
Ersa yang tidak bisa menggunakan sihir bertipe serangan, kini dihadapi dengan situasi yang tidak menguntungkan. Setelah Elena memberikan penjelasan terkait mekanisme praktikum sihir, ujian pun langsung dimulai.
Murid dengan urutan pertama dipanggil menuju arena pertandingan, mereka yang sedang menunggu bagiannya sedang berada di tribun sambil melihat jalannya pertandingan.
Setiap kelasnya, praktikum sihir dilaksanakan ditempat yang berbeda mengingat akademi Forland ini memiliki lahan yang sangat luas.
Meskipun praktikum sihir ini tidak disatukan setiap kelasnya, Terkadang ada beberapa murid yang datang dari kelas lain untuk memata-matai kemampuan sihir. Karena pada akhir semester, akan selalu diadakan pertandingan antar kelas untuk menentukan naik atau tidaknya peringkat mereka.
Pertarungan nomer urutan yang pertama-pun dimulai, kedua murid laki-laki itu bertarung dengan cukup sengit. Tetapi karena kesenjangan reaksi elemen, laki-laki yang menggunakan sihir api berhasil menumbangkan lawannya yang menggunakan air.
Dalam beberapa kasus, Jenis sihir alam khususnya elemen api dapat mengalahkan air. Faktor yang mempengaruhinya adalah jumlah mana yang digunakan pada elemen tersebut.
Pertandingan kemudian dilanjutkan pada urutan selanjutnya hingga sampailah pada no urutan ke-15.
"Pertandingan berikutnya yaitu Ersa dan Nerva." Ucap Elena ke arah tribun.
Ketika mendengar namanya telah dipanggil, tubuh Ersa bergetar hebat karena merasa gugup. Ia pun secara perlahan mulai berjalan menuruni tribun.
"Apa kau yakin rencanamu bisa berhasil?." Tanya Rey pada Amasa sambil melihat Ersa karena khawatir.
"Begitulah, aku sudah memakai mana detection pada orang yang bernama Nerva itu. Jika dilihat dari jumlah mananya, seharusnya serangan dia tidak akan menimbulkan luka berat pada Ersa."
"Tetapi aku tetap khawatir padanya."
"Meskipun kakanya terlihat sangat kuat, tetapi Ersa ternyata kebalikan dari dirimu." Ucap Kelly dengan rasa kagum.
"Yang jelas, adikku jauh lebih baik ketimbang aku."
Aba-aba telah diberikan, itu tandanya pertandingan telah dimulai.
"Maaf, tapi meskipun kamu perempuan cantik. Aku tetap tidak akan menahan diri. Ini demi cita-citaku agar bisa menjadi raja!, lihatlah kemampuanku yang agung ini." Ucap Nerva sambil menyisir rambutnya.
Ersa hanya acuh mendengar ucapan aneh itu.
"Orang itu narsis banget, bener-bener tidak keren." Ejek Kelly dengan ekspresi jijik.
Nerva lalu memulai serangan sihirnya, ia menggunakan sihir angin dengan mengayunkan pedangnya dan mengarah pada Ersa.
Tetapi Ersa tidak mencoba menghindarinya, melainkan menahannya dengan tangan. Sebuah luka sayatan pun meninggalkan jejak dipunggung tangannya.
"Serangan ku terlalu hebat kan huahahahahah, kau bahkan tidak mampu menghindarinya." Ucap Nerva dengan senyuman besar diwajahnya.
Lukanya tidak terlalu menimbulkan dampak besar, karena itu Ersa berhasil menahannya.
"Sayang sekali aku tidak bisa menunjukan 100% dari kemampuan sihir ku, kau memang punya wajah yang cantik. Tapi hanya itu saja, kau sangat tidak layak untuk masuk ke akademi. Demi keselamatanmu, lebih baik kau menjadi petani saja di pedesaan Huahahahahaha."
"Asal kau tau, sihir itu bukan hanya tentang melukai orang saja." Ucap Ersa dengan mata kesal.
"Hah?..."
"Fungsi utama dari sihir yaitu untuk membantu kehidupan seseorang menjadi lebih mudah, itulah yang dikatakan kakak ku."
"Apa kau lihat itu Amasa?, bagaimana mungkin lukanya bisa sembuh secepat itu..." Tanya Kelly yang merasa heran dengan sihir penyembuhan Ersa.
"Baru kali ini aku melihat kemampuan penyembuh tingkat tinggi seperti itu, apa kau yang melatih nya?." Tanya Amasa penasaran pada Rey.
"Tidak, sejujurnya aku tidak bisa menguasai sihir bertipe kontruksi. Tetapi secara teori aku paham, sebenarnya Ersa telah mencapai tahap dimana ia bisa menggunakan mananya untuk mempercepat pertumbuhan jaringan parut pada luka. Dengan begitu, proses pematangan jaringan pun hanya akan terjadi seperkian detik saja."
Dalam proses penyembuhan luka, terdapat 4 fase yang akan dilalui salah satunya adalah proses pembentukan jaringan baru atau proliferasi. Dengan menggunakan mana untuk memfokuskan pembentukan jaringan parut, maka luka yang dihasilkan bisa langsung tertutupi dengan cepat.
"Aku yakin dia akan menjadi seorang penyembuh yang hebat." Ucap Amasa dengan kagum.
"Kau benar."
Nerva yang kesal bahwa sihir anginnya dapat disembuhkan begitu saja lalu menambah kekuatannya lebih besar. Rey pun merasakan bahwa Nerva mengeluarkan sejumlah mana yang cukup besar di sekujur tubuhnya.
"ERSA.... JANGAN KAU COBA TAHAN TEBASAN ANGIN ITU." Teriak Rey memperingati Ersa dari arah tribun.
"Terlambat....., rasakanlah...."
Saat Nerva akan hendak mengayunkan kembali pedangnya, Elena datang menghentikan pertarungannya dan menghalangi mereka berdua.
"Waktu sudah lebih dari 1 menit, itu artinya praktikum sihir telah berakhir, Nerva menjadi pemenangnya."
"Hmphhh, tidak diragukan lagi. Lawan yang layak untukku hanyalah Zinnia seorang."
Nerva dan Ersa kemudian berjalan meninggalkan lapangan. Lalu Ersa datang duduk disamping Rey dengan ekspresi sedih.
"Maaf ternyata aku yang kalah."
"Tidak perlu khawatir semuanya sesuai rencana, kau sudah melakukan yang terbaik." Puji Amasa sembari tersenyum menatap Ersa.
"Mengapa kau berpikir bahwa cara tadi bisa meningkatkan nilai praktikum sihir Ersa?." Tanya Kelly penasaran pada Amasa.
"Jika kalian tadi mendengar penjelasan Elena, sebenarnya penilaian praktikum tidak tergantung pada hasil akhir saja tetapi dari ilmu sihir yang digunakan. Jadi aku yakin ketika Elena melihat sihir penyembuhan Ersa, ia akan terkagum dengan tingkat penyembuhan sihirnya."
"Kau sangat teliti Amasa." Puji Kelly dengan kesal.
Kemudian Elena menyebut peserta selanjutnya, nama Amasa dan Garry pun dipanggil untuk turun ke lapangan.
"Sepertinya sekarang giliran ku."
"Untuk orang kuat sepertimu, hasilnya sudah bisa dipastikan." Ucap Rey yang tidak lagi meragukan kemampuan Amasa.
"Tidak juga, sebenarnya dia mungkin sama kuatnya sepertiku."
"Eh?...."
Tidak ada yang tahu siapakah yang akan menang pada pertandingan kali ini.