Between Love and Mission

Between Love and Mission
Bab 27



Aruna keluar kamar membawa tasnya.


"ayo, kita pulang" ucap aruna memandang danis dan celine dengan muka kesal.


"pamit sana!" jawab danis mendongak membalas tatapan aruna.


Dengan malas aruna berjalan kebelakang menemui mamanya.


"maaf ma, aku tak bisa tidur disini" aruna mencium punggung tangan linda.


Linda hanya terdiam tak menjawab aruna, ada kerinduan yang mulai menyelimutinya. Seandainya celine tak melarangnya dekat dengan aruna, pasti linda menghentikan niat aruna untuk kembali kerumahnya.


Melihat mamanya, bersikap datar. Aruna semakin yakin, dirumah mamanya sudah tak ada lagi kehangatan untuknya. Aruna kembali melangkahkan kaki keruang tamu.


Entah apa yang dibicarakan danis dan celine, sepertinya danis menanggapi obrolan celine. Jika sehari saja mereka akrab bagaimana jika lebih lama tinggal, pasti mereka semakin dekat.


"kau mau disini, atau pulang!" bentak aruna dengan nada tinggi.


"wow, menjadi istri jangan kasar kak, kalau suamimu tak betah kau yang akan rugi" celine tersenyum melihat aruna, rencananya membuat aruna marah berhasil.


"tutup mulutmu, kasihan sekali pak prayoga memiliki anak sepertimu, gatal dengan suami orang" entah kenapa kali ini aruna tak bisa mengendalikan dirinya.


Mendengar keributan, linda yang sebelumnya dibelakang ikut keluar.


"aruna, mengalahlah" ucapan linda membuat aruna menelan ludah.


"maaf, aku tak akan menyakiti anak barumu ini ma, tinggalah sesukamu disini celine, kau lihat mamaku akan selalu ada untukmu, dan jangan harap aku akan kembali kerumah ini" aruna melangkah pergi.


"aku pamit ma" ucap danis sebelum mengejar aruna.


Linda hanya terdiam melihat kemarahan aruna, linda yakin jika dibujuk aruna pasti akan memaafkannya.


"sayang sekali ya ma, mereka tidak jadi bermalam disini, kembali sepi rumah ini" celine masuk kedalam kamar.


***


Sementara diperjalanan pulang ada keheningan didalam mobil. Danis ingin memberikan ruang.


"aruna" ucap danis, memecah keheningan.


Tak ada jawaban dari aruna, danis tau pasti istrinya sangat kesal diperlakukan tak seperti yang diharapkan.


"jika kau tak mau memaafkan celine, itu hakmu, karena dia orang lain, tapi mama linda aku rasa kau bisa memakluminya"


Aruna masih tak menjawab ucapan danis.


"kau juga marah padaku, aku minta maaf aruna"


"untuk apa?" kali ini aruna menjawab danis dengan pertanyaan.


"kau pasti mengira aku mengobrol dengan celine, aku hanya memberikan pengertian padanya jika harus menjaga jarak" dengan hati2 danis menjawab.


"bukan masalah, aku tau kau ada hati pada celine, danis! Aku tak ingin memaksakan kehendaku" jawab aruna datar.


"kehendak apa?"


"pernikahan kita, mengacaukan semuanya, hubunganku dengan mama, dan merenggut kebebasanmu, aku yang minta maaf danis" ucap aruna meneteskan air mata.


Kekesalannya berganti buliran bening dimatanya.


"kau sedang emosi, tenangkan dulu pikiranmu, nanti kita bicara lagi"


"justru ini kesempatanmu lepas dariku danis" tambah aruna.


Melepaskan aruna, setidaknya tidak untuk saat ini, batin danis. Prayoga memberikan fasilitas yang tak mungkin danis tinggalkan. Bagaimanapun, kehadiran aruna membuat hidupnya lebih baik.


"lupakan niatanmu itu, untuk saat ini kita tak akan mungkin berpisah"


"saat ini?" tanya aruna heran.


"bukan begitu, aruna jujur sejak menikah denganmu kau tau, rejekiku lebih lancar, Tuhan mungkin menitipkan rejeki untuk membahagiakanmu, apa kau tau? Ada pepatah mengatakan, beda istri beda rejeki"


"lantas?" aruna masih mendengarkan danis


"aku, tak berniat berpisah denganmu"


"hanya untuk saat ini, atau sampai kau mendapatkan cintamu?" aruna tak yakin dengan jawaban danis.


"kenapa kita tak mencoba untuk memulainya" danis menepikan mobilnya, dan menatap aruna.


"aruna, sejak awal pertemuan kita sering bertengkar bahkan mungkin sampai saat ini, tapi kau benar, kita sudah menikah dan sah secara agama dan negara, kenapa tidak kita coba untuk mempertahankannya dan mulai dari awal" entah kenapa danis ingin meyakinkan aruna.


Aruna memandang danis dan mengedipkan matanya dengan lambat, berusaha mencerna perkataan danis. Semua yang diungkapkan danis bukankah maunya selama ini untuk mempertahankan rumah tangganya. Tapi apa mungkin danis akan memberikan hatinya pada aruna, kini aruna bimbang, rasa untuk danis mulai ada.


"tunggu danis, memulai dari awal dan mempertahankan hubungan, hubungan seperti apa maksudmu?" aruna bertanya dengan lembut.


"kita sama2 membuka hati satu sama lain aruna, siapa tau kau bisa jatuh cinta padaku dan sebaliknya, siapa tau juga kau bisa mewujudkan impianku memiliki pernikahan yang seutuhnya" jawab danis yakin dan menggenggam tangan aruna.


Mendengar ungkapan danis, jantung aruna berdetak sangat keras, apa itu artinya danis menembaknya, keringat dingin mulai mengucur dikening aruna, padahal mobil danis sangat dingin.


Melihat aruna terpaku tak bicara, danis tiba2 melepaskan genggamannya.


"oke, lupakan semuanya, aku lupa semua tak akan mungkin untukmu, jangan kau hiraukan ucapanku" danis kembali menginjak gas.


Aruna yang awalnya diam tiba2 bersikap manis melingkarkan tangannya ke lengan danis dan meletakan kepalanya ke bahu danis.


"kau tak menjawab, tapi melendot ke bahuku" jawab danis tak seramah tadi.


"apa sikap manismu hanya disetting beberapa menit?" aruna melepaskan tangannya dan kembali cemberut.


"sudahlah, susah ngomong sama perempuan sombong sepertimu" danis mulai kesal.


"memangnya kau sudah tak ingin memulai dari awal?" tanya aruna menatap danis yang fokus menyetir.


"devan sudah mengalihkan keyakinanmu mempertahankan rumah tangga kan?" tanya danis.


Aruna mencium lembut pipi danis dan membisikan.


"aku akan bersikap manis mulai sekarang, aku bukan perempuan sombong seperti yang kau katakan" jawab aruna lirih ditelinga danis


Karenak kaget danis menginjak rem.


"ciiiitt..." kening aruna terbentur dashboard.


"maaf aruna" danis berusaha memegang kedua lengan istrinya.


"apa yang kau lakukan, achh sakit" aruna memegang keningnya.


"maaf" danis sedikit kikuk dan kembali melajukan mobilnya dengan pelan.


**


Sementara dikantor aruna semua pada sibuk karena lonjakan pesanan.


"imas, harusnya gajimu sudah dinaikan atau paling tidak bonusmu bertambah" ucap dewi.


"mba aruna sudah terlalu baik dewi"


"sekarang tiap sabtu minggu selalu libur, padagal kita tidak ada libur karena lonjakan" dewi memonyongkan mulutnya.


"nanti aku ajukan bonus untuk kalian semua" imas membuat dewi tersenyum lebar.


"benar ya, semoga mba aruna mau memberi kita bonus, ini kan juga untuk kemajuan usahanya, aku mengerti! Pasti pelakor itu berusaha merebut suami mbak aruna"


"dewi, lanjutkan kerjanya" imas ingin mengakiri obrolannya.


"kenapa? Kita tak sedang membicarakan mba aruna, tapi si pelakor" ucap dewi berapi2


"semoga saja pernikahan mereka baik2 saja " jawab imas berharap.


"kalau kau, sampai kapan menjomblo! Aku tau kau suka dengan pak devan kan? Ayo ngaku?" tanya dewi membuat imas merona.


"mana ada orang seperti Pak devan menyukaiku, jika mba aruna belum menikah pasti mereka serasi" jawab imas dengan nada datar.


"kau juga cantik imas, akan aku bantu mendekatkanmu dengan pak devan" dewi bersemangat.


"bagaimana caranya?"


"brati benar kau menyukainya?" dewi tertawa terbahak.


"kau ini, sudah lanjutkan kerjamu" jawab imas malu.


"tenang saja, nanti akan kupikirkan cara terbaik agar kau bisa mendekati Pak devan" dewi tersenyum yakin.


Ingin melihat imas bahagia menemukan pendamping, siapa tahu Pak devan bis tertarik pada imas.