
Sampai rumah, danis segera membangunkan aruna.
"hey, udah sampai" danis sedikit menggoyangkan badan aruna.
"ah, iya ya! Sebentar" aruna mengucek kedua matanya.
"kamu istrahat dulu, habis itu mandi bersiap kerumah mama kamu, nanti aku drop kamu ya, malam baru aku susul" ucapan danis dipahami aruna.
"kenapa? Memangnya mau kemana?" tanya aruna.
"sudah turun sana"
"aku tak perlu istirahat, aku perlu mandi dan bersiap, tak perlu menunggu sore" jawab aruna.
Akhirnya aruna turun dari mobil, dan membawa belanjaannya. Badannya sedikit lelah.
Aruna masuk ke dalam rumah langsung disambut de' nem.
"eh udah pulang, sini de' yang bawain, mba aruna istirahat dulu saja" dengan cekatan de' nem membantu aruna.
" de, sudah makan? Aruna ga bawain makanan" aruna memandang de nem.
"sudah, tadi ada tukang bakso di jalan raya depan" de nem berlalu sambil membawa belanjaan aruna.
"ya sudah, aku mau mandi dulu de' nanti mau nginep dirumah mama, de nem bisa istirahat" ucap aruna.
de nem hanya mengangguk, danis lebih dulu masuk ke kamar aruna dan merebahkan badannya yang juga capek.
Selesai bicara dengan de' nem aruna juga masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya.
"danis, aku mau mandi sebentar" aruna menuju lemari mencari handuk bersih.
"aku boleh ikut" tanya danis membuat aruna membalikan badan menatap suaminya.
"ngomong apa kamu?"
"bukankah kau istriku aruna, memang apa salahnya?" danis yang sebelumnya teentang dikasur mulai duduk dan berdiri.
"ga usah aneh2, aku lihat kamu capek. Tidurlah barang sebentar sampai aku selesai mandi" aruna kembali mencari handuk bersih di almari.
Danis tiba2 memeluknya dari belakang. Aruna tersentak kaget.
"aruna, apa kau begitu membenciku" tanya danis lirih di telinga aruna.
"danis lepas" ucap aruna seakan merintih.
"coba sebentar saja aruna, diamlah" danis mencium leher aruna. membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Aruna tak pernah merasakan itu sebelumnya.
"danis, aku mohon hentikan" Entah kenapa danis seakan tak ingin menghentikan gerakannya.
Semakin mendekap erat aruna, dan menaikan tangannya menyentuh area terlarang aruna yang menonjol. Bundaran dengan ukuran besar itu sempat diremasnya, sebelum aruna dengan cepat melepaskan pelukan danis.
"danis" aruna membalikan badan menatap danis dan mundur menjaga jarak.
"maaf aruna, aku..." Danis seakan tersadar.
"aku tau kau suamiku, setelah aku pikir, aku juga ingin membina rumah tangga seperti yang kau inginkan danis, memiliki anak dan memenuhi pernikahan dengan kasih sayang, aku tau hatiku pernah beku karena masalalu, tapi aku ingin berusaha merubah semuanya, tapi aku mau hubungan ini kita mulai dari awal" ucapan aruna sama sekali tak bernada tinggi.
Danis mundur dan duduk diatas kasur, entah apa yang dikatakan aruna seolah danis tak mau dengar.
"mandilah aruna, lupakan" ucap danis.
"lupakan? Danis, bisakah kau berjanji tak akan membiarkan wanita lain masuk ke dalam rumah tangga kita?" tanya aruna.
Danis tak mampu menjawab pertanyaan aruna, perasaannya kini campur aduk. Sejak pengakuan aruna tentang devan reiharja. Seolah hatinya tak rela aruna memiliki perasaan dengan orang lain, tapi untuk mengartikan apakah itu cinta masih terlalu dini untuk danis.
"dan kau aruna, bisakah kau berjanji untuk tak jatuh cinta pada lelaki lain?" danis membalik pertanyaan.
"akan aku coba" jawab aruna.
"kenapa? Karena devan? Kau mulai mencintainya?" cerca danis sedikit emosi.
"aku tidak mencintainya danis, apa kau cemburu?" pertanyaan aruna membuat danis menatapnya lekat.
"aku...., untuk apa aku cemburu, mandilah!" danis tak ingin melanjutkan obrolan.
"istirahatlah, tanyakan pada hatimu dimana tempatku berada danis" aruna sudah menemukan handuk bersihnya dan masuk kedalam kamar mandi.
Danis menarik nafas, perasaannya sangat kacau, pandangannya pada aruna mulai berubah.
***
Danis dan aruna tengah bersiap berangkat kerumah linda. Mereka langsung masuk kedalam mobil setelah membawa beberapa pakaian untuk dikenakan disana.
"kamu beneran, nanti mau nyusul" ucap aruna sesaat setelah danis melesatkan mobilnya menuju rumah linda.
"tenanglah, aku antar kamu sampai tujuan, baru aku pergi?" jawab danis fokus memandang kedepan.
"memangnya mau kemana?" tanya aruna lembut.
Tak biasanya danis mau menjawab kemana dia akan pergi, biasanya sangat acuh.
"kapan2 aku temeni ya?" aruna bersemangat.
"temani saja si devan itu!" ucap danis kesal.
"masih membahas itu, memangnya harus sekarang latihannya?"
"aku hanya ingin menjaga jarak dengan celine" jawaban danis membuat aruna tersenyum.
"memangnya kenapa? Kau mulai sadar! Kalau wanita manja sepertinya tak pantas untukmu?"
"bukan, aku sudah menikah" jawab danis.
"ohh, berarti kau masih menyukainya? Apa kau ingin mengejarnya danis?"
"sudahlah aruna, jangan bertanya pertanyaan yang sulit kujawab"
"kalau yang kau lakukan padaku tadi, apa sebelumnya kau pernah melakukannya pada orang lain?" tanya aruna membuat danis berkeringat.
Seolah tau danis tak bisa menjawab pertanyaanya, aruna mengalihkan pertanyaan.
"ya sudah, terserah apa alasanmu, yang penting jaga jarak dengan celine" tambah aruna tetap tersenyum.
Danis semakin cepat melajukan kendaraannya.
Sampai dirumah linda, danis menghentikan mobilnya.
"danis, kalau aku chat dibalas ya?" tanya aruna sebelum turun.
"ya, kalau perlu telpon saja aku pasti angkat" jawab danis.
Aruna akhirnya turun dan danis melaju meninggalkannya.
Aruna masuk kedalam pagar rumah masa kecilnya itu. sampai depan pintu aruna mengetuk rumah mamanya.
"iya" lagi2 asisten celine yang membukakan pintu.
"mamaku ada?" tanya aruna.
"silakan" jawabnya.
Aruna langsung masuk kedalam rumah mencari keberadaan mamanya.
Celine terlihat asik menonton film diruang tengah seolah rumahnya sendiri. Aruna hanya berdecak melihat kelakuan celine, yang dianggapnya tak tau diri.
"eh ada kak aruna, mana mas danis" dengan cepat celine mematikan televisinya, setelah melihat kedatangan aruna.
"kenapa? Ada perlu apa sama suamiku?" jawab aruna sinis.
"tidak semua hal bisa aku ceritakan padamu kan, semisal suamimu mengatakan aku sangat menarik" celine tertawa seolah mengejek.
"aruna, kau sudah datang" linda mendekati anaknya tanpa mengucap kata sayang.
Sedingin itukah mama padanya, batin aruna kecewa.
"iya ma, aku harus tidur dimana?" tanya aruna, karena tau kamarnya sudah dihuni, wanita manja yang sangat tak disukainya.
"kamar tamu ya? soalnya" jawaban linda dipotong aruna
"aku tau ma, dipakai celine kan?" aruna menatap sinis celine.
"kau belum jawab, mana mas danis?" tanya celine sambil memainkan rambutnya.
"ada keperluan, dan aku tak ingin mengatakan padamu tapi sebenarnya suamiku menghindarimu" jawab aruna.
"hanya menurutmu kak, mas danis tak mungkin menolaku" celine semakin percaya diri.
"celine, sudah!" kali ini linda tak sependapat dengan celine.
"baik mama, ma badanku sangat lelah, mama mau kan pijit punggungku sebentar saja?" tanya celine manja.
"ya kamu masuk kamar, nanti mama susul" jawab linda.
Celine menuruti perkataan mamanya dan meninggalkan aruna.
"ma, kenapa mama sangat dingin sama aku?" tanya aruna.
"hanya perasaanmu, mana mungkin mama menyuruhmu menginap kalau mama dingin padamu, kamu istrahat dulu di kamar tamu ya? Mama mau memijit celine" sebelum mamanya berlalu aruna menarik tangan linda.
"ma! Siapa dia? Dia orang lain, bahkan mas danis saja berusaha menghindarinya, ini sangat aneh buat aruna ma?" linda menampik halus tangan aruna.
"istirahatlah" linda berlalu masuk ke dalam kamar celine.
Aruna sangat kecewa, untuk apa menginap jika tetap diperlakukan dingin seperti ini.