
Hari berganti, aruna bangun lebih pagi ingin menyegarkan diri dengan lari pagi mengitari komplek.
" cekreekk..." aruna membuka pintu kamar.
Terlihat de nem sudah bersih2.
"non, mau kemana?" tanya de nem sedikit kaget.
"suami aku mana de?" tanya aruna
"baru aja keluar, ga pamit sama de nem mau kemana, memangnya ga pamit non ya?" de nem balik bertanya.
"ya udah, aku mah jogging dulu" aruna menutup pintu kamar, dan berjalan keluar.
Danis pergi, mobilnya tak ada digarasi. Kenapa sepagi ini memangnya apa gak merasa bersalah, aruna kembali kesal seakan mood yang dibangunnya kali ini berantakan.
Aruna memilih Masuk ke dalam mobil, memutuskan pergi joging ke taman kota, tidak jadi mengitari komplek.
"jika kau bisa kemanapun kau suka, aku juga bisa danis" ucap aruna kesal didalam mobil.
"teeeetttt....teeetttt" bunyi klakson dibelakang membuat aruna dengan cepat menginjak rem dan menghentikan mobilnya yang akan keluar.
Aruna mencari tau suara klakson.
"tokkk...tok...tokkk.." belum juga aruna melongok ke belakang kaca mobilnya diketuk
"danis!" reflek aruna membuka kaca mobilnya.
"turun, aku mau ngomong sama kamu!" ucap danis.
"aku mau jogging nanti keburu siang" aruna masih sangat malas, bagaimana bisa setelah melakukan kesalahan malah melupakannya begitu saja, batin aruna.
"ayoo!" danis tak peduli jawaban aruna, lebih memilih membuka pintu mobil, aruna belum menguncinya.
"sini" danis sedikit menarik lengan aruna.
"iya sebentar" akhirnya aruna turun, memangnya mau apalagi dia batin aruna sambil menekuk muka.
De' nem yang mendengar suara ikut keluar, sambil membawa sapu keteras.
Danis mengandeng aruna mendekati mobilnya.
"kamu tutup mata" danis memerintah aruna.
"ngapain? Ga mau!"
"aruna!!" kali ini danis bernada tinggi.
Siapa yang marah, siapa yang ngatur batin aruna seakan tak terima, tapi entah kenapa aruna menuruti perkataan danis menutup mata.
"bagus, gitu dong! Kalo aku belum suruh buka jangan dibuka ya?"
Terdengar suara pintu mobil danis dibuka, dan aruna dengan terpaksa menunggu aba2 danis. Sangat tak masuk akal batin aruna.
"sekarang kamu bisa buka mata?" ucap danis.
Aruna sedikit enggan, takut jangan2 danis membawa wanita kemarin kerumah, apalagi terdengar suara pintu mobil dibuka. Jika sampai terjadi lebih baik aruna menggugat danis daripada terlalu lama terluka, lagipula aruna mampu hidup sendiri, masalah mama aruna juga tak ingin ambil pusing, mau menikah sama siapapun aruna sudah iklas melepaskan mamanya.
"ayo buka?" ucapan danis membuat aruna akirnya membuka mata.
"apa ini" aruna berusaha menahan senyumnya.
"buket bunga buat kamu, satu lagi ini juga buat kamu" danis memberikan kotak kecil sudah pasti perhiasan.
Aruna terlihat senang dengan kejutan yang diberikan danis, tapi senyumnya berhenti sesaat, aruna tak ingin menerima sikap manis danis jika dia memiliki hubungan dengan wanita lain.
"buka!" danis meminta aruna membuka kotak merah kecil.
Aruna kembali menuruti danis, dibukalah kotak dan matanya terbelalak tak menyangka.
"dua cincin?" tanya aruna kaget.
"pasangkan satu buat aku, ini perlu agar orang tau aku sudah menikah" danis tersenyum menatap aruna.
Hati aruna seakan meleleh, danis menarik jemarinya yang lentik dan memasangkan cincin, aruna tentu tak menolak.
"sekarang giliranmu pasangkan dijariku" ucap danis setelah melingkarkan cincin ke jari aruna.
"aruna hello" danis sedikit mengoyak istrinya yang terdiam.
"eh iya" jawab aruna terbata sambil memasangkan cincin ke tangan danis.
"sini, peluk aku" danis menunggu aruna memeluknya.
"aku, mau joging" ucap aruna melepaskan pelukan danis.
Melihat adegan mesra majikannya, de nem tersenyum dan masuk ke dalam rumah.
"ok, aku akan temani" danis merangkul aruna menuju mobil.
"sebentar, aku mau mengabadikan moment" aruna menghentikan langkahnya.
Mengeluarkan ponsel dan selfie dengan danis dan buket pemberian danis.
"mau kamu upload?" tanya danis.
"kenapa? Ga boleh?" tanya aruna balik.
"jangan" jawab danis.
Mendengar jawaban danis aruna seolah ingin melempar buket bunga, kembali kesal. Jika memang tak mau mengakui aruna di halayak, kenapa harus munafik. sok manis kasih buket, padahal minta maaf juga belum, batin aruna.
"aruna, jangan salah sangka, jutek amat mukanya?" danis seakan paham dengan perasaan aruna.
"kamu ya, aku udah tahan dari kemarin, kamu sama siapa kemarin? Kamu jaga hati dia?" aruna mulai mengomel.
"cemburu?" danis semakin membuat aruna kecewa.
"mau kamu apa?" aruna memberikan buket bunga ke tangan danis.
"aku mau nemeni kamu joging terus kita ke photografer, kamu dandan bak pengantin kita buat photo baru untuk pajangan dan kita share sama2 di medsos kalo udah jadi, habis itu kamu boleh share pboto yang lain" perkataan danis tak disangka aruna.
"ini alasan aku ga boleh pajang bukan karena kamu ga mau akuin aku?"
"kamu lupa, kita mulai dari awal, lagipula photo pernikahan kita waktu itu sangat apa adanya" danis kembali membuat aruna luluh dengan mudahnya.
"aku mau sarapa aja, ga jadi joging, laper" aruna mengusap perutnya.
"oke, kita cari nasi uduk, aku tau nasi uduk yang enak" danis terlihat ceria.
Tak ada salahnya mempercayai danis, jika kemarin danis membuat kesalahan. Mungkin kini danis ingin menebus semuanya, aruna kembali bersemangat masuk ke dalam mobil setelah danis membukakan pintu untuknya. Setelah menutup pintu aruna, giliran danis masuk ke dalam mobil.
"aruna, habis ini kita ke tempat imas ya?" pertanyaan danis membuat aruna mengeryitkan dahi.
"untuk apa?"
"oh ya kemarin imas kerumah pengajuan gaji?" tanya danis
"iya sama pengajuan bonus, katanya banyak kerjaan yang double dan membludak" jawab aruna.
"kamu tambahlah karyawan, buka loker, biar karyawan kamu ga malem2 kerjanya, kemarin bahkan sampe jam 2 malam lho!" ucap danis
"kok kamu tau, dari imas? Jangan2 imas nlp kamu? Imas ini lama2 keterlaluan ya, kemarin tanya rumah aku ke pak devan, sekarang urusan kerjaan juga hubungi kamu?"
"tenang, lagipula kerumah imas bukan karena itu, saranku kamu kasih bonus aja semuanya, toh omset kamu juga makin meningkat kan, mereka manusia bukan robot! Jeripayahnya harus dibayar sesuai, mereka tanpa kamu tak ada artinya tapi sebaliknya, kamu tanpa mereka juga tak berarti"
"kenapa urusin kerjaan aku? Ga berniat ambil alih kan?" aruna menyelidik.
"kerjaan aku udah bagus, kamu juga tau sendiri kan, ini cuma saran, kamu pakai boleh gak juga gak masalah" danis mulai menginjak gas.
Tapi apa yang dikatakan danis ada benarnya, apalagi aruna makin seenaknya sendiri ngecek kerjaan mereka.
"oke kita kerumah imas habis sarapan, aku acc bonus buat karyawan" jawab aruna melunak.
"istri aku baik hati, bangga aku" jawab danis tanpa menoleh ke aruna.
"cuma itu?" tanya aruna.
"sekalian nitip kerjaan kamu ke imas, kamu tambah lagi bonus imas" danis semakin terlihat seenaknya.
"maksud kamu apa sih?" aruna mencubit lengan danis
"achh.., sakit aruna" danis kaget.
"terus ngapain bikin kesel"
"ya imas emang kudu handle kerjaan kamu, kita kan harus honeymoon" jawab danis sambil melirik aruna.
"apa?" aruna menganga tapi menahan senyum.
"masih ada voucer kan, sayang ga dipake" jawab danis lagi.
"oke" aruna kali ini menjawab lirih.