Between Love and Mission

Between Love and Mission
Bab 31



Sepanjang perjalanan aruna mulai tersenyum, melihat sikap manis danis padanya.


"sarapan dideket rumah imas aja, atau imas kita ajak skalian?" goda danis membuat raut wajah aruna cemberut.


"terserah, ajak aja imas aku ga usah ikut sarapan" jawab aruna kesal


"masa sama imas aja cemburu? Ih kamu posesif ya?" danis semakin menggoda aruna.


"bukan, udah terserah kamu" aruna melipat kedua tangannya.


"aku ada rekomendasi nasi uduk super enak, pasti kamu ketagihan" danis bersemangat.


"beneran ajak imas? Atau kita berdua aja?" tanya aruna memastikan.


"kita berdua aja, aku tau kamu mau kita bermesraan kan, kalo anak muda namanya baru jadian" danis tertawa lepas.


Aruna lega mendengar perkataan danis, ajakan danis untuk imas sekedar gurauan tak lebih.


"makasih buat buketnya buat waktunya"


"sama2" jawab danis tersenyum, melihat aruna menerima buket dengan senyuman danis merasa rencananya berhasil.


"aku gak mau mama tau kita pergi berlibur" aruna melirik danis.


"kenapa? Nanti kalo mama kamu nyari gimana?"


"gak bakal, mama sibuk sama celine anak barunya itu" jawab aruna masih tak enak hati mengingat perlakuan mamanya.


"mereka mau makan malam bersama, bagaimana pendapatmu?"


"danis, bisa gak obrolanya tanpa membahas celine, atau jangan2 kamu masih ada rasa sama dia?" nada bicara aruna kembali meninggi.


"tenang, hati aku kan sekarang buat kamu?"dengan cekatan danis menjawab pertanyaan aruna, agara mood istrinya tak kembali kacau.


"yakin banget, gak lagi ngegombal?" aruna cengar cengir.


"kalo bulan madu biasanya melakukan hubungan suami istri lho?" danis menggoda aruna.


Kali ini kedua pipi aruna merona.


"aku belum siap! Masa kamu mau maksa, kita jalanin aja dulu hubungan ini tanpa membahas hal seperti itu" jawab aruna menolak.


"oke kita berlibur bersama kita sewa dua kamar kalo itu mau kamu"


"bukan begitu, ya masa sewa 2kamar, tetep sekamar tapi.."


"tapi apa?"


"kasih aku waktu" aruna memelas.


"bentar lagi sampe tu nasi uduknya, kamu pasti suka" danis mengalihkan obrolan karena mereka sampai ditempat penjual nasi uduk langganan danis.


Hati aruna bisa dikatakan bahagia, apa ini yang namanya jatuh cinta, batinnya. Aruna merasa ingin menghabiskan banyak waktu bersama danis dan mengenal danis. Trauma akan kekerasan yang dilakukan ayahnya terhadap mamanya seakan terkikis. Semoga danis sekarang dan selamanya akan bersikap sama doa aruna dalam hati.


"ayoo" ucap danis selesai memarkirkan mobil.


Mereka keluar dan masuk ke tempat makan dengan suasana desa, aruna menatap sekeliling, banyak orang antri memesan.


"lama ga? Aku keburu laper" bisik aruna ditelinga danis.


"udah ayoo" danis menarik tangan aruna.


"2 ya" danis memberikan isyarat kepada salah satu pelayan.


"oke!" jawab pelayan tersebut


"kita langsung duduk, ga pake antri?" tanya aruna.


"ya ini tempat makan punya bude aku, kakaknya mama" danis memilih duduk di salah satu saung.


Aruna mengikuti danis, tak lama setelah mereka duduk, ada pelayan yang membawakan 2 gelas teh manis.


"sama siapa?" tanya pelayan wanita yang sepertinya mengenal danis.


"ini istriku, kamu kenali ya wajahnya, kalo lain kali kesini tanpa aku, kamu layani dia, jangan sampai mengantri seperti yang lain" jawab danis sambil mengarahkan pandangannya ke antrian.


"siap mas danis, ditunggu sebentar ya" ucapnya sebelum pergi.


Banyak yang belum aruna ketahui tentang danis, tentang almarhum mamanya, masakecilnya, dan hal2 lainya bahkan siapa teman2nya. Semetara danis sudah tahu tempat kerja aruna, teman kerja aruna.


"aruna, kok bengong!" danis membuyarkan lamunannya.


"gak,kalo lihat mereka rela antri lama, sudah dipastikan enak, mana bude kamu?" tanya aruna


"tempat makan ini memang milik bude aku, tapi bukan berarti beliau disini, sudah dipasrahkan sama karyawan, sebelum kerja dipercetakan aku sempat jadi kasir disini"


"oh ya, bukannya pendapatannya jauh lebih banyak daripada percetakan kecil tempat kamu kerja?"


"memang, tapi beda aja kalo kerja tanpa embel2 keluarga" jawab danis.


Makanan mereka sudah datang, aruna sumringah mencium aroma nasi uduk dan aneka lauk yang menggugah selera.


Keduanya cekatan mengambil piring dan segera sarapan.


"hmm enakk banget, kamu bener!! Lain kali aku ajak anak2 makan disini pasti mereka senang"


"tapi harus pas sarapan, nanti jam 11 juga udah habis" jawab danis sembari mengunyah.


"masa sih?" aruna tak menyangka buka nya cuma sebentar.


"iya kadang jam10 juga udah habis"


"kenapa gak dibuka sampe lebih siang dibanyakin stoknya"


"udah banyak banget stoknya, memang konsepnya begitu"


Aruna dan danis kembali menikmati sarapan tanpa obrolan hingga makanannya habis, lanjut meneguk teh manis yang rasanya autentik.


Selepas sarapan, mereka sepakat mendatangi rumah imas, baru setelahnya mau lanjut ke studio photo.


"setelah dari rumah imas, kita balik aja kerumah, aku mau mandi dulu, biar pas dimake up lebih fresh"


"ya oke, ga usah lama2 dirumah imas, aku tunggu dimobil aja ya" ucapan danis membuat aruna mengernyit.


Bukankah suaminya itu memberi ide, dan terkesan sangat baik pada imas. Tapi justru tak ingin menemui imas.


"kenapa?"


"kan karyawan kamu, ya kamulah yang nemuin?" jawab danis enteng.


Aruna tidak ingin melanjutkan pertanyaannya, hanya tersenyum kembali ternyata danis hanya peduli pada imas sebagai karyawan, tidak lebih mungkin aruna saja yang berpikir berlebihan, meskipun dilubuk hatinya masih ada pertanyaan tentang wanita yang bersama danis dimall. Tapi masih begitu gengsi untuk menanyakannya.


Sampai dirumah imas, hanya aruna yang turun menyampaikan maksud kedatangannya. Tentang acc bonus dan memberitahu perihal cutinya. Sekitar seperempat jam danis menunggu dimobil.


Terlihat imas mengantarkan aruna sampe luar rumah, aruna masuk kedalam mobil, imas melambaikan tangan saat mobil danis tengah melaju.


"udah beres?" tanya danis.


"udah, semoga usaha aku tetap berjalan lancar meskipun aku cuti" aruna sedikit kawatir, baru kali ini aruna meninggalkan usahanya, apalagi keluar negri.


"tenang aja, kamu kan bisa cek secara online" ucap danis yang hanya dijawab anggukan oleh aruna.


"kapan kamu nyanyi lagi? Rencana rekaman udah ga jalan?" aruna mulai mencari tau kegiatan danis.


"belum tau, masih ketunda, nanti setelah bulan madu mungkin" jawab danis.


Setiap mendengar kata bulan madu aruna berkeringat dingin, suami disampingnya sudah mulai mengisi ruangan hatinya yang selama ini kosong.


"jadi duet?" aruna berharap danis menyanyi seorang diri daripada harus duet dengan wanita.


"kalo lagu yang aku tulis kemarin memang untuk duet, bahkan beberapa kali latihan sama celine, suaranya khas banget, aku yakin sih bisa meledak kalo kita beneran duet" jawaban danis tak melegakan aruna.


Tapi aruna tak ingin menunjukan ekspresi kekesalannya. Aruna lebih memilih menghabiskan waktunya dengan danis tanpa pertengkaran setidaknya sampai liburanya selesai.