Being Bothered By Little Sister

Being Bothered By Little Sister
Ibu kota kerajaan



Tempat tinggal Rey dengan ibu kota cukup jauh. Jika ditempuh dengan berjalan, maka bisa menghabiskan waktu satu Minggu lamanya. Jadi ia pergi bersama Ersa dengan menggunakan kereta api.


"Pemandangannya indah sekali ya...."


Rey hanya mengangguk ringan sambil memandang wajah Ersa yang terkesima.


Rey berpikir bagaimana semua situasi merepotkan ini bisa terjadi, tentu saja itu karena adiknya yang ingin masuk ke akademi.


Kembali saat Ersa memohon kepada kakanya 2 hari yang lalu.


.....


"Masuk akademi?."


"Itu benar, dengan begitu tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi dengan keselamatan Ersa disana." Ucap ibunya sambil tersenyum.


Dengan kemampuan Rey yang menguasai ilmu sihir dan berpedang, maka orang tuanya sangat yakin untuk menitipkan adiknya pada Rey.


"Selain itu, kaka punya keuntungan lebih jika ikut ke akademi bersama ku lo..." Ersa berbicara dengan suara yang nakal saat kakanya sedang merenung.


"Apa itu?."


"Mungkin saja Kaka nanti mendapatkan perempuan yang cantik seperti ibu disana, sudah waktunya kaka rumahan ini melihat dunia luar."


Ibunya tersenyum haru lalu memeluk Ersa dengan nyaman karena dipuji.


Rey sendiri selain bertalenta, ia punya penampilan yang bisa membuat lawan jenis menarik perhatian kepadanya, sungguh mendekati garis "perfect".


"Kau mungkin benar di poin itu."


...


Setelah menempuh hampir dua hari perjalanan, Rey dan Ersa telah tiba di ibu kota kerajaan. Lalu mereka lekas mencari penginapan terdekat yang berada dekat dengan akademi. Situasi ibu kota nampak sangat ramai, itu karena besok tahun ajaran akan segera dimulai dan banyak mahasiswa baru dari luar yang datang ke sini.


"Sepertinya ini tempat yang bagus." Gumam Rey melihat tempat penginapan yang desainnya cukup mewah untuk level mahasiswa.


"Kiita nginep aja dulu disini."


Mereka memasuki tempat itu dan bertanya kepada seorang penjaga.


"Maaf, apa masih ada kamar yang kosong?."


Penjaga itu tertawa disertai seluruh orang yang mendengarnya.


"Hah?, kau sepertinya suka dengan tanganku." Ucap Rey sambil mengusap kepalan tangannya.


"Jangan sombong kau anak baru."


Seorang laki-laki berbadan tinggi berdiri, mendekat ke arah mereka berdua.


Laki-laki itu memakai baju akademi Forland. Tetapi dari pakaiannya, ia tidak terlihat seperti anak baru dan ternyata adalah seorang senior.


"Ka, lebih baik kita cari tempat lain aja."


Ersa menyadari bahwa situasi mulai memanas, tetapi Rey tidak mendengarkannya dan memandang rendah senior yang menghadangnya.


Rey dan Ersa diremehkan karena ia terlihat seperti bukan orang yang kaya, tentu saja kontruksi sosial itu terjadi karena penginapan mewah ini isinya kebanyakan dari murid akademi forland.


Pada dasarnya mereka berdua memang tidak suka terlalu berpenampilan layaknya seorang bangsawan.


"Kau berani memandangku begitu padahal manamu hampir tidak terlihat."


Senior itu mencoba memprovokasi Rey, karena memang Rey berusaha menekan mananya agar terlihat sedikit untuk menghindari seseorang yang bisa mendeteksi mana, seperti laki-laki yang berada dihadapannya.


"Kecil?."


Rey tersenyum jahat, lalu menjentikkan jempolnya sebagai simbol pelepasan mana.


"Kalau begitu akan kuberi sedikit pengetahuan kepada orang udik sepertimu, untuk tidak menghina seorang kakak di depan adiknya."


Mana yang tadinya hanya terlihat sedikit tiba-tiba memenuhi seluruh tubuh Rey.


Senior itu langsung terjatuh dan muntah-muntah karena tidak kuat melihat mana yang dipancarkan oleh Rey. Orang-orang yang berada disekitarnya tidak bisa melihat mana secara langsung, akan tetapi mereka bisa merasakan pancarannya dan merasa merinding.


Rey memiliki mana yang mencapai tahap 'limitless'. Itu artinya, ia adalah satu-satunya orang yang memiliki mana tidak terbatas.


Tak kuat melihat jumlah mana yang selama ini belum pernah ada, senior itu langsung pingsan dan kehebohan pun terjadi.


Itu adalah 1 dari 1000 kemampuan Rey yang menjadi alasan bahwa ia tidak mau memasuki akademi.