
Sesampainya dirumah aruna merenggangkan ototnya.
"Boleh aku masuk?" tanya danis membuka pintu kamar aruna.
Aruna hanya mengangguk, dalam hatinya bertanya apa mau danis. Sejak pernyataan danis didalam mobil, jujur aruna bingung bagaimana seharusnya bersikap.
"sepakat mulai dari awal kan? Bersikaplah manis" ucap danis berbaring disamping aruna, aruna langsung duduk.
Aruna takut, jangan2 danis meminta haknya sebagai suami, bagaimanapun juga aruna masih perlu waktu untuk adaptasi dan meyakinkan hatinya.
"kenapa? Kau takut aku memperkos*mu?" tanya danis kaget melihat tingkah aruna yang seakan waspada.
"maaf danis, aku tak bermaksud menyinggungmu, bantu aku beradaptasi, seperti yang kau tau, sebelumnya aku tak pernah dekat dengan lelaki" aruna takut jika danis salah menilai sikapnya.
"tenanglah, aku mengenalmu! Aku tadi hanya menggodamu, jangan kau anggap serius, mulai dari awal berarti saling mengenal kan, anggap saja aku teman dekatmu" entah kenapan perkataan danis kali ini membuat aruna merasa nyaman.
"terimakasih ya danis" aruna tersenyum.
Melihat tingkah aruna, hati danis juga tersentuh. Perempuan yang dikenalnya teramat sombong, merasa bisa melakukan segalanya sendiri, bahkan selalu bersikap kasar padanya. Kini sikapnya jauh berbeda, Danis melihat sisi lain dalam diri aruna, justru seperti seorang gadis lugu yang sedang jatuh cinta.
"aruna, aku merasa Pak prayoga mengenalmu?" tanya danis tiba2.
"mana mungkin, itu hanya pikiranmu" aruna menampik pertanyaan danis.
"bagaimana dengan undangan makan malam dari celine?" danis menatap wajah aruna.
Aruna yang duduk menundukan wajahnya melihat danis
"masih kau tanyakan? Jika kau mau,pergi saja sendiri" aruna kembali kesal.
"jangan mulai, aku hanya bertanya? Atau jangan2 Pak prayoga menyukai mama linda?" pertanyaan danis tak dijawab aruna.
akhir2 ini aruna merasa tak bersemangat, sejak mamanya dekat dengan celine. Aruna merasa sedih. Aruna yang selalu jadi garda terdepan untuk melindungi mamanya, hatinya sedang rapuh. Aruna rindu pada linda, ingin memeluk dan menangis mengatakan "jangan pernah tinggalkan aku seperti ini ma".
Tapi aruna tak ingin memperlihatkan kesedihannya pada danis.
"jika itu bisa membuat mama bahagia, aku tak akan menghalangi" jawab aruna.
"apa yang membuatmu menyerah? Bukankah kau menikah denganku juga karena tak ingin mamamu disakiti lelaki jika menikah?" danis beranjak duduk mendengar jawaban aruna.
"pandanganku berubah danis, mungkin sikap mama selama ini padaku karena kekecewaannya, aku menghalanginya menikah dengan papamu"
"atau karena papaku tak sekaya pak prayoga?"
"danis, hubunganku dengan mama sudah berantakan, apa gunanya aku melarangnya kini? Itu akan membuatnya semakin membenciku, dan aku tak sanggup membuatnya semakin jauh dariku" aruna tak kuasa terisak, tangisnya pecah kini.
Sudah tak mampu lagi menyembunyikannya.
Danis segera mendekapnya.
"maafkan aku, menangislah jika bisa membuatmu lega" ucap danis lirih.
Aruna masih dalam dekapan danis, tangisnya semakin deras. Hati aruna teramat sakit mengingat bagaimana perlakuan mama kepada celine. Sejak kecil aruna tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang Ayah. Hanya linda yang selalu menghibur dan teramat menyayanginya. Entah kenapa keadaan berubah. Bahkan linda enggan menjawab pertanyaan aruna. Jika saja danis tak bekerja pada Prayoga, dan tak mengenal celine, pasti aruna kini masih mendapat kasih sayang mamanya, batin aruna perih.
Ponsel danis berdering.
"sebentar" ucap danis melepaskan dekapannya.
"hallo, benarkah? ....Kapan?.... Pasti, aku akan menjemputmu" danis menutup telepon singkat.
"siapa?" tanya aruna.
"bukan siapa2, maaf aruna aku harus pergi, istirahatlah" danis mengecup hangat kening aruna.
Melihat danis pergi, aruna lebih sedih. Danis kembali menutup kamar aruna selepas pergi.
"danis bilang memulai dari awal, tapi kutanya dari siapa tak menjawab, ini juga malam minggu, dan dia pergi meninggalkan aku tanpa memberi tahu mau kemana, apa ini awal yang normal" keluh aruna.
Aruna merasa danis tak menghargainya,
"jangan2 ada alasan lain danis bersikap baik padaku, jangan2 dia tak benar2 ingin mempertahankan rumah tangga" aruna mencoba berfikir dengan jernih dan logika.
"bukankah jika dia mulai tertarik padaku mengajakku menikmati malam, menghiburku yang tadi saja belum selesai menangis karena sedih, yaa! Pasti dia memiliki siasat, aku harus waspada, bodoh sekali aku percaya padanya" aruna mengomel seorang diri.
Bunyi pintu kamar aruna, aruna segera meyabet tissue dan mengelap air matanya yang tersisa karena tangisnya tadi.
"iya de" jawab aruna membuka pintu.
"ada yang cari" jawab de nem.
Aruna keluar kamar, dan berjalan keruang tamu.
"imas?"
"ya mba, maaf kalau aku kesini" jawab imas.
"ada masalah dikantor?" aruna menyuruh imas kembali duduk.
"bukan mba, besok senin kan sudah gajian, hari ini dan besok mbak aruna kan libur, aku membawa pengajuan dana untuk ditandatangani, jadi senin pagi agar sudah bisa cair, maaf ya mba kemarin aku kelupaan" jawab imas.
"oke, mana yang harus aku tamdatangani" jawab aruna, memeriksa file yang dibawa imas.
"ini mba" ucap imas sambil menyodorkan bolpoint.
"kamu tau rumahku darimana imas, kan aku sudah pindah, bukankah tadi kau tak menelponku?" tanya aruna sambil menandatangani pengajuan yang dibawa imas.
"dari pak devan, aku tadi menelponnya" jawab imas sedikit terbata.
"kamu menelpon Pak devan, kenapa tak menelponku" tanya aruna menyelidik sikap imas.
"maaf mba, aku takut menganggu"
"imas, jawabanmu tak masuk akal, kau bahkan kesini, tapi menelponku kau bilang mengganggu, ayolah! " aruna tersenyum.
"oh ya mba, ada yang ingin aku sampaikan lagi" imas mengalihkan pembicaraan.
"apa?"
"banyak lonjakan permintaan barang, dan anak2 bekerja 2x lipat lebih extra dari bisanya, bahkan hampir semuanya selalu lembur dan pulang malam"
"kamu tak lupa memberinya makanan tambahan dan uang lembur kan?" tanya aruna.
"sudah mba, tapi bulan ini mereka ingin bonus lebih" ucap imas.
"untuk pengajuan gaji, uang lembur sudah aku tandatangani, untuk bonus nanti aku pikirkan lagi ya imas, besok senin akan aku putuskan" jawab aruna.
"terimakasih ya mba" imas tersenyum.
"jawab dulu? Kenapa kau menepon pak devan, kau menyukainya?" tanya aruna tertawa lirih
"mbak mana mungkin" jawab imas menutupi.
"Pak devan ganteng, dan kelihatannya baik, apanya yang tidak mungkin" jawab aruna.
"mba aruna bisa aja, aku tak selevel dengan Pak devan mba" imas merendah.
"imas, sudah saatnya kau memiliki pasangan"
"iya mba, doakan ya ada lelaki baik yang menerimaku" jawab imas tersenyum.
"pasti"
"mba sekali lagi terimakasih, sudah malam aku pamit"
"hati2 ya, atau mau kuantar"
"jangan mba, merepotkan" imas tak enak hati.
"aku mau cari udara segar imas, tunggu aku sebentar ya, aku ganti baju, aku antar kamu pulang, tapi temani aku dulu, kita bisa ke mall"
"baik, aku akan temani mbak"
"oke, tunggu sebentar ya" dengan riang aruna punya teman untuk sekedar mencari udara segar.
Lagipula danis seenaknya sendiri pergi tanpa mempedulikan perasaan aruna. Aruna berfikir harus menghibur dirinya sendiri.