Between Love and Mission

Between Love and Mission
Bab 21



Pagi ini aruna sudah menyegarkan diri, ada janji dengan sahabatnya ratih, ingin mencurahkan segala yang dirasakannya.


Aruna bersiap akan berangkat.


"de' nem, hari ini ga usah masak de' nem beresin rumah aja lanjut istirahat" ucap aruna ceria.


"baik non" jawab de' nem


Aruna melihat danis keluar kamar dengan pakaian rapi.


"kau mau kemana danis?" aruna menatap suaminya yang rapi mengenakan kemeja.


"kebetulan kau sudah siap, ikut aku aruna?"


"aku ada janji ketemu sama sahabatku" tolak aruna.


"batalkan janjimu, besok kau juga masih bisa menemuinya"


"memangnya mau ajak kemana?" aruna tersenyum, berharap danis mengajaknya menghabiskan hari liburnya bersama.


"kau tidak ke tempat usaha kan hari ini?" tanya danis.


"tidak, aku libur tapi aku ada janji"


"ayo" danis tak peduli dengan jawaban aruna.


Teeett ..tet...


Suara klakson membuat aruna menatap danis.


Tak selang beberapa lama, celine masuk kedalam rumah aruna tanpa permisi.


"baguslah mas danis sudah siap" ucapnya penuh senyum.


"kalau ada janji dengan celine, kenapa mengajaku!" ucap aruna ketus.


"kak aruna, aku rasa jika mas danis pergi denganku aku pastikan aman, aku juga akan membuatnya nyaman" celine berniat membuat aruna panas.


"silakan, ajak saja! Tapi ingat dia suamiku, lama2 tingkahmu kurang terkendali, apa kau menyukai suamiku celine?" tanya aruna tanpa bada basi, seakan menantang celine yang mulai terang2an menggoda suaminya.


"aku rasa kau benar kak, tapi bukan cuma aku! semua karena mas danis, mas danis mengatakan tertarik padaku, dan katanya juga tak akan ada lelaki yang menolaku" celine semakin bersemangat membuat wajah aruna kesal.


"begitu ya?suamiku mengatakan itu hanya untuk memberimu semangat, karena mungkin sampai saat ini tak ada yang berniat mendekatimu! Sangat disayangkan, orang secantik kamu mengejar suami orang yang ups!! Hanya merasa kasihan" jawab aruna dengan senyum sinisnya.


"berhati-hatilah kak aruna" celine masih yakin dia mampu merebut danis dari aruna.


"mas danis, ayo kita berangkat!" celine menggandeng lengan danis tanpa malu.


"maaf celine, aku harus pergi dengan aruna, kami sudah terlambat" danis melepaskan tangan celine.


"apa kau sudah bosan dengan kekayaan ini, aku bisa suruh papa memecatmu" ucap celine lirih ditelinga danis bahkan tak terdengar aruna.


"celine, aku sudah bukan pengawalmu, aku benar2 sudah terlambat, kita ketemu lagi nanti ya?" danis berbicara sambil menggandeng tangan aruna dan beranjak pergi.


Celine merasa geram, diperlakukan tak seperti yang dibayangkannya.


Bukannya aruna yang sakit hati melihat suaminya pergi bersamanya tapi justru dia yang merasa terhina.


"lihat saja, aku akan benar2 memisahkan kalian" batin celine sambil menghentakan satu kakinya karena kecewa.


Ditinggal sendiri akhirnya celine memutuskan pulang dengan tangan kosong.


***


Aruna didalam mobil baru fasilitas yang diberikan untuk danis, sedikit bingung. Kenapa danis menolak ajakan celine yang jelas2 disukainya, malah mengajak aruna.


"aku penasaran, kenapa kau pilih aku! Bukan celine?" tanya aruna.


"siapa yang memilihmu?" danis sambil menyetir mobil bertanya balik


"kau tinggalkan dia sendiri, kau tau wajahnya memerah kepanasan melihat kita pergi ahhaha" aruna bisa tertawa lepas.


"Pak prayoga mengajak kita bertemu, jangan berbahagia dulu aruna"


"beda ya, antara ayah dan anak! Ayahnya saja tau kau punya istri, mengundangpun mengajak istri, sayang anaknya tak tau diri"


"aruna, kita mampir ke butik sebentar ya?" tanya danis.


"iya, pakaianku kurang pantas, jika tadi kau bilang akan ketemu bosmu, aku bisa ganti baju danis"


"kelamaan, lagipula pak prayoga menyuruhku untuk tak memberitau celine"


Danis memarkirkan mobilnya disebuah butik.


"memangnya menurutmu apa?" danis melepaskan seatbelt.


"aku lupa kau tak memiliki hati"


"ini juga untukmu kan? Aku bisa menafkahimu jika pekerjaanku bagus, aku juga bisa membuatmu tinggal dirumah mewah, nikmati saja aruna selagi kau bisa"


"tanpa kemewahan yang kau berikan, aku bisa menikmati hidupku danis"


"memangnya kau bisa menikmati hidup tanpa aku" jawab danis mulai menatap aruna


"kau yang tak akan bisa hidup tanpaku danis"


"cepat keluarlah, segera cari baju jangan banyak bicara! Sudah sangat terlambat" danis membuka pintu mobil.


Mereka keluar bersamaan dan masuk kedalam butik, aruna memilih salah satu pakaian dan menggenakannya. Wajahnya terlihat anggun membuat danis tak berkedip menatapnya.


Usai membayar danis dan aruna kembali ke mobil dan meneruskan perjalanannya menuju rumah Pak prayoga.


****


Sampai dirumah Pak prayoga, seorang satpam membukakan gerbang rumah. Ini kali pertama danis dan aruna masuk ke rumah celine. Sebelumnya Pak prayoga selalu menemui danis di kantornya.


Danis dan aruna sama2 terkejut, halamannya sangat luas, jejeran mobil dengan harga mahal terparkir di sebuah bangunan kokoh


yang berjarak dari rumah. Jangan ditanya lagi bagaimana bentuk rumahnya?? Sangat besar mewah dan tingkat 3.


"pantas saja manja, anak orang kaya raya" omel aruna.


"sudah aruna, simpan omelanmu"


"sudah kupastikan kau tak akan melepaskan kesempatan emasmu danis, disini aku paham kau seperti orang kaya mendadak karena Pak prayoga"


"sudah aruna ayo turun" ajak danis usai memarkirkan mobilnya.


Tak lama keduanya dipersilakan masuk ke dalam rumah.


"senang bertemu dengan istri danis, siapa namamu?" tanya prayoga seakan tak mengenal aruna.


"aruna Pak" jawab aruna terbata.


Bagaimana jika dia diminta kesini, karena rengekan anak manja Pak prayoga meminta aruna melepaskan danis, batin aruna resah.


"silakan duduk aruna" dengan senyum prayoga akhirnya bisa bertemu dengan putrinya.


Ingin rasanya memeluk aruna, tapi tak mungkin dilakukan. Prayoga harus mencari cara agar lebih dekat dengan putrinya. Apapun akan dilakukan prayoga untuk membuat aruna bahagia, ingin menebus rasa bersalahnya selama ini tak pernah mencari tau keberadaan aruna.


Aruna dan danis duduk, mereka tak tau kenapa prayoga menyuruh kerumahnya.


"danis, kau beruntung! Aku memilihmu mendapatkan bonus sebagai karyawan baru, bukalah!" prayoga menyerahkan amplop putih tipis untuk danis.


"iya pak" jawab danis menerima amplop yang diberikan prayoga.


Danis agak kebingungan, tapi akhirnya membuka amplop yang berisi lembaran.


"pak ini?" danis menatap prayoga, sambil memberikan amplop pada aruna, agar aruna juga melihatnya.


"iya, itu voucher bulan madu untuk kalian. Seluruh akomodasi dan biaya transportasi gratis, kalian juga akan aku berikan uang saku" prayoga tertawa.


Aruna berusaha menganalisa perlakuan bos danis, mana ada bos sebaik ini tapi setidaknya dugaanya salah jika mengira prayoga akan memisahkannya dari danis. Atau jangan2 prayoga menjauhkan danis dari celine dengan cara seperti ini, baguslah!! Batin aruna.


"kalian tak menyukainya?" tanya prayoga melihat kedua suami istri dihadapannya saling menatap.


"terimakasih Pak prayoga, kami sangat menyukainya" jawab aruna bersemangat.


"danis, jangan katakan pada celine semua hadiah ini dariku"


"baik pak" jawab danis.


"semua urusan pekerjaanku denganmu tak perlu kau katakan pada celine, jika dia bertanya tak perlu kau jawab?"


"baik pak"


Aruna semakin yakin, Pak prayoga melakukan ini untuk menjauhkan danis dari celine, apapun itu yang terpenting menguntungkan aruna.


Lagipula sudah lama aruna tak berlibur, terlalu bersemangat mengembangkan usahanya sampai lupa membahagiakan diri, nanti setelaha aruna liburan dengan danis, aruna juga akan mengajak karyawannya liburan.