Between Love and Mission

Between Love and Mission
Bab 26



"cepat mandi danis, aku ingin segera makan!" ucap aruna selesai mandi sambil mengeringkan rambutnya pakai handuk.


Danis beranjak dari kasur, dan segera masuk ke kamar mandi tanpa menjawab aruna.


Aruna melanjutkan mengeringkan rambut menggunakan hairdryer. Selesai mengeringkan rambut aruna mengganti pakaiannya. Mempercantik wajahnya dengan riasan minimalis. Aruna suka melihat tutorial make up. Tak sulit baginya merias wajah. Tak lupa menyemprotkan parfum ke bajunya.


"aruna" danis terpana menatap aruna setelah keluar kamar mandi.


"cepat sekali mandinya?" tanya aruna.


"lumayan lama, kau harum sekali dan beda"


"kenapa? Kau baru sadar kalau aku cantik, aku bisa lebih cantik dari cewek manja itu"


"aku mau ganti baju dulu" danis mencari pakaian dikoper.


"oke, aku tunggu diluar" aruna berjalan keluar kamar.


"gak nungguin aku ganti baju?" tanya danis menggoda aruna.


Tanpa menjawab aruna ngeloyor keluar kamar. Aruna keluar dibarengi celine yang sudah nampak segar juga.


"tumben kak, wangi banget! Oh aku tau, takut suaminya direbut ya?" ocehan celine membuat aruna mendelik.


"bisa diam!" aruna tak ingin menggubris ucapan kembarannya itu, memilih melangkahkan kakinya menuju ruang makan.


Celine ikut mengekor dibelakang aruna meskipun aruna berdecak.


"ckk...ckk..."


"kalian sudah siap ya?" senyum linda merekah melihat kedua putrinya.


"mama, tanya kak aruna, bisakan makan malam bersama kita?" kata celine sambil menggigit buah apel yang diambilnya diatas meja.


Aruna menatapnya penuh tanya, bukankah selepas ini mereka memang makan malam. Lalu makan malam mana lagi batin aruna, celine mulai keterlaluan.


"makan malam apalagi ma?" tanya aruna pada linda.


"papa celine mengajak kita makan malam" jawab linda sambil duduk didepan meja makan.


"Pak prayoga" jawab aruna.


linda dan celine saling memandang, lumayan kaget, karena aruna seakan mengenal prayoga.


"kenapa diam, papa kamu Pak Prayoga kan?" tanya aruna sekali lagi.


"memangnya kak aruna kenal?" celine menatap serius aruna.


Jika sekarang celine mati2an mengalihkan perhatian linda hanya padanya, bagaimana jika papanya justru mendekati aruna. Celine tak akan rela, aruna mendapatkan kasih sayang utuh. Aruna harus merasakaan kesepian yang dia rasakan selama ini, sejak kecil hingga dewasa. Celine mengepalkan tangannya.


"tak begitu kenal, tapi setauku papamu lebih baik darimu" kini aruna menyiapkan dirinya duduk dikursi makan.


Celine sedikit tercekat, sementara linda tak mengeluarkan suara apapun.


Danis menyusul aruna, melihat sekeliling hening danis berdehem.


"hmm..sepi sekali" ucap danis sambil menarik kursi dan duduk disamping aruna.


"baguslah kalau sudah pada kumpul, ayo kita makan" linda berusaha mencairkan suasana.


"sayang, papanya celine mengundang kita sekeluarga" aruna memberitau danis.


"sekeliarga, maksdu kamu?" danis menatap aruna.


"ya, kita dan mama, keluarga kita" aruna seakan menegaskan ucapannya.


Danis mulai mengambil sendok, dan manggut2 mendengar jawaban aruna. Seakan pertanyaannya terjawab.


"pasti Pak prayoga menyukai mama linda, makanya begitu baik pada aruna, supaya aruna memberinya restu" batin danis.


"ayo, aruna ambilkan danis nasi" linda memandang aruna lembut.


Melihat pemandangan itu celine menekuk muka.


"ma, ambilkan aku!" ucap celine sambil menyodorkan piringnya.


"aku heran, kau panggil mamaku. Mama mama terus! Apa kau tak memiliki mama?" aruna sedikit bernada tinggi.


"memangnya kenapa? Mama saja tak keberatan, ini kan urusanku dengan mama, ga ada urusan sama kamu!" kali ini celine juga tak bernada lembut.


"aruna, sudah. Ayo makan, mama mengundang kalian untuk makan malam, bukan berdebat" linda berusaha melerai keduanya.


"mama lihat kan, dia yang mulai bukan aku" celine membela diri.


"kau tidur dikamarku aku sudah diam, aku tidur dikamar tamu, sebenarnya ini suatu keanehan, apalagi mama baru saja mengenalmu, apa tujuanmu?" aruna fokus menatap celine.


"kak aruna jangan salah faham, aku hanya ingin menghibur mama, menemani mama, kamu sudah menikah kan? Aku rasa mama akan kesepian" kini celine melunakan ucapannya.


Tak ingin terpancing ucapan aruna, takut kelepasan. sebenarnya dalam hati celine ingin menentang semua ucapan aruna.


"sudah, benar kata mama ayo kita makan" kini danis menyodorkan piringnya.


Aruna yang semula berapi2 mengambil piring danis, dan mengambilkan nasi lengkap lauk. Setelah mengambilkan danis, aruna juga mulai makan, tak lagi ingin menggubris celine ataupun melihat tingkahnya.


Celine dan linda makan malam juga tanpa obrolan apapun. Hingga makan malam selesai mereka hanya terdiam.


"ma, maaf aku dan danis tak bisa tidur disini" jawab aruna sebelum meninggalkan meja makan.


Sementara danis merasa tak enak hati.


"maaf ya ma, mungkin lain kali kita bisa menginap" tambah danis.


"mas danis, kapan latian vocal lagi?" tanya celine mulai mencari celah.


"maaf, aku ada kesibukan baru" jawab danis seolah menghindar.


"mas danis tunggu!" celine beranjak dan menarik tangan danis.


"mama mau bereskan meja dulu, kalau mau bicara sana diruang tamu" ucap linda.


"kita bicara sebentar, oke!" celine kembali berusaha.


Danis berjalan keruang tamu, diikuti celine. Kesempatan emas danis sudah mulai mau berbicara padanya.


Sampai diruang tamu celine menyuruh danis duduk.


"mas danis, aku minta maaf! Aku tak pernah berniat membuatmu tak nyaman." celine berusaha mengolah kata agar danis mau mendengarnya.


"celine, mungkin aku sudah tak bisa menemanimu mengobrol atau belanja dan sebagainya, bukan karena aku menghindarimu, tapi aku rasa itu yang terbaik" jawab danis.


"aku paham, kamu suami yang baik, kamu pasti sangat menjaga perasaan kak aruna, sebenarnya aku pernah punya tunangan, mirip sepertimu! Tapi dia pergi meninggalkan aku dihari pertunanganku" celine mulai meneteskan air mata.


"celine, benarkah?" tanya danis seolah tak percaya.


"itu sebabnya aku nyaman berada didekatmu, awal kita bertemu aku tak pernah menggodamu kan? Karena aku menghargaimu, tapi semakin dekat aku semakin merasa kau banyak kemiripan dengannya, aku minta maaf"


"aku mengerti" kawab danis.


"aku janji mas danis, akan menjauh darimu tapi aku mohon, beri aku waktu untuk menyembuhkan lukaku, jangan langsung menjaga jarak, karena itu semakin mengingatkanku padanya yang pergi begitu saja, aku yakin kau berbeda, kau tak akan membuat wanita terluka"


Entah kenapa danis merasa iba mendengar cerita celine.


"masalah mama linda tidak mungkin aku menjauhkannya dari kak aruna, seperti pikiran kak aruna, sejak kepergian tunanganku harusnya ada seorang mama yang memberikan bahunya padaku, kau tau aku tak memiliki mama, bertemu mama linda, sesaat bisa melupakan kesedihanku, katakan pada kak aruna, aku tak sejahat itu"


celine merasa seluruh karangan cerita yang diucapkannya pada danis membuat danis kasihan padanya. Ditambah dengan sedikit isakan tangis.


"aku tau celine, akan aku beri pengertian pada aruna ya, aku baru tau kau pernah akan bertunangan"


"ya, aku mohon bantu aku melewatinya, sebagai teman" celine sekali lagi ingin meyakinkan danis.


memutar balik menawarkan pertemanan pada danis, setidaknya masih ada obrolan diantara mereka, untuk membuat aruna semakin kesal, hal apapun akan dilakukan celine.