Between Love and Mission

Between Love and Mission
Bab 29



Aruna memutuskan makan dimall bersama imas. Mall dekat rumah, aruna memesan makanan dan mulai menyantapnya. Setidaknya meringankan hatinya yang kacau balau.


"mba, bukanya itu papa suami mbak?" tanya imas sedikit berbisik


"mana?" tanya aruna tersentak.


"itu mba" imas menujuk sepasang orang yang berjalan masuk ke tempat makan.


"iya, itu om hardi" aruna kaget.


"sama siapa mba?" imas penasaran.


"aku juga ga tau imas, sebentar ya! aku sapa" aruna beranjak.


Aruna segera mendatangi Hardi mertuanya, wajahnya sedikit kaget tapi berusaha tenang saat aruna dihadapannya.


"malam papa" sapa aruna ramah.


"sama siapa kamu?" tanya hardi datar.


"sama karyawan aku pa" jawab aruna.


Belum sempat aruna bertanya, danis muncul aruna lebih kaget lagi Rupanya om hardi bersama danis dan perempuan muda, lalu siapa dia. Tanya aruna dalam hati. Mulutnya terlalu gengsi untuk bertanya. Melihat danis tak mengajaknya dalam pertemuan mereka membuat hati aruna perih, memulai dari awal seperti apa? Membiarkan aruna sendiri dalam kesedihan dan ngemall dengan papanya dan perempuan yang tak dikenal aruna, banyak pertanyaan dibenak aruna.


"sama siapa?" danis dengan santainya bertanya.


"imas, aku akan kembali kemeja, silakan lanjutkan pertemuan kalian" aruna meninggalkan mereka, dengan kekecewaan.


Kesal pasti melihat danis meluangkan waktu bersama papanya dan seorang wanita tanpa melibatkan aruna dan bercerita.


"siapa mba?" tanya imas setelah aruna kembali duduk.


"saudara" jawab aruna menutupi ketidaktauannya.


"kok mba aruna ga bergabung aja, aku bisa pulang sendiri, ga usah ga enak sama aku mba" ucap imas sungkan.


"gak imas,aman kok" aruna meyakinkan imas.


Ditempat yang sama pula pemandangan baru membuat aruna terkejut. Aruna melihat celine bergelendot manja dilengan Pak devan.


"imas, sabar ya" ucap aruna membuat imas bingung.


"sabar kenapa mba?"


"Pak devan, sama celine" aruna menyuruh imas memusatkan pandangannya.


"memangnya kenapa mba" meski kekecewaan tergambar di wajah imas, tapi berusaha menutupi dari aruna.


sesuai dugaannya, mana mungkin devan menyukai karyawan biasa seperti imas, batin imas kelu.


"hmm sudah jangan bohong, kamu pasti kecewa, kamu suka kan sama Pak devan?" imas melanjutkan makannya tanpa menjawab aruna.


Aruna masih tak mengerti ternyata devan mengenal celine. Kepala aruna memutar mencari keberadaan danis dan hardi, tapi tak menemukannya. Justru celine semakin dekat.


"aku tadi ketemu mas danis, gandengan sama perempuan lain" celine menghampiri aruna dengan tertawa.


"Pak devan, jika boleh saran, carilah yang lebih baik darinya" aruna mengajak bicara devan, tanpa menggubris ucapan celine.


Devan segera melepaskan tangan celine dari lengannya, terlihat tak nyaman.


"memangnya kalian saling kenal?" tanya celine tak menyangka.


"imas, ayo aku antar pulang, aku sudah tak selera makan" aruna mengajak imas.


"aruna, sebentar! Besok aku ke kantor ya? Ada yang ingin aku diskusikan" ucap devan mengajak bicara aruna.


"ya, aku tunggu besok ya" aruna dan imas pergi meninggalkan celine dan devan.


Celine akhirnya terdiam melihat kakaknya, sedangkan devan hanya memandang aruna dari bakang.


"celine, kau bisa pulang sendiri kan?" ucap devan membuat celine kaget.


"jangan mulai, kita tak ada hubungan apa2 jangan bersikap seolah kau berhak atas diriku" devan melangkahkan kakinya.


"apa kau tah dia sudah menikah?" kejar celine.


"aku tau, ada urusan yang harus aku kerjakan ,pulanglah" devan meninggalkan celine.


Celine menggepalkan tangannya, lagi2 aruna membuatnya kesal. Daripada devan mengenal aruna, celine merasa harus mencari tau.


Sementara Langkah aruna teramat cepat hingga tak terasa sampai diparkiran.


"mba, beneran. Aku gakpapa kok pulang sendiri" jawab imas. Ditengah perasaannya yang juga campur aduk, melihat devan bersama wanita yang dikenalnya pernah mengganggu suami aruna.


"aku antar sampai rumah" aruna masih tetap pada pendiriannya, mengantarkan imas.


"maaf mba jika aku lancang, wanita yang bersama pak devan, orang yang sama yang datang ke makan malam yang kita adakan saat pernikahan mbak kan?" tanya imas berhati2 takut menyinggung aruna.


"ya, dan berhati2lah" jawaban aruna membuat imas berfikir, mungkin saja wanita itu sekarang tak tertarik lagi pada suami aruna, tapi pada devan.


"udah ayo masuk!" perintah aruna, ketika melihat imas sedikit bengong.


"iya mba" jawabnya membuka pintu mobil.


Keduanya masuk ke dalam mobil, aruna melajukan mobilnya sangat cepat. Sepanjang perjalanan tak ada pembicaraan, karena tenggelam dengan pikiran masing2.


Imas berpikir bahwa dia tak perlu berharap lagi pada devan, sedangkan aruna, nampak kesal dengan perlakuan danis padanya.


Sesampainya didepan rumah imas, aruna menghentikan mobilnya.


"aku langsung ya imas"


"terimakasih ya mba" jawab imas turun dari mobil.


Aruna melajukan mobilnya dengan pelan, air matanya menetes. Perasaannya terasa hancur melihat danis bersama wanita lain yang tak dikenalnya, entah kenapa hatinya sakit.


Ucapan danis memulai dari awal bahkan diingkarinya begitu saja. Om hardi juga membuat aruna kesal. Seakan membiarkan apa yang dilakukan danis padanya.


"apa tidak tau kalau anaknya punya istri, bisa2nya hanya diam bahkan menemani anaknya bersama wanita lain, papa macam apa itu, untung saja mama tak jadi menikah denganya" ucap aruna kesal.


Aruna langsung pulang kerumah tak lagi mampir kemana2. Sampai dirumah aruna terkejut mobil danis sudah terparkir dihalaman. Setelah memarkirkan mobilnya aruna masuk kedalam rumah.


"kenapa tidak ijin, kalau mau pergi?" tanya danis.


"untuk apa, apa kau pikir aku percaya dengan kata2mu" ucap aruna melempar tas ke sofa.


"aruna, aku lelaki meski pergi sendirian akan aman, bagaimana denganmu? Aku tak akan membiarkanmu sendiri diluar sana, bagaimana jika ada orang jahat" justru danis yang terlihat marah pada aruna.


"jangan sok peduli, sebenarnya apa yang kau mau danis?" tanya aruna.


Aruna ingin penjelasan dari danis siapa perempuan yang tadi bersamanya dan papanya.Tapi sepertinya danis tak berniat menjelaskan pada aruna, sedangkan aruna terlalu gengsi untuk bertanya.


"aruna, bisakah kita memulai pernikahan ini lebih baik"


"aku hanya mengikuti maumu, kamu pergi juga semaumu" ucap aruna kesal.


"semauku bagaimana, aku pergi mengantarkan papa, kamu juga tau saat aku pergi kan"


"aku masih tak tau posisiku disebelah mana danis!" aruna masuk kekamar dengan kesal, dan mengunci pintu.


"aruna, bisa kau buka pintunya, jangan seperti anak2" danis mengetuk pintu kamar aruna yang terkunci.


Terlihat kebingungan dengan tingkah aruna yang tak dimengertinya.


Sedangkan aruna merasa tak dihargai, jika memang memulai dari awal kenapa tak mengajak aruna pergi bersamanya. Kenapa membiarkan aruna dan meninggalkan sendirian saat menangis tadi.


Aruna ingin sekali berdamai dengan danis, memulai dari awal semuanya, tapi danis membuat aruna ragu.


"danis, beri aku waktu untuk memahamimu" ucap aruna dari balik pintu.


Harinya sangat melelahkan, aruna terduduk lemas dibalik pintu. Hatinya perih membayangkan danis mempunyai hubungan khusus dengan perempuan yang dilihatnya dimall tadi.