
Aruna mengitari mall, dengan cekatan mengambil baju, celana, sepatu, bahkan tas. Danis hanya mengikuti dibelakang tanpa protes, sedikit aneh bagi aruna kenapa danis memperlakukan tak biasa.
"banyak lho! Yang aku ambil" aruna mengacungkan kantong belanjaan yang belum dibayar.
"udah belum?" danis balik bertanya.
"ini ajalah, sebenarnya aku mau membelikan untuk mama sekalian, boleh?" tawar aruna.
Danis mengangguk menuruti permintaan istrinya. Aruna tersenyum kegirangan, meski bagi aruna dia juga mampu membeli apapun tapi tawaran danis membuatnya merasa dihargai.
Dering ponsel danis bergetar, danis menghentikan langkahnya dan merogoh kantong celana untuk mengambilnya, Aruna ikut berhenti memandangi danis seolah ingin tau siapa yang menelpon.
"hallo" ucap danis kala ponsel sudah ditelinga.
"mama ingin bicara padamu mas" ucap celine disebrang.
"hallo danis, nanti malam kamu sama aruna tidur disini ya? Mama kangen sama kalian" ucapan mama membuat danis menarik nafas.
"sebentar ya ma, aku tanya aruna?"
Aruna yang namanya disebut mengeluarkan kata "apa" tanpa suara, agar tak terdengar penelpon.
"mama linda, ingin malam ini kita tidur dirumahnya" bisik danis lirih, sambil menjauhkan ponsel dari telinganya.
"oke" jawab aruna singkat.
"iya ma, nanti malam kita tidur dirumah mama, aruna setuju" jawab danis mengangkat kembali ponsel ketelinganya.
"baik danis, mama tunggu ya" mama memutuskan sambungan teleponnya.
"memangnya mau tidur dimana? Ruang tamu! Kamarku kan dipakai gadis manja idamanmu itu" aruna kesal.
"jangan berkata begitu, nanti kalau ada yang dengar"
"siapa?" tanya aruna memandang danis, membuat semangatnya menghilang.
"kau bilang kangen mama, bagus kan kita menginap disana, kau bisa melepaskan kerinduanmu"
"ya, anggap saja si gadis manja tak ada" aruna meneruskan langkahnya.
"ayo ke kasir saja, ini sudah cukup!" tambah aruna menuju kasir.
Danis mengekor dibelakang, sampai di kasir danis segera mengeluarkan kartu yang diberikan prayoga khusus untuk putrinya.
Selesai membayar danis mengandeng tangan aruna, aruna sedikit kaget. Tapi tak menampik tangan danis.
"kita balik kerumah dulu, skalian kau tata baju yang akan kau bawa kerumah mamamu?"
"iya, nanti pakaianmu juga aku siapkan, itung2 ucapan terimakasih sudah membelanjakan aku" jawab aruna.
Satu tangan digandeng danis, dan tangan yang lain kerepotan membawa banyaknya barang blanjaan.
"brukk.." beberapa tas belanjaan aruna terjatuh, tangannya tak kuat menopang.
"sini! Aku bawakan separuh" dengan cekatan danis mengambil sebagian belanjaan aruna yang terjatuh.
Aruna mengamati wajah danis.
"tampan juga ya, pantas saja celine tergila2" gumam aruna dalam hati.
"ayo!!" danis membuyarkan pandangannya.
"eh..iya, ayo" jawab aruna gelagapan.
Mereka berjalan tanpa bergandengan kini.
"aruna, hai" sapa seorang lelaki yang dikenal aruna.
"hai" jawab aruna kembali menyapa.
Danis menatap tak bersahabat, siapa batin danis.
"kau berbelanja, apa kau tau aruna produkmu menjadi salah satu produk dengan penjualan terbaik"
"terimakasih, aku sangat senang mendengarnya, kenalkan ini danis, suamiku" aruna akhirnya memperkenalkan danis.
"danis" danis mengulurkan tangan.
"devano reiharja" jawab devan tersenyum ramah.
Beda dengan danis, seakan darahnya mendidih. Entah kenapa danis menatap devan dengan kesal. Mengingat perkantaan aruna dimobil.
"jadi ini lelaki yang kau mau aruna" batinnya kesal.
"iya, kami sangat bahagia. Terimakasih doamu untuk kami" danis merangkul lengan aruna.
Aruna berusaha melepaskan tangan danis, karena merasa tak nyaman.
"oke, lanjutkan! Aku permisi, sampai jumpa dilain waktu" devan berlalu.
Aruna masih memandang devan.
"itu lelaki yang membuat jantungmu berdegub kencang, mana!!" danis mendekatkan telinganya ke dada aruna.
"danis!! Apa sih" aruna mendorong kepala danis.
"bilang saja kau menyukainya, baguslah lebij cepat kita berpisan lebih baik kan?"
"jangan harap!! Sampai kapanpun kita tak akan berpisah" aruna berjalan lebih dulu dan meninggalkan danis.
Kini danis mulai tersenyum mendengar jawaban aruna. Setidaknya istrinya belum benar2 mencintai devan.
Danis mengikuti langkah aruna, hingga sampai ke parkiran.
Membantu aruna memasukan seluruh barang belanjaanya, dan segera masuk ke mobil untuk kembali ke rumah.
Selama perjalanan aruna tertidur, sedikit kelelahan belanja. Danis tak mau menganggu tidurnya. Melajukan mobilnya dengan pelan agar aruna tak terbangun. Sambil menyetir sesekali diliriknya aruna.
"kau semakin hari semakin menarik saja aruna" ucap danis seorang diri.
***
Celine tersenyum, rencananya berjalan. Malam ini ingin membuat danis terkesan padanya. Mencari cara agar danis mau mengungkapkan perasaannya pada celine.
"mama sudah menyuruh kakakmu tidur disini malam ini, semoga ini hari yang baik untuk keluarga kita ya?" linda tersenyum berharap celine bisa menerima aruna.
"ma, besok malam papa mengundang kita, aku harap mama bisa datang. Aku ingin kehangatan keluarga, mama bisa kan?"
"apa kakakmu akan kau ajak?" pertanyaan linda membuat celine menatap sinis.
"baik, ajak saja dia dan suaminya" kali ini celine tersenyum penuh rencana.
"baguslah kalau begitu" jawab linda.
"ma, ada yang ingin aku tanyakan?"
"apa?"
"apa mama ada hubungan dengan om hardi, sepertinya kedekatan kalian tidak biasa?"
"om hardi memang sempat dekat dengan mama, tapi kita sudah memutuskan untuk berteman saja" linda sedikit terbata menjelaskan pada celine.
Takutnnya celine sama seperti aruna, yang menentang jika mamanya menikah lagi.
"kenapa? karena mas danis menikah dengam aruna?" celine semakin mencerca linda.
"celine, itu sudah tak penting nak"
"bagiku kebahagiaan mama penting, ayo ceritakan padaku, aku mau tau semua ma?" celine seolah memaksa.
"iya baiklah, mama mengakhiri hubugan karena kakakmu tak mendukung jika mama menikah lagi"
"tak mendukung mama menikah, tapi dia menikahi anak om hardi, licik sekali dia" jawab celine berdecak.
"bukan begitu"
"ma, mungkin ini terdengar aneh. Tapi aku berharap mama mau membuka hati untuk papa" mendengar pengakuan mamanya.
Celina justru ingin menghadirkan suami lain selain papa sambung aruna.
"celine, itu sepertinya tidak mungkin," jawab linda masih terbata.
"kenapa? Apa tak cukup mama meninggalkan aku! Ini permintaan yang tak terlalu sulit ma? Apa yang diinginkan orang tua selain membahagiakan anak mereka" celine menaikan nada suaranya.
"tidak semudah itu, aruna..."
"aruna, aruna... Kenapa harus selalu aruna, mama selalu mengikuti kemauannya sampai diusianya kini, bisakah sekarang mama sedikit saja memberikan kebahagiaan untuk celine" kali ini celine menangis ingin membuat mamanya merasa bersalah.
"untukmu, baik! Mama akan mencobanya, jangan menangis ya" linda luluh dan menyeka air mata celine.
Celine tak sabar hidup bertiga lengkap dengan papa mama kandungnya, dan melihat aruna terpuruk, karena kemauannya sudah tak dituruti lagi oleh mamanya.
"setelah itu tinggal mengambil danis darimu" batin celine.
Celine memeluk mamanya, agar membuat linda semakin merasa bersalah karena meninggalkannya sewaktu bayi dan lebih memilih membawa aruna pergi.