Being Bothered By Little Sister

Being Bothered By Little Sister
Mencari Dalang Misterius



Kecurigaan Rey sebagai murid yang dilabeli monster hampir hilang meskipun tidak sepenuhnya. Ironisnya, penilaian terhadap Rey telah terselamatkan karena prilaku konyolnya sendiri. Entah mengapa Nita bisa percaya dengan begitu mudah oleh alasan aneh yang dikatakan Rey.


Pada hari Senin, jam pelajaran di akademi jauh lebih sedikit di bandingkan dengan hari lainnya. Pada siang hari, kelas telah berakhir. Rey, Ersa, Kelly dan Amasa memutuskan untuk pergi ke perpustakaan dan membicarakan sesuatu terkait kejadian yang janggal di hutan Flores.


Saat tiba, kursi yang tersedia di perpustakaan hampir saja penuh. Mahasiswa di akademi cenderung kebanyakan rajin membaca, karena itu perpustakaan menjadi salah satu fasilitas akademi yang selalu banyak orangnya.


Kemudian mereka menempati meja yang berada di pojok dengan kursi yang cukup untuk berempat.


"Ga kerasa bentar lagi kita bakal ujian tulis." Gumam Ersa yang duduk di sebelah Rey.


"Kamu udah belajar dengan baik?." Tanya Amasa pada Ersa.


"Tentu saja, aku selalu belajar setiap hari ko. Bagaimana sama kamu Kell?."


"Aku hampir tidak ada waktu untuk belajar, tapi aku yakin nilaiku tidak akan terlalu buruk." Ucap Kelly percaya diri.


"Penilaianku terhadap orang yang memakai kacamata menjadi menurun." Ejek Rey pada Kelly.


Stigma di masyarakat menyatakan bahwa orang yang memakai kacamata merupakan orang yang cerdas dan gemar membaca, sayangnya hal tersebut tidak berlaku terhadap Kelly.


Sebagai respon, Kelly mengacungkan jari tengahnya kepada Rey yang telah meledeknya.


"Aku punya hal penting yang harus dibicarakan dengan kalian." Ucap Amasa dengan serius.


"Ada apa?." Tanya Ersa yang merawa khawatir.


"Ini soal peta yang kugunakan untuk mencari item Dimension waktu itu."


Mendengar permasalahan Amasa, Rey langsung teringat kejanggalan yang terjadi pada petanya. Kejanggalan yang dimaksud adalah soal penanda jalur yang mengarah pada item Dimension, orang yang pertama kali menyadari keanehan itu ialah Rey.


"Waktu itu kau pernah bilang kan Rey, bahwa selain kita tidak ada satu orang pun yang pernah mengunjungi hutan Flores. Itu artinya petunjuk arah yang dibuat dipeta adalah palsu."


Untuk membuat sebuah jalur penanda, tentunya seseorang harus melakukan observasi terlebih dahulu sebelum dicantumkan pada sebuah peta.


Logikanya adalah bagaimana si pembuat peta itu bisa membuat sebuah tanda yang memastikan bahwa ada item Dimension di hutan Flores. Karena itu, Amasa berpikir bahwa telah terjadi kontradiksi karena pernyataan Rey.


"Dari mana kamu dapet peta itu Amasa?." Tanya Ersa penasaran.


"Dihari ke-2 setelah latihan magis di akademi, seperti yang kalian tau aku sedikit penasaran dengan bagaimana Rey bisa memakai magis teleportasi dan menyimpulkan bahwa ia mungkin menggunakan item Dimension. Lalu aku pergi ke perpustakaan di bagian rak buku berkategori sejarah...."


Kemudian Amasa melanjutkan penjelasannya.


"....Disitu aku melihat buku tentang mahluk Abyss yang dikatakan memiliki kemampuan magis sepertimu Rey, teleportasi. Ia di kalahkan oleh seorang siluman legendaris bernama Cerberus, kemudian Abyss itu berubah menjadi sebuah item yang seperti kita ketahui yaitu Item Dimension. Tetapi dalam buku tidak disebutkan dimana keberadaan item itu."


"Ku kira hanya Centaur saja yang termasuk siluman legendaris, ternyata ada juga yang lain ya." Ucap Rey menyela penjelasan Amasa.


"Ada 8 siluman legendaris kalau dari buku yang pernah aku baca waktu kecil, yaitu Chimera, Medusa, Centaur, Cerberus, Cyclop, Pegasus, Minotaur, dan Hydra. Lalu pemimpin mereka atau biasa disebut pemimpin ras siluman, Tartarus." Jawab Kelly bersemangat.


"Jangan remehkan pengetahuan orang berkcamata tau!." Ucap Kelly sambil merapihkan posisi kacamatanya.


"Kemudian aku menemukan sebuah kertas di halaman terakhir bukunya, yaitu sebuah peta yang memberi petunjuk tentang keberadaan item Dimension."


"Jadi dari buku rupanya. Kalau begitu adanya, berarti perpustakaan yang salah." Ucap Ersa yang rasa penasarannya telah dijawab.


"Tidak sesederhana itu permasalahan nya. Jika asumsinya berdasarkan kesalahan perpustakaan, berarti kredibilitas semua buku yang ada disini perlu dipertanyakan keabsahannya."


Semua ilmu yang dikaji dan dilampirkan di buku, tentu sudah teruji kebenarannya. Maka mustahil ada isi buku yang setiap kalimatnya tidak mengandung kebenaran, setidaknya itu yang dipikirkan Rey mengingat ini adalah akademi yang menjunjung tinggi keilmuan.


"Benar juga, ternyata aku kurang jeli dalam mengamati permasalahan." Ucap Ersa dengan nada sedih.


"Aku tidak bilang kamu salah, tetapi setiap pernyataan itu harus memiliki dasar yang kuat dan semuanya harus diasumsikan dengan hal yang paling benar." Ucap Rey menasihati Ersa.


Kemudian Amasa mengeluarkan peta dari tasnya dan memaparkan peta itu di meja.


"Apa ada yang aneh dari peta ini menurut kalian?."


Kelly Dan Ersa yang kebingungan saat menganalisa, tetapi Amasa melihat Rey dengan senyuman.


"Sepertinya kau tau sesuatu ya?." Tanya Amasa pada Rey.


"Yap kurang lebih begitu."


Amasa, Ersa dan Kelly terkejut melihat Rey yang sudah mendapatkan kesimpulan sangat cepat hanya dengan melihatnya saja.


"Bisa kamu presentasikan apa kejanggalannya?." Tanya Amasa dengan penasaran pada Rey.


"Seperti katamu, peta ini letaknya berada di halaman akhir bagian buku. Bukan, lebih tepatnya belakang buku. Berarti berdasarkan pernyataanmu, peta ini merupakan bagian akhir atau penutup dari buku yang kau baca. Tetapi kalau kalian perhatikan lebih teliti, tidak ada bekas sobekan di sisi kertas pada petanya." Jawab Rey sambil menunjukkan sisi kertasnya.


Amasa tersenyum mendengar jawaban Rey seolah sudah memperkirakannya.


"Jadi bisa disimpulkan, bahwa peta ini bukan merupakan bagian dari buku yang telah dibaca oleh Amasa, tetapi sengaja disisipkan entah oleh siapa. Benar kan?." Tanya Rey pada Amasa dengan postur sombong.


"Benar sekali, kau adalah seorang jenius tidak diragukan lagi. Perkiraanmu sesuai dengan pemikiran ku. Karena kalau peta ini benar-benar masuk di bagian halaman buku, maka seharusnya akan ada sobekan di sisi kertasnya."


Bayangkan kalau seseorang ingin mencuri bagian halaman buku yang menyatu, maka ia terpaksa harus menggunting atau merobek kertas itu. Maka jejak akan terlihat dengan jelas bahwa kertas itu benar-benar bagian dari buku.


Sedangkan peta yang memberi informasi tentang keberadaan item dimension, disetiap sisinya tidak ada tanda-tanda terkait sobekan. Maka peta dan buku sejarah itu saling terpisah tetapi sengaja di sisipkan oleh orang.


"Berarti ada seseorang yang mencoba menjebak kita ya?." Ersa bertanya mencapai kesimpulan diskusi ini.


"Benar, seseorang yang sangat pintar tentunya dan tau tentang kondisi kita. Dalang ini pasti sulit ditemukan, bahkan aku tidak bisa memikirkan satu pun orang yang mengatur semua ini." Ucap Amasa dengan nada kekaguman.


Susana diantara mereka diselimuti oleh awan kebingungan, jadi siapa dalang yang menjebak dan mengadu domba mereka dengan mahluk siluman legendaris itu?, tunggu kelanjutannya di bab berikutnya.