
Terdapat 8 keluarga bangsawan ternama yang memiliki banyak kontribusi besar terhadap kerajaan Forland sejak perang Abyss 50 tahun yang lalu.
Mereka selalu bersaing dan memperebutkan gelar sebagai keluarga yang terbaik agar bisa menjadi penerus tahta di kerajaan. Akan tetapi, terdapat 1 keluarga dengan julukan "Lone wolf". Keluarga yang tidak tertarik dengan semua itu, keluarga Mayhem.
Terdapat PASUTRI bernama Midgar dan Reva sebagai pemimpin keluarga Mayhem. Mereka dikaruniai dua orang anak, putra pertama yang bernama Rey dan putri bungsu bernama Ersa. Keluarga ini menjalankan kehidupan yang harmonis selama hidupnya.
Namun bagi Rey, kehidupan itu tidak berlangsung lama.
"Tuan tolong buka pintunya..."
Seorang pelayan mengetuk pintu dengan lembut.
Itu adalah kamar Rey, orang yang masih tertidur padahal ini sudah hampir jam 10 lebih. Dikatakan, tidak ada anak bangsawan yang bangun di siang hari.
"Biar aku yang bangunin."
Ersa menerobos masuk dan benar saja, Rey masih tidur dengan kondisi kamar yang berantakan.
Ia lalu mendekati Rey, dan memutar telinganya.
"Ow ow ow ow sakit tau....."
Rey merintih kesakitan sambil berdiri dari kasurnya.
Hal ini sudah menjadi pemandangan yang biasa bagi pelayan, karena itu mereka hanya membiarkan dan langsung memasuki kamar untuk membersihkannya.
"Ayo ke bawah ka, ayah mau bicara."
"Jangan bilang, dia mau nyuruh lagi aku masuk ke akademi tidak berguna itu."
Rey melepaskan tangan Ersa lalu berbalik untuk lanjut tidur.
"Bukan soal itu, makanya bangun dulu ka...."
Rey mengabaikan ucapan Ersa, kemudian menyelimuti dirinya dengan seprai.
"Ini tentang aku yang akan masuk ke akademi."
"Kau serius?."
Tanya Rey yang terkejut dan langsung bangun dari kasurnya.
"Ya, itu benar."
...
"Apa ayah sudah gila?, kenapa menyuruh Ersa untuk masuk ke akademi?."
Rey duduk berhadapan dengan ayahnya, ibunya dan Ersa berada disamping Rey karena khawatir dengan keadaan yang bisa memanas kapan saja.
"Apa kamu pikir ayah adalah orang tua yang suka memaksa anaknya?."
Rey terdiam ketika mendengar pertanyaan ayahnya. Memang benar bahwa Midgar ayah dari Rey bukan orang yang berkepribadian semacam itu.
Sebelumnya, Rey pernah ditawari oleh ayahnya untuk masuk ke Akademi Forland. Tetapi Rey menolak dan ayahnya benar-benar tidak pernah memaksa bahkan menyuruhnya lagi.
Midgar pernah bilang bahwa setiap orang bebas untuk menentukan pilihannya dan jangan menyesal dengan apa yang telah dipilih.
Akan tetapi, dalam kasus Rey sungguh berbeda. Ia merasa dirinya tidak perlu lagi masuk ke akademi, karena yakin tidak ada hal yang bisa dipelajari lagi di sana.
"Masuk ke akademi adalah pilihan dari adikmu sendiri."
Reva sebagai ibunya Rey menyela pembicaraan mereka sambil mengelus kepala Ersa.
"Kau..., kenapa ingin masuk ke sana?."
"Ini adalah keinginanku sendiri dan aku tidak mau menyebutkan alasannya."
"Padahal aku bisa mengajarimu kalau mau."
Rey mencoba membujuk Ersa, sejatinya kemampuan Rey sebagai individu sudah tidak diragukan lagi.
"Aku tidak mau."
"Apa kau tau kalau akademi itu adalah tempat yang berbahaya?, bahkan dari yang kudengar dalam tahun ini saja sudah ada 5 mahasiswa yang tewas dibunuh."
Akademi Forland adalah tempat yang berbahaya meskipun berada di ibu kota. Itu semua terjadi karena persaingan yang tidak sehat antara keluarga kerajaan. Karena saling menginginkan anaknya dijadikan kandidat penerus tahta, maka mereka akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuan tersebut.
Dengan kata lain, akademi itu berperan penting sebagai panggung untuk talenta mahasiswa dalam menunjukkan kehebatannya.
"Aku tau itu, makanya aku ingin kaka ikut bersamaku ke akademi."
"Eh?...."
Rey diam terkejut dan tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa ia akan masuk ke akademi. Apakah ia menerima dan tidak keputusan berada di tangannya.