
Di akhir pekan, Rey, Ersa, Kelly, dan Amasa memutuskan untuk pergi ke Benares menggunakan ilmu magis teleportasi yang dimiliki Rey.
Dengan seketika mereka sampai di stasiun kereta di kota Benares.
"Mengapa kita ada disini?."
Tanya Kelly dengan penasaran, seharusnya mereka akan tiba di hutan Flores sesuai perjanjian yang telah ditentukan.
"Maaf, tapi aku hanya bisa melakukan teleportasi pada tempat yang pernah aku lihat saja."
Kelly menunjukan ekspresi kecewa ketika mendengarnya.
Untuk berpindah tempat secara cepat, ilmu magis teleportasi Rey hanya bisa digunakan apabila ia pernah melihat dan mengingat objek yang akan ditempatinya.
Artinya, ia tidak bisa menggunakan teleportasi pada tempat yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi.
Tentunya Rey sudah pernah ke stasiun Benares saat akan berangkat ke akademi diwaktu yang lalu, keretanya sempat berhenti disini.
"Gak masalah kan Kell?, kita hanya perlu berjalan saja ke hutan. Ga begitu terlalu jauh juga, jangan mengeluh."
Ucap Amasa sambil mulai berjalan bersama Rey dan Ersa.
"Hmmmmmm, sejak kapan kau jadi so akrab gitu manggil aku Kell?."
Diakhiri dengan pembicaraan konyol, mereka pun mulai pergi menuju hutan Flores.
.....
Setelah Berjam-jam menempuh jauhnya perjalanan, Mereka akhirnya sampai di tempat yang mungkin bisa disebut sebuah lobi di hutan Flores.
"Aku tidak merasakan adanya aura kehidupan didalam sana."
Gumam Kelly ketika melihat hutan yang sangat sunyi berada dihadapannya.
"Bahkan aku tidak mendengar satupun suara burung di sini."
Sangat tidak normal ketika hutan tidak mengeluarkan suara fauna didalamnya.
Hutan Flores dipenuhi dengan pepohonan menjulang tinggi dan sinar matahari yang terhalang oleh pepohonan membuat keadaan didalam menjadi cukup gelap.
"Apa kau yakin benda yang dicari-cari itu ada di dalam sana?."
Tanya Rey karena ia juga merasa sangat aneh dengan keadaan hutan Flores.
"Tentu saja, peta ini tidak mungkin bohong."
Jawab Amasa lalu melangkah lebih dulu memasuki hutan Flores, disusul dengan Kelly yang sangat bersemangat sambil berteriak "ITEM DIMENSION AKU DATANGGG."
"Ka, entah kenapa aku tiba-tiba memiliki firasat buruk tentang hutan ini."
Ucap Ersa yang melihat Amasa dan Kelly melangkah semakin jauh dari mereka.
"Kau benar, tapi selama aku ada disisimu semua akan baik-baik saja. Kau tidak perlu khawatir."
Hibur Rey sambil mengusap rambut Ersa dengan lembut.
"Iya makasih ka, aku beruntung punya Kaka yang sangat menyayangi ku."
"Mungkin lebih tepatnya mencintai kan?, bukan menyayangi."
DUGGGG
Ersa spontan langsung memukul perut Rey.
Tidak sempat menghindar, Rey tersungkur ke tanah lalu merintih kesakitan.
"Kenapa kau memukul ku?."
Tanya Rey merasa heran dengan tingkah adiknya.
"Dasar Kaka bodoh, mencintai dan menyayangi itu beda tau!."
Ucap Ersa dengan pipi yang memerah, ia pun menyusul Amasa dan Kelly ke dalam hutan.
Rey mulai mengikuti Ersa dengan pikiran 'Apa yang salah dengan perkataan ku?'.
Lalu seseorang dari jarak yang cukup membuat mereka tidak menyadari ada seseorang, berdiri melihat Rey, Ersa, Kelly dan Amasa yang sedang memasuki hutan dengan senyuman licik.
"Kalian seperti tikus yang menari didepan ular."
.....
Ketika mereka berempat masuk cukup jauh ke dalam hutan, selama berjalan disana benar-benar tidak terlihat adanya tanda sebuah kehidupan. Binatang umum yang ada di hutan seperti Rusa, harimau, bahkan semut dan nyamuk pun nyaris tidak ada sama sekali.
"Hutan yang sangat aneh."
Gumam Rey yang menyusuri jalan dengan membawa belati yang digunakannya untuk memotong dedaunan yang menghalangi sepanjang jalan.
"Kamu liat petanya yang bener dong Amasa, jangan-jangan kita malah tersesat gara-gara kau yang memimpin."
Ejek Kelly yang mengeluh karena ia merasa tidak ada perkembangan selama perjalanan menyusuri hutan, hanya ada dedaunan yang lebat saja.
"Berisik, dari jalur peta yang ditandai arahnya benar-benar lewat sini tau."
Amasa menjawab jengkel, tetapi matanya tetap fokus pada peta yang ia yakini bahwa jalur yang mereka lalui itu memang benar.
"Tunggu sebentar."
Mendengar ucapan Rey yang tiba-tiba, mereka berhenti berjalan dan melihat ke arahnya.
"Amasa, kau tadi bilang jalur peta yang ditandai itu benar-benar mengarah ke sini kan?."
"Tentu saja, keahlianku dalam ilmu Medan tidak perlu diragukan lagi memangnya kenapa?."
Mendengar jawaban Amasa, Rey menyentuh rumput, dan tanah di jalur yang mereka lalui.
"Sudah kuduga, jalur ini benar-benar tidak pernah di jamah oleh manusia."
Dedaunan yang lebat dan tanah yang tidak membentuk corak apapun memberikan Rey suatu kesimpulan bahwa tidak ada manusia yang pernah masuk ke hutan Flores selain mereka.
Detail kecil seperti itu dapat diketahui oleh Rey karena ia memiliki kemampuan mengamati yang luar biasa hasil dari latihan yang ia sering lakukan waktu masih dirumahnya.
"Kalau begitu, dengan dasar apa jalur peta itu ditandai?."
Pertanyaan dari Ersa membuat Kelly dan Amasa langsung menyadari kejanggalan dari peta yang mereka buat patokan untuk mencari item Dimension.
Ketika situasi menjadi penuh dengan pertanyaan, tiba-tiba panah yang dibaluti oleh api menyerang.
Wusshhh.....
Amasa yang berada paling depan, menyadari panah itu mengarah padanya dengan reflek menggunakan sihir 'Melagis'.
Trakkk.........
Panah itu langsung hancur tidak tersisa, tetapi serangan selanjutnya datang secara cepat.
"Sial tidak akan sempat."
Amasa yang baru saja menggunakan melagis, tidak sempat membentuk simbol untuk kembali mengaktifkannya, tetapi Rey maju dan dengan santai berhasil memegang panah api yang cepat itu.
"Siapa yang menyerang?."
Ersa bertanya dengan panik, ia sempat terjatuh karena kaget dengan serangan yang diluncurkan secara tiba-tiba ini.
"Yang jelas bukan manusia, tunjukan dirimu wahai mahluk pengecut."
Karena berdasarkan kesimpulan Rey, tidak ada manusia selain mereka yang pernah datang ke hutan Flores.
Tanah menjadi bergetar ketika Rey mengucapkan kata provokasi, api muncul dipinggiran jalan seolah tanda sebagai penyambutan mahluk maha hebat.
Secara perlahan muncul mahluk yang bertubuh kuda tapi berkepala manusia.
"Itu......"
"Apa itu Kelly?."
Tanya Amasa dengan terkejut saat melihat mahluk yang bahkan tidak pernah ia liat sebelumnya.
"Tidak salah lagi itu adalah Centaur, mahluk legenda kerajaan Forland yang pernah menyelamatkan tanah negeri ini."
"Kalian semua harus mati, kalian telah melanggar perjanjian!."
Dengan suara yang seperti geraman, Centaur mahluk setengah manusia dan setengah kuda terlihat marah dan berlari dengan cepat ke arah mereka.
Apakah tujuan mahluk itu menyerang mereka?, perjanjian apa yang telah dimaksud itu?, tidak ada yang tau!.