
Rey berteleportasi ke depan gerbang akademi, lalu berjalan di sepanjang lorong mahasiswa tahun ke-2. Ia melihat seorang senior yang tengah berbincang santai dengan temannya. Rey menghampiri pria itu.
"Maaf menganggu, apa senior tau seseorang yang bernama Nita?." Tanya Rey dengan sopan.
"Kayanya kamu bukan dari tahun ke-2 ya, Tentu saja aku tau. Memangnya ada apa?." Jawab Pria itu.
"Apa senior bisa memberitahu ia masuk di kelas mana?."
"Dia berada di kelas A."
"Aku mengerti, terima kasih senior." Ucap Rey lalu melanjutkan pencariannya.
Sampailah Rey di depan pintu kelas A, benar saja di sana ia melihat Nita yang tengah berbicara dengan seorang Pria.
Menyadari kehadiran Rey, Nita lalu berinisiatif mengakhiri percakapan itu dan melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan. Pria itu pun pergi meninggalkan kelas dan melewati Rey tanpa melihatnya sama sekali.
"Haloo, jarang sekali ada siswa tahun pertama datang ke kelas ini. Apakah kamu mencari ku?." Tanya Nita dengan senyuman menggoda di wajahnya.
Di akademi terdapat hirarki yang tidak bisa diganggu gugat, apalagi seorang junior sangat jarang sekali berkunjung ke kelas yang 1 tingkat diatasnya. Ini berbicara soal kelas A dimana boleh dikatakan di dalamnya adalah sekumpulan mahasiswa terbaik di angkatannya.
"Haloo, ehmmmmmm." Ucap Rey dengan gugup
"Panggil saja aku Nita, kenapa malu-malu?."
"Ngomong-ngomong siapa pria tadi?, apa aku menganggunya?." Tanya Rey penasaran.
Rey merasakan aura yang kuat pada pria itu, Pria berwajah tampan dengan rambut putih yang terlihat mencolok. Sekilas, Rey berpikir mungkin pria itu adalah pacarnya Nita.
"Hmmmmmm, apa kamu cemburu?." Goda Nita.
"Mana ada."
"Yahhh, orang yang tadi itu namanya Ajax apa kamu mengenalnya?."
"Tidak, tapi entah mengapa dia terlihat seperti orang yang sangat kuat." Jawab Rey dengan terkesan.
"Intuisi mu ternyata bagus juga, dia itu mahasiswa yang dilabeli the Savior ke-2, tadi aku sedang membahas soal program kerja ODESSSA dengannya."
"Pantas saja, jadi dia orang terhebat ke-2 setelah Zinnia ya."
Mendengar nama Zinnia, Ekpresi wajah Nita tampak berubah.
"Kamu tau tentang Zinnia?." Tanya Nita dengan penasaran.
"Sedikit, lupakan. Aku ingin bertanya sesuatu padamu."
Rey kemudian menjelaskan kondisi yang sedang dialami oleh Kelly.
"Itu kasus yang unik, tentunya kejadian itu bukan suatu kebetulan belaka bukan?."
Rey tercengang karena Nita memiliki pikiran yang sama dengannya. Penyakit Kelly menurut Rey memang ulah seseorang.
"Aku juga berpikir begitu, jadi apa kamu tau bagaimana cara mentransfer mana kepada seseorang?." Tanya Rey.
Bisa dikatakan mentransfer mana dari orang ke orang adalah hal yang mustahil. Mana hanya murni dihasilkan oleh tubuh, itu bukanlah suatu hal yang bisa dibagikan dengan begitu mudahnya.
"Dari mana kamu mendengar rumor itu?." Tanya Rey.
"Kalau tidak salah di kota Oia, aku pernah melakukan investigasi di sana."
"Infomu sangat membantuku, terima kasih." Ucap Rey sembari membungkukkan kepalanya.
Saat Rey akan berjalan pergi, Nita memegang lengannya.
"Ada apa?." Tanya Rey merasa heran.
"Kalau tidak keberatan, apa aku boleh ikut bersamamu?." Tanya Nita.
"Ini bukan urusanmu, lagian aku tidak akan bisa tenang kalau berduaan bersama gadis cantik. Singkatnya, kamu hanya akan membebaniku." Ucap Rey dengan santai.
Wajar saja, Rey tidak terlalu tau identitas sejati dari Nita. Mendengar ucapan Rey, Nita berusaha menahan tawaannya.
"Fufufufu, hanya kamu laki-laki yang berani bilang bahwa aku adalah seorang beban. Ta~tapi makasih udah bilang aku cantik." Ucap Nita dengan pipi yang memerah.
Terjadi suasana yang canggung antara mereka, secara perlahan Nita melepaskan genggaman tangannya. Tanpa berbicara apa-apa lagi, Nita pergi berjalan meninggalkan Rey dengan cepat.
Melihat hal itu, Rey hanya bisa pergi dengan membawa sebungkus keanehan di kepalanya.
Keesokan harinya, Rey, Ersa dan Amasa berjanji untuk berkumpul di gerbang ibu kota.
"Aku akan pergi seorang diri, Amasa aku titipkan Ersa padamu.". Ucap Rey sambil menepuk pundak Amasa.
Setelah membahas hasil pertemuannya dengan Nita kemarin pada Amasa dan Ersa, Rey memutuskan untuk pergi mencari keberadaan item yang dikatakan bisa menjadi obat untuk kesembuhan penyakit Kelly.
"Aku mengerti, maaf karena aku tidak bisa ikut bersamamu." Ucap Amasa dengan murung.
Ersa yang dari tadi hanya diam, menundukkan kepalanya dan melihat tanah untuk menutupi ekpresi sedih di wajahnya.
"Bukan berarti aku tidak ingin membawamu Ersa, hanya saja kota Oia adalah tempat yang tingkat kriminalitasnya sangat tinggi. Aku sangat tidak tenang membawamu ke tempat bahaya seperti itu." Ucap Rey sambil mengusap kepala Ersa.
"Apa itu artinya aku adalah beban bagimu?."
"Bukan itu maksudku, tapi Kelly disini butuh teman yang bisa mendampinginya. Lagian itu adalah hal yang jauh lebih penting."
Rey masih berpikir bahwa pelakunya adalah seorang yang berasal dari ibu kota kerajaan. Itulah alasan utama mengapa Rey tidak membawa Ersa dan Amasa untuk keamanan Kelly.
"Jadi kamu akan menggunakan teleportasi?." Tanya Amasa.
"Ya, aku pernah berkunjung ke sana sekali dengan ayahku dulu. Ini adalah perpisahan, aku pasti akan kembali dengan selamat."
Meninggalkan senyuman diwajahnya, Rey menghilang dengan cepat setelah menggunakan sihir teleportasi.
"Sekarang kita kembali ke rumah Kelly."
Saat mereka akan membalikan badan, Amasa melihat Nita yang memandang wajah mereka dengan senyuman. Amasa kembali membalas tatapan intimidasi itu.
Apakah yang ingin dilakukan oleh Nita sebenarnya?.