
Aruna berjalan kekamar tamu sambil menggerutu.
"apa salahku, mama kenapa bersikap aneh?"tanya aruna dalam hati.
Aruna naik keatas kasur merebahkan dirinya sambil bermain ponsel menscroll medsosnya.
Tidak ada yang menarik untuk dilihatnya, aruna sudah mulai bosan. Karena kelelahan aruna tertidur.
Beberapa jam berlalu, linda membuka kamar aruna, dipandanginya anak pertamanya itu.
"sabar ya, bulan depan mama akan peluk kamu, setidaknya melihatmu disini hati mama lebih tenang" batin linda sembari menutup pintu kamar aruna.
Linda ingin menyiapkan makan malam, masih ada waktu sebelum kedua putrinya terbangun, usai merasakan enaknya pijitan sang mama celine juga ikut tertidur.
***
Danis menemui prayoga, mereka berbincang2 di ruang kerja.
"danis, sepertinya celine berusaha mendekatimu!" ucap prayoga mengagetkan danis.
"tidak, celine hanya membutuhkan teman" tampik danis.
"jauhi dia! aku bukan tipe ayah yang membedakan status sosial, ini bukan karena kau karyawanku, tapi karena kau sudah menikah" tambah prayoga.
"aku mengerti Pak" jawab danis
"buatlah aruna bahagia, aku jamin hidupmu tak akan kekurangan, abaikan celine!" prayoga menekankan kalimatnya
"iya pak"
"aku pegang kata-katamu danis, jika aruna tak bahagia, aku pastikan kau juga akan menderita" ucapan prayoga kali ini berusaha dimengerti danis.
Memang apa hubungannya aruna dan prayoga pikir danis, kali pertama danis mengajak aruna menemui prayoga kemarin tak terlihat mereka saling kenal satu sama lain.
"aku tau mungkin kau merasa aneh dengan permintaanku, aku hanya tak menyukai perceraian, itu saja" tambah prayoga kemudian, agar danis tak curiga.
"baik pak"
"aku peringatkan sekali lagi, jangan sampai kau memiliki hubungan dengan celine! Kau paham kan danis?" tanya prayoga sekali lagi
"iya pak, jangan kawatir" jawab danis yakin.
"sekarang dimana istrimu?" tanya prayoga memandang danis.
"dirumah mamanya"
"oke, segera susul dia, jangan lupa jaga hatinya dan lindungi dia"
"baik pak" lagi2 jawaban itu yang terlontar dari danis.
"jangan kecewakan aku! Apapun yang kau butuhkan, sebanyak apapun permintaanmu apalagi untuk aruna, aku akan penuhi"
"saya permisi pak"
"ya, pergilah" prayoga membiarkan danis undur diri, karena tak ada lagi yang ingin dikatakannya.
***
Aruna menggeliat, melonggarkan ototnya. Mengucek kedua matanya, dan terbangun.
"ahh, aku tertidur" ucapnya sambil menguap.
Aruna mulai duduk, dipandangi sekitar mencoba menyadarkan diri. Aruna teringat sedang berada di kamar tamu rumah mamanya.
Aruna turun dan berjalan keluar, terdengar suara sedikit berisik dari arah dapur. Kakinya terus melangkah ke arah dapur. Dengan senyuman aruna melihat mamanya sedang membawa makanan dari dapur ke meja makan.
"masak apa ma?" tanya aruna.
"bikin pesenan celine, tadi minta dimasakin opor ayam, kamu mandi sana! Nanti setelah magrib kita segera makan malam" linda menjawab sembari meneruskan aktivitasnya menata makanan di meja.
"ohh, kenapa tak tanya padaku, aku mau dimasakin apa? Apa mama lupa, anakmu aku bukan celine?" tanya aruna melepaskan kekecewaannya.
Linda hanya terdiam tak menjawab pertanyaan aruna, suasana hening beberapa saat.
"hmm wangi banget masakan mama, udah jadi ya ma, opor ayam pesananku, aku mau mandi dulu, terimakasih ya ma" ucapnya mendekati linda.
"ya, mandilah" jawab linda lebih ramah, daripada menjawab aruna.
"kak aruna, apa mas danis belum pulang?" tanya celine yang malas dijawab aruna.
Ada bunyi ketukan rumah, dengan sigap asisten celine keluar membukakan pintu.
Terlihat danis berjalan masuk, dan langsung menuju arah dapur, karena terdengar suara bincang2.
"ah, mas danis sudah datang?" tanya celine seolah menggoda.
"hai, sayang! Belum mandi" danis merangkul dan mengecup kening istrinya.
Aruna sempat kaget dengan sikap danis, tapi akirnya mengikatkan tangannya ke pinggang danis, seakan memainkan peran agar celine melihat kemesraan aruna.
"belum, kita mandi bersama saja, baru kita makan" aruna tersenyum menatap danis.
Celine membuang muka melihat aruna dan danis saling merangkul.
"sepertinya masakan mama sudah jadi, pasti enak" ucap danis kemudian.
"ya, kalian mandi sana dulu, kamu juga celine" jawab linda yang sudah selesai menata semua masakannya di meja.
"kita ke kamar dulu ya ma, mau mandi dan buru2 makan malam" aruna menarik tangan danis, seakan mengejek celine.
Tak ada kata yang ingin diucapkan celine, tangannya mengepal merasa geram melihat tingkah aruna.
Sejak kapan, danis bisa semanis itu, batin celine.
"mama, aku juga ke kamar, mau bersiap untuk makan malam" akhirnya celine kembali ke kamarnya.
Usai masuk kedalam kamar aruna mengunci pintu, takut jika celine nekat dan masuk ke kamarnya.
"kau tak perlu mengunci pintu kamar, kunci saja pintu kamar mandi, takutnya nanti pas kita mandi ada yang masuk" danis menjawil dagu aruna.
"maksudmu?" tanya aruna tak paham.
"baru beberapa menit sudah lupa, kamu kan yang minta kita mandi bersama?" danis memeluk istrinya, hingga tak bisa bergerak.
"aku hanya ingin memberi pelajaran celine, agar tak menggodamu, kecuali kau suka digodanya" jawab aruna.
"jadi, kau tak benar2 mengajaku!" danis melepaskan pelukannya.
"maafkan aku danis" ucap aruna lirih.
"baiklah, aku tau tak ada yang bisa aku harapkan dari pernikahan ini"
"maksudnya?" kini aruna berusaha menatap danis.
"kau bahkan tak bisa menjadi istri yang sesungguhnya, bagaimana aku bisa tertarik padamu?"
"aku tak memintamu tertarik padaku"
"brati kau membiarkan aku tertarik pada orang lain"
"danis, aku butuh waktu memahami semua ini"
"apa lagi yang perlu kau pahami?" danis menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.
Sementara aruna masih berdiri menatap pergerakan danis.
"aku tak akan membiarkan kau meninggalkan aku jika aku sudah melakukan kewajibanku sebagai istri, aku tak ingin kau memanfaatkan momen ini! Aku perlu waktu untuk meyakinkan diriku bahwa kau juga ingin mempertankan rumah tangga kita" jawab aruna tegas.
"terserahmu, mandilah sana! Aku sudah tak tertarik, mendengar ocehanmu membuatku mual" ucap danis kecewa.
Aruna segera masuk ke kamar mandi dan mulai mengguyur badannya dengan air. Benaknya mencari tau apa yang harus dilakukannya terhadap danis. Danis sendiri tak membuatnya yakin, Hati aruna sendiripun tak begitu yakin yang dirasakan terhadap danis cinta atau bukan. Apapun itu aruna ingin rumah tangganya tak akan berakir sampai kapanpun.
Sementara masih terlentang di atas kasur, danis menatap lagit2. Aruna seakan memporandakan rencananya. Bahkan prayoga terlihat melindunginya. Bagaimana bisa danis mencari wanita lain, jika prayoga mengancamnya, disisi lain danis tak rela jika aruna memberikan hatinya kepada lelaki lain, apalagi devan reiharja, dia bukan lawan yang sepadan bagi danis. Devan memiliki segalanya, hartanya lebih melimpah dari danis. Bagaimana jika devan juga tertarik pada aruna.
"Entahlah, kau membuat kepalaku pusing aruna!! Bagaimana aku bisa menggapaimu" batin danis kesal.