
Setelah hampir 1 bulan belajar di akademi Forland, Rey dan Ersa kini mengalami masalah yang tidak bisa di anggap sepele yaitu kekurangan uang.
Rey yang duduk di kelas saat jam pelajaran telah berakhir, hanya bisa menahan perutnya yang terus mengeluarkan suara karena tidak ada uang.
Yang parahnya selama kelas tadi berlangsung, beberapa perempuan yang ada didekatnya terus mendengar suara yang dihasilkan oleh perut Rey. Mereka tertawa geli dan juga merasa heran kenapa bisa ada seorang bangsawan yang sampai mengalami kondisi kelaparan.
"Ersa kamu ga laper?." Tanya Rey dengan lemas sedang berbaring di mejanya.
"Engga terlalu sih ka heheheh."
"Jelas lah, sepertinya kau yang mengambil jatah makan pagi ku."
Ersa tertawa malu mendengarnya, berhubung ini mendekati akhir bulan sebenarnya mereka belum dikirimi uang oleh orang tuanya.
Makan pagi yang tersisa hanya muat untuk satu porsi, karena kebiasaan Rey yang selalu terlambat bangun pada akhirnya Ersa lah yang memakan jatahnya.
"Kamu kepikiran ga kalau kita itu terlalu dibekali sedikit uang sama ayah bodoh itu?." Tanya Rey kesal.
Hubungan Rey dengan ayahnya cukup dekat sehingga keduanya selalu terlihat akrab, karena itu mereka jarang menggunakan bahasa yang menggambarkan hubungan orang tua dan anak.
Berbicara soal uang, mereka hanya dibekali kurang lebih 5000 Yel saja untuk berdua. Tentu saja itu adalah jumlah yang sangat sedikit karena kehidupan di ibu kota tidak lah murah.
"Ngomong-ngomong, kita bisa pakai teleportasi aja ke rumah kan ka?."
"Meskipun ayah bodoh, tapi anehnya kalau soal hemat dia itu cukup pintar. Asal kau tau, ayah sama ibu udah pindah dari rumah semenjak kita pergi ke akademi."
Midgar sudah tau bahwa Rey akan sering datang kerumahnya dengan cepat karena ia memiliki magis teleportasi. Untuk mengantisipasi hal itu, Midgar dan Reva memutuskan untuk pindah rumah dan tidak memberi tahu dimana tempatnya kepada Rey.
Ayahnya sengaja mendidik agar Rey dan Ersa menjadi anak yang tidak selalu mengandalkan uang dari orang tua. Namun sayangnya Rey tidak pernah berpikiran seperti itu, dan selalu berprasangka buruk pada ayahnya.
"Ada apa dengan kalian?, ko belum pulang." Tanya Amasa yang sedang berjalan bersama Kelly.
"Bukan apa-apa ko." Jawab Ersa dengan senyuman kecil.
Rey yang melihat Kelly langsung teringat tentang sesuatu dan berdiri mendekatinya.
"Kelly, aku hampir lupa menagih bagianku kau tau?."
'Bagian' yang Rey maksud yaitu jatahnya dalam membantu Kelly untuk mendapatkan item Dimension. Awalnya Rey benar-benar tanpa pamrih membantu Kelly dan Amasa untuk mendapatkan item itu, tetapi kondisi uang memaksa Rey untuk menelan ludahnya.
"E....ehhhhh aku memangnya bilang ya akan membayar mu?, lagian kamu ga ikut pun kami akan mendapatkan item Dimension jauh lebih mudah iya kan Amasa?."
Amasa hanya tertawa mendengarnya, Kelly benar-benar sangat mendeskripsikan pribahasa yang bilang 'kacang lupa dengan kulitnya'.
"Inilah mengapa kamu ga populer dikalangan wanita, seharusnya kamu bersyukur ada perempuan cantik yang minta bantuan."
"Tchhhhh, aku ga peduli karena rasa laparku tidak cukup dengan hanya memandang wajah yang cantik saja."
Kelly yang mendengar hal itu, ia merasa Dejavu dan tertawa cukup keras.
"Oalah, ternyata kamu laper ga punya uang ya kirain apaan." Ejek Kelly sambil tertawa lemas.
"Kalau ga keberatan, aku bisa mentraktir kalian untuk makan hari ini." Ucap Amasa yang merasa kasihan melihat Rey.
Rey langsung memegang kedua tangan Amasa dan berpikir bahwa ia adalah utusan dewa yang datang untuk menolongnya.
"Tidak perlu repot-repot Amasa, terima kasih atas tawarannya." Gumam Ersa dengan malu.
"Gimana kalau kamu kerja paruh waktu di toko kue orang tua ku saja?."
Kelly tiba-tiba kepikiran seharusnya ia hari ini membantu ayahnya untuk mengantarkan kue ke berbagai tempat. Tapi dengan cerdik, Kelly memanfaatkan situasi ini untuk menggantikan pekerjaannya oleh Rey.
Kelly sendiri adalah anak dari seorang pengusaha toko kue yang terkenal diseluruh kerajaan Forland. Bahkan ketenarannya saja sampai terdengar di luar kerajaan.
"Benar juga, ga enak kalau ditraktir terus sama Amasa sampai akhir bulan kesannya benar-benar gak keren. Kalau gitu tanpa pikir panjang aku terima."
"Bagus, kalau gitu ini alamatnya." Ucap Kelly dengan senang sambil memberikan selembar kertas.
"Ku kira kau akan mengantarku."
"Jangan bercanda, nanti mereka malah menyangka aku bawa pacar ke rumah. Lagian aku akan pergi main sama Ersa, Amasa kau mau ikut?."
"Maaf tapi aku ada hal penting yang harus dilakukan." Jawab Amasa lalu pergi meninggalkan kelas.
"Yaudah deh, semangat kerjanya ya." Ucap Kelly pada Rey, lalu menarik lengan Ersa pergi meninggalkan kelas.
"Dasar perempuan, tapi yahhh aku juga sedikit penasaran bagaimana mendapatkan uang hasil kerja sendiri."
Rey lalu pergi menuju toko kue dengan cukup bersemangat.
Ketika Rey keluar dari lobi akademi, seorang perempuan melihat kepergianya lalu mengikutinya sambil menjaga jarak agar tidak diketahui.
Situasi yang berbahaya memantau Rey dari kejauhan, apakah ia akan baik-baik saja?.