanpa perlawanan.
Danis melepaskan genggaman tangan aruna, tangannya kini berada di lengan kanan aruna, merangkul istrinya itu.
Justru degub jantungnya berpacu saat ini, aruna tersenyum. Semoga saja danis bisa membuka hati untuk menerima kebadirannya, harap aruna dalam hati.
***
Celine masuk ke dalam rumah linda dengan wajah cemberut.
"darimana nak? Kok balik lagi, katanya ada kegiatan?" tanya linda mendekati putrinya.
"mama penuhi janji, telpon aruna sekarang! Ini hari sabtu kan, suruh dia sama mas danis tidur dirumah mama" jawab celine dengan muka kusut.
"gimana mau nlp, kamu kan yang suruh mama blokir nomornya"
"oke, nanti siang mama telpon pake nomer aku!" celine beranjak masuk ke dalam kamar.
Linda hanya menggeleng melihat tingkah celine. Setelah satu bulan linda ingin segera menceritakan kebenaran pada aruna, supaya tidak terjadi salah paham. Tapi untuk sementara linda ingin menikmati kebersamaanya dengan celine. Linda ingin berlaku adil toh aruna sudah bersamanya sejak lahir. Celine juga berhak mendapatkan kasih sayang yang sama dari linda.
Di dalam kamar celine menjatuhkan tubuhnya.
"jangan harap ya aruna, kamu bisa bahagia!" ucap celine seraya membanting guling.
Perasaan untuk danis memang tidak ada, tapi penolakan danis pagi tadi membuat celine tambah benci dengan aruna.
"aku yakin danis akan memilihku daripada kamu, tak mungkin ada yang bisa menolaku" celine semakin frustasi.
***
Aruna menikmati sarapannya direkap makan siang, karens sudah hampir jam 11 siang. Dengan lahap aruna mengunyah menu yang dipesannya.
Danis memandang istrinya, berbalik dengan aruna danis tak seantusias aruna, menikmati makannya.
Entah kenapa, mendengar pengakuan aruna yang jatuh hati pada seseorang hatinya kecewa.
"danis, kok diaduk2 aja?" aruna membuyarkan lamunan danis.
"iya, ini lagi makan" jawab danis mengalihkan pandangannya ke makanan.
"makasih ya, udah traktir makan. Beneran, habis ini mau nemeni sama bayarin belanja?"
"iya, ga usah bawel! Habisin aja makanannya"
"aku rasa celine sangat beruntung memiliki papa seperti Pak prayoga, ga seperti ayahku" aruna mengingat ayahnya yang tak pernah memberikan kasih sayang.
"tak semua lelaki seperti ayahmu"
"kau benar, setidaknya kau lebih baik darinya" aruna memandang danis dan tersenyum.
"jelas aku lelaki yang baik, idola wanita! Nanti kalau laguku sudah keluar pasti banyak wanita mengantri berkencan denganku" kelakar danis, membuat aruna menghentikan makanannya.
"apa kau akan mengaku belum menikah?"
"kenapa? Cemburu?"
"memangnya salah kalau cemburu" aruna kembali melanjutkan makannya.
"bukankah hati kamu buat, siapa tadi?"
"hmm..aku udah kenyang" aruna menyelesaikan makan siangnya dan menyeruput orang juice.
Danis terus memandangi aruna dan melihat tingkah istrinya itu. Kali ini aruna memergoki danis memperhatikannya.
"danis, kenapa? Ada yang salah sama aku?"
"gak, kamu bayar sana!"
"lho! Bukannya kamu bilang mau traktir"
"mau belanjain, kamu aja yang bayar" danis mengelap mulutnya pertanda makannya selesai.
"menyebalkan, oke!" aruna menuruti perintah danis.