
Satu Minggu telah berlalu sejak pertempuran Rey, Ersa, Kelly Dan Amasa melawan Centaur di hutan Flores. Kini mereka sudah kembali menjalankan kegiatan di akademi seperti biasa.
Pertempuran yang menimbulkan kerusakan besar itu tentunya menimbulkan banyak perbincangan di seluruh penjuru kota Benares. Dan tak lama kabar angin itu pun sampai ke ibu kota, Sang raja telah memutuskan untuk mengirim para Being Knight guna menyelediki apa yang terjadi di hutan Flores.
Being Knight merupakan tentara kerajaan resmi yang menjadi garda terdepan dalam mempertahankan kedamaian di kerajaan Forland.
Selain Being Knight, pihak akademi juga ikut membantu dalam proses penyelidikan karena dua institusi tersebut selalu bermitra jika berbicara soal keamanan kerajaan.
Kepala akademi, Xavier memberikan perintah pada organisasi yang memiliki tugas sebagai pengawas mahasiswa yaitu 'ODESSA' untuk melakukan rapat besar.
Karena rapat itu juga, akademi diliburkan sementara karena sifatnya rahasia.
Seluruh anggota ODESSA telah berkumpul di ruangan kepala akademi dengan posis duduk melingkar, Xavier berdiri di tengah mereka semua dengan wajah yang terlihat serius.
"Sepertinya tidak perlu Ku beri tahu alasan mengapa kalian semua berkumpul."
"Nita, kau seharusnya berada di kota Oia kan?." Ucap laki-laki berambut pirang, ia tidak mendengar perkataan Xavier sama sekali.
"Ahahaha, aku baru pulang kemarin." Jawab Nita dengan senyuman cantik di wajahnya.
"Cepat sekali, seharusnya kau masih berburu pemberontak disana." Tanya kembali laki-laki itu pada Nita yang berada di sampingnya.
"Seseorang yang bernama Kaza itu?. Ah aku sudah menghabisi dia bersama komplotannya ko. Eh engga semuanya sih, aku sisakan satu ekor anak buahnya Karena ia memohon dengan telanjang sambil menjilat kaki ku. Karena rasanya cukup enak, kumaafkan saja deh."
Meskipun kerajaan dalam keadaan damai, akan tetap saja ada orang yang tidak puas dengan kinerja pemerintah dan berusaha melakukan kudeta.
Kebetulan, seorang buronan kerajaan pria bernama Kaza adalah salah satu pemimpin komplotan tentara pemberontak terbesar di kota Oia.
Kaza telah banyak menghabisi nyawa Being Knight hingga akhirnya Tentara meminta bantuan kepada mahasiswa berbakat dalam urusan dunia belakang, karena itu akademi meminjami Nita untuk pergi memburu pemberontak.
Tak seperti Being Knight, Nita hanya membutuhkan waktu seminggu untuk membersihkan pemberontak disana dan ia dianugerahi sebuah prestasi dengan menduduki kursi The Savior di peringkat ke-6.
"Dasar perempuan psikopat, emang ada yang aneh dengan otakmu." Ucap laki-laki itu dengan ekspresi jijik.
Tetapi nita hanya tersenyum manis lalu mengalihkan pandangannya ke arah Xavier.
"Sebagai anggota ODESSA, kalian harusnya lebih bersikap dewasa di hadapan tuan Xavier." Ucap laki-laki yang selalu menggunakan topi di kepalanya.
"Capitano, kalau kau terus menggoda Nita aku khawatir nantinya kamu bakal cepat pergi ke alam baka." Ejek seorang laki-laki yang terlihat sombong dengan posisi kaki yang menyilang di atas mejanya.
"Langsung saja ke intinya master Xavier, aku harus belajar untuk mengejar ketinggalanku dengan Zinnia." Ucap laki-laki yang sedang membaca sebuah buku tanpa mempedulikan keadaan.
Capitano suka disebut si rambut pirang memiliki sifat yang barbar dan suka berbicara merupakan bagian dari divisi observasi lapangan.
Ajax seorang pendiam yang gemar membaca buku, karena kepintarannya ia menempati posisi ke-2 sebagai the Savior.
Aeson orang yang memiliki sifat jail dan suka memancing api favoritnya adalah berseteru dengan Capitano, ia terlihat seperti pria yang tidak memiliki beban dan masuk ke divisi yang sama dengan Capitano.
Nita perempuan yang terkenal cantik tapi sadis, suka bergerak di bayang-bayang melihat aktivitas mahasiswa yang berkeliaran diluar kampus. Jika ia melihat yang mencurigakan, maka Nita cenderung memiliki kebiasaan menghilangkan jejak keberadaanys. Membuat ia cocok masuk divisi Intel.
Terdapat 2 the Savior dalam anggota ODESSA, tetapi anggota yang lainnya juga tidak kalah hebat dengan Nita dan Ajax.
"Omong-omong, kau masih saja berharap bisa menyusul si Zinnia?." Tanya Aeson dengan nada provokasi.
"Tutup mulutmu, kau saja bahkan tidak bisa masuk ke peringkat 10." Ajax melemparkan kembali provokasi yang telah dilontarkan padanya.
"Tidak seperti Capitano yang lemah, aku bisa menghajarmu sampai setengah mati kalau kau memang menginginkannya." Aeson berdiri bersiap untuk bertarung.
Ajax hanya tertawa tanpa mengalihkan sedikit pun matanya dari buku.
"Oiii siapa yang kau panggil lemah?." Teriak Capitano.
"Sudah cukup untuk reuninya, pertama-tama aku ada tugas untuk kalian."
Kemudian Xavier menceritakan apa yang terjadi pada hutan Flores, dan juga prihal tentang Veril yang tiba-tiba mengundurkan diri karena melihat murid seperti monster.
"Jadi kau ingin bilang bahwa kejadian itu sebenarnya saling berhubungan?." Tanya Ajax yang langsung menyadari apa maksud Xavier.
"Meskipun masih dugaan, tapi aku yakin kejadian ini bukan lah suatu kebetulan belaka."
"Itu artinya kami harus mencari orang yang disebut itu ya?." Gumam Erix sambil melihat lembaran data terkait orang yang dicurigai.
"Tapi dengan hanya ciri-ciri seperti selalu bersama wanita cantik dan bertumbuh tinggi itu tidak akan cukup bukan?." Keluh Nita.
Untuk mencari orang, dibutuhkan karakteristik yang lebih detail bukan hanya berdasarkan fisik dan tingkah laku yang umum. Tentunya ada 100 lebih orang yang memenuhi kriteria yang telah disebutkan tadi, membuat ruang pencarian menjadi semakin luas.
"Tenaga saja, aku sudah mempersempit ruang pencaharian untuk orang yang memenuhi kriteria itu."
Xavier lalu menyerahkan selebaran formulir tentang data pribadi mahasiswa sekitar 10 orang, yang telah dicurigai dan data Rey termasuk dalam orang yang paling dicurigai olehnya.