
Setelah praktikum sihir berakhir, Kelly bertukar sapa dengan Rey, Ersa dan Amasa. Lalu tanpa ikut bersama mereka Kelly pulang lebih dulu. Sebenarnya pulang hanyalah alasan saja, Kelly pulang lebih dulu karena ingin mencari Leonardo.
'Aku harus cepat, orang itu terlihat sangat berbahaya!.' Gumam Kelly dalam hatinya, ia berlari sepanjang lorong akademi mengabaikan semua orang yang ada di hadapannya.
Sampailah ia di jalan dekat ruang tempat penyimpanan senjata. Disana Kelly melihat laki-laki dengan postur badan yang tinggi, berambut pirang, berkulit putih dengan ekpresi yang nampak datar. Ia adalah Leonardo yang sedang berjalan dengan santai.
"Hei kau berhenti!." Teriak Kelly yang sedang berlari.
"Apa yang kau mau?." Tanya Leonardo dengan senyuman.
"Sebenarnya apa tujuanmu mengincar kami?."
"Apa kau melantur?, aku tidak tau apa yang sedang kau katakan."
"Jangan berlagak bodoh!, aku tau kau adalah orang yang menjebak kami untuk pergi ke hutan Flores." Ucap Kelly lalu mendekat ke arah Leonardo dan memegang kerahnya.
Leonardo tidak merespon tindakan Kelly, ia hanya menatap mata Kelly dengan ekpresi santai.
"Tidak ada bukti bahwa memang akulah sang pelakunya, kau bisa kena hukuman Lo menuduh sembarangan orang."
Memang benar Kelly tidak punya bukti otentik tentang Leonardo sebagai pelakunya. 'Hatiku bilang bahwa Leonardo adalah pelakunya.'. Itulah yang dirasakan Kelly, dugaannya berdasarkan intuisi.
Sangat kebetulan, tidak ada satu mahasiswa pun yang berada di dekat ruang penyimpanan senjata selain mereka. Jika terjadi keributan disini, tidak ada yang akan mengetahuinya.
"Berhenti bermain-main, atau kau akan kuhajar." Ancam Kelly sambil menguatkan genggaman tangannya.
"Kau sepertinya terlalu sombong sang pahlawan Hemena, kau lupa kalau kita sedang tidak dalam praktikum sihir?. Disini bahkan aku bisa membuatmu sekarat Lo?." Ejek Leonardo.
Leonardo lalu melakukan gerakan menangkis genggaman tangan Kelly, kemudian melancarkan pukulan ke arah pipinya.
PLAKKKKK.
Pipi Kelly tertampar, ia tersungkur ke tanah sambil memegang pipinya.
"Baiklah aku akan mengaku, memang benar bahwa akulah orang yang menjebak Amasa lalu menjadikan peta itu sebagai benang merah untuk kalian dalam mencari item Dimension." Ucap Leonardo, lalu berjongkok mendekat ke arah Kelly.
"Aku merasa berdosa setelah menamparmu, jadi anggaplah itu sebagai bonus. Tapi seharusnya kau tidak berhak marah kepadaku, alhasil kau bisa dapat item itu dan menguasai sihir didalamnya kan?." Tanya Leonardo yang sudah mengetahui kemampuan Kelly.
"Aku tidak yakin kamu sebaik itu, kami hampir mati didalam hutan Flores jika tidak ada Rey kau tau?."
"Si Rey itu?..., orang unik yang memiliki kemampuan murni teleportasi. Aku tidak menyangka orang jelata seperti dia mempunyai kemampuan sehebat itu." Puji Leonardo dengan rasa kagum.
Keluarga Mayhem memang bukan nama keluarga bangsawan yang terkenal, tetapi meski begitu Mayhem termasuk dalam 8 keluarga besar di dalam kerajaan, Leonardo tidak mengetahui fakta itu.
Saat melihat celah, Kelly melakukan tendangan menyamping dengan kaki kanannya ke arah kepala Leonardo, dengan santai Leonardo menangkap kakinya.
"Sudah kubilang, 100 tahun terlalu cepat bagimu untuk bisa mengalahkanku."
Leonardo lalu membenturkan pergelangan kaki Kelly dengan siku tangannya. Kelly berteriak kesakitan karena kuatnya benturan itu.
"Kau bertanya tentang tujuanku kan?, baiklah aku akan memberitahumu. Aku akan menjadi yang terbaik dalam angkatan dan menjadi anggota nomer 1 di The Savior. Untuk mencapainya, langkah pertama adalah menghancurkan Amasa yang merupakan saingan terberatku di kelas. Dengan begitu aku bisa menjadi seorang raja dan merubah sistem kerajaan yang berlandaskan meritokrasi."
"Karena hal itu, kau rela menjebak kami supaya terbunuh oleh siluman legendaris?, tidak bisa di maafkan..." Ucap Kelly dengan suara kesal.
"Begitulah, tapi rencanaku sedikit meleset karena orang yang bernama Rey itu. Tidak mengapa, waktu masih panjang. Aku bisa membunuhnya kapanpun aku mau."
"Membunuhnya?, apa kau serius?."
"Tentu saja, cara apapun akan ku capai agar bisa menjadi yang terbaik. Ini adalah perpisahan, kau seharusnya tidak mengingat kejadian ini."
Leonardo lalu memegang kepala Kelly dan menggunakan sebuah sihir yang menuai kesadarannya. Kelly pun tergeletak di lantai yang dingin dan tidak ada seorang selain Leonardo yang mengetahuinya.
"Sepertinya ini hari yang panjang, meski aku kalah dalam praktikum sihir. Itu tidak akan berefek besar pada nilaiku. Aku akan mempertaruhkan segalanya di ujian akhir tahun nanti."
Leonardo lalu berdiri dan pergi meninggalkan Kelly tanpa peduli dengan kondisinya.
Leonardo yang menjadi dalang dalam menjebak Amasa, Kelly, Rey dan Ersa di hutan Flores dengan berani mengunjukkan dirinya untuk menantang sang calon mahasiswa terbaik di kelas C, yaitu Amasa.
Apakah sang dalang tetap akan diketahui oleh Rey, Ersa, dan Amasa?.