
Tepat pada bulan ke-3, akademi Forland akan mengadakan sebuah ujian tertulis dan praktik sihir. Semua mahasiswa diwajibkan untuk mengikuti ujian ini tanpa terkecuali.
Di hari pertama, para siswa kelas C yang terlihat semangat telah berkumpul di kelas dengan memegang Quil di lengannya.
Rey, Ersa, Amasa dan Kelly memutuskan untuk duduk sejajar. Setiap kursi, jumlah maksimal untuk bisa ditempati oleh mahasiswa berjumlah 4 orang.
Elena guru sekaligus walikelas dari kelas C berdiri dihadapan mereka semua sambil membawa sepaket kertas.
"Ibu akan memberitahu peraturan ujiannya terlebih dahulu, kalian tidak boleh saling mencontek dan berbicara pada teman. Waktu pengerjaan soalnya adalah 40 menit, Setelah ibu bagikan semua lembar ujian itu artinya waktu telah dimulai."
Elena membagi setiap lembaran kertas itu secara estafet dari bangku paling depan. Setelah semua terbagi, ujian pun dimulai.
Dihari pertama, materi yang akan diujikan adalah logika sihir. Ruang lingkup materi itu adalah segala sesuatu hal yang berhubungan dengan ilmu sihir. Seperti menghitung jumlah mana yang akan digunakan untuk ilmu sihir, bagaimana cara mengorganisir mana terhadap ilmu sihir dan banyak lagi.
Saat dibagikan lembaran ujian, Rey tidak langsung mengerjakannya. Tetapi ia lebih fokus melihat Ersa yang kelihatannya sudah mulai lebih dulu.
Rey pun tersenyum karena soal seperti ini tampaknya tidak akan menjadi masalah untuk Ersa. Kemudian ia mulai melirik setiap soalnya.
'Tidak ada yang susah, aku sudah belajar semua ini ketika umurku dalam fase belajar berjalan.' Gumam Rey dalam hati.
Bohong, itu adalah kalimat yang di hiperbolakan. Lebih tepatnya, Rey memang sudah menguasai semua teori tentang logika magis saat ia masih kecil.
Tetapi Rey tidak akan mencetak nilai sempurna dan akan menjaga nilainya dalam batas-batas tertentu.
Setelah memakan waktu seharian, di hari pertama semua ujian tertulis telah selesai dilaksanakan. Rey dan Ersa berhasil melewati ujian ini dengan baik tentunya.
Di hari ujian ke-2, mahasiswa akan dituntut untuk melakukan praktikum sihir. Ujiannya akan dilaksanakan di area pelatihan akademi, lalu semua siswa kelas C pun berkumpul disana.
"Sebelum menjelaskan ujian selanjutnya, pertama-tama ibu akan mengucapkan selamat kepada kalian yang telah melewati test tertulis dengan sangat baik." Puji Elena yang diiringi dengan tepukan tangan para mahasiswa.
"Seperti yang telah ibu sebutkan dihari kemarin, ujian selanjutnya yaitu praktikum sihir. Pada kali ini, kalian akan saling berhadapan dengan seluruh mahasiswa di kelas C. Ibu sudah menentukan lawan dari kalian masing-masing."
Elena lalu berjalan dan memasang sebuah pamflet yang berisikan tabel lawan-lawan dari mahasiswa dikelas C yang diantaranya :.
ERSA VS NERVA.
AMASA VS GARRY.
REY VS MELISA.
KELLY VS LEONARDO.
"Untuk mekanisme ujiannya, kalian hanya diperbolehkan menggunakan ilmu sihir. Waktu pertarungannya selama 1 menit, kalian hanya perlu menunjukkan kemampuan ilmu sihir yang dikuasai dan itu akan dijadikan olehku sebagai parameter nilainya...."
"Apakah hasil pertandingan akan menentukan nilai akhir?." Tanya Amasa yang menyela penjelasan Elena.
"Tidak, sudah kubilang tadi bahwa kemampuan sihir kalianlah yang akan dijadikan acuannya."
Contohnya adalah ketika Amasa dan Garry berkelahi, Amasa membayar Garry agar ia mau mengalah saat berlatih tanding. Maka jika kemenangan yang dijadikan parameternya, ujian ini akan menjadi tidak efektif.
Hal tersebut tentunya hanya akan terjadi apabila terdapat salah satu lawan yang memiliki kekuatan ekonomi kurang.
"Selanjutnya penjelasan mengenai larangan. Kalian tidak diperkenankan memakai item, mengincar objek vital, dan sihir bertipe terlarang."
Mendengar penjelasan Elena, semua mahasiswa bersorak dengan gembira karena tidak sabar ingin saling unjuk kemampuan.
Diwajah Rey, tidak nampak sedikitpun senyuman dibibirnya. Ia khawatir karena kemampuan Ersa sedikit tidak menguntungkan pada kondisi ujian ini.
Ersa juga sadar akan kekurangannya dan menemui jalan yang buntu dipikirannya.
"Ada apa?, tidak biasanya kamu murung begini." Tanya Kelly pada Ersa sambil menepuk pundaknya.
"Aku tidak bisa berkelahi, lebih tepatnya kemampuanku bukanlah jenis sihir yang bisa melukai tetapi mengobati."
Sihir penyembuh, bertipe sihir kontruksi adalah salah satu teknik sihir yang bisa menyembuhkan luka sekaligus penyakit pada mahluk hidup. Jika seseorang menguasai sihir ini, bukan berarti ia tidak bisa berkelahi.
Hanya saja pada kasus Ersa, kepribadiannya yang lembut membuat ia tidak ingin belajar menguasai jenis sihir yang menyerang, karena itu ia hanya tertarik pada sihir yang cenderung fokus untuk mengobati.
"Jadi begitu, benar-benar sangat tidak menguntungkan ya bagimu." Ucap Kelly merasa khawatir pada Ersa.
"Sepertinya dikelas ini, hanya akulah yang paling lemah dan tidak berguna." Ucap Ersa dengan sedih.
"Tidak juga, malahan sihir penyembuh sangat terlihat cocok untuk orang baik sepertimu." Amasa lalu mendekat dan berbicara sambil menyentuh pundaknya.
Ersa yang dalam keadaan menunduk, terkejut dengan sentuhan lembut yang diberikan Amasa. Ersa menatap wajah Amasa dengan mata berbinar.
"A...apa maksudmu dengan kata baik?, jangan coba-coba meledekku ya..." Ucap Ersa yang malu karena berdekatan dengan Amasa.
"Kamu yang menolong Kelly saat terkena serangan Centaur, lalu kamu yang memiliki kemampuan untuk belajar setiap tipe ilmu sihir. Tetapi malah memutuskan tidak mempelajari sihir yang bisa melukai orang, sudah membuktikan bahwa kamu itu adalah orang yang baik hati bukan?."
"Sebagai seorang kakak, aku jadi sedih peranmu telah digantikan oleh Amasa." Ejek Kelly sambil menjaga jarak dari Amasa dan Ersa, lalu mendekati Rey.
"Berisik, tadinya aku mau bilang gitu tau!, cuma keduluan aja sama dia." Balas Rey dengan cemberut.
Tetapi jauh dalam lubuk hatinya, Rey merasa bersyukur bahwa ia telah dikelilingi oleh teman yang baik dan saling mendukung terutama pada adiknya.
Keputusan Rey untuk membantu Kelly dan Amasa mengambil item dimension ternyata tidaklah salah. Dengan berjuang diantara hidup dan mati, membuat tali persaudaraan mereka menjadi erat dan menghasilkan hubungan yang hangat seperti ini.
"Aku punya rencana tertentu bagi Ersa agar kemampuannya bisa dinilai bagus oleh Bu Elena." Ucap Amasa sambil mengepalkan tangannya.
Apakah orang yang tidak memiliki teknik sihir penyerangan bisa mendapatkan nilai di ujian praktikum sihir kali ini?, mari nantikan rencana Amasa kedepannya.