
...Bad Girl's Coming Out...
...***...
Kaindra mengeryit, ada raut tidak nyaman di wajah tampannya saat mengetahui siapa yang tengah duduk di sampingnya, Rhea.
"Hai, Kai. Kenapa kamu bisa bareng Hana dan Dara tadi?" Tanpa basa-basi yang murahan dan membuang waktu, Rhea langsung bertanya perihal tadi pagi.
"Kita ketemu di koridor," ucap Kaindra tenang
Matanya sama sekali tidak melirik ke arah Rhea yang tengah memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik. Dia lebih memilih sibuk dengan permainan di ponselnya.
"Kamu mau bohongin aku?" tatapan Rhea berubah tajam, "katakan yang sebenarnya, Kai."
Kaindra berhenti bermain dengan ponselnya, dia tidak peduli lagi jika dirinya kalah dalam permainan itu. Dia lebih tertarik untuk menang berdebat dengan Rhea detik itu juga.
Dia tersenyum miring, dan berucap, "Kenapa?"
"Aku nggak suka, jadi jauhi dia, Kai," jawab Rhea kelewat cepat
Kaindra menatap ke arah Rhea dengan tatapan seolah tertarik dengan gadis imut itu, padahal dirinya tahu apa maksud perkataan Rhea. Gadis imut itu mulai khawatir jika dirinya ditinggalkan olehnya. Namun, sayangnya Kaindra sudah dibebaskan tadi jadi dia akan berlari meninggalkan Rhea.
Hingga dirinya mengetahui kalau Rhea mulai menatapnya tajam barulah Kaindra mengubah mimik wajahnya menjadi datar dan dingin.
"Tapi, aku suka," ucap Kaindra serius
Rhea mendengus geli, dia menatapi Kaindra dengan lebih tajam. Dan Kaindra tahu itu, Rhea tengah menunjukkan sisi aslinya. Rhea Kim, sang psikopat.
"Jangan katakan hal itu lagi, Kai. Kamu tahu aku bisa saja membunuhnya," kata Rhea dengan tenang
Kaindra mengangguk sekali lalu mendekatkan wajahnya ke arah Rhea, dan ikut menatapnya tajam, "Kamu harus tahu, Rhea. Aku sudah bebas, Hana ada di pihak kita. Aku dan Dara, bukan kamu dan aku."
Lalu menghindar segera saat dia selesai dengan perkataannya, dan itu bertepatan dengan Dara dan Hana yang baru saja memasuki kelas mereka.
Dara sendiri menatapi mereka berdua dengan heran, apalagi saat Rhea dengan sengaja mendekat ke arah Kaindra dan merangkul lengan pemuda itu.
Kaindra hanya diam dan melirik ke arah Dara yang masih betah menatap mereka, ada tatapan "jangan percaya ini" di bola matanya. Namun, Dara mengabaikannya dan duduk di kursi yang ada di dekat pintu lalu mengobrol dengan Hana seolah tidak melihat hal ganjil.
Rhea sendiri mencoba.merendam emosinya, faktanya walaupun dia berdekatan dengan Kaindra dan bahkan Kaindra menyukai -tidak lagi. Pemuda itu sudah beralih darinya, dan Rhea tidak terima akan hal itu. Kaindra miliknya.
"Apa ada hubungan diantara kalian?" tanya Rhea tidak tenang
Kaindra memilih diam saja, dia tidak ingin membuang tenaga nya hanya untuk berdebat dengan Rhea lagi. Karna Kaindra tahu, Rhea sebenarnya sudah tahu kemana arah permasalahan ini.
"Aku harap hubungan itu nggak seburuk perkiraanku," tukas Rhea lagi dan hampir bergerak untuk pergi, jika Kaindra tidak menahan pergelangan tangannya.
Gadis pucat itu menatap Kaindra yang masih tidak memalingkan tatapannya dari Dara. Dan Rhea bisa melihat Kaindra tengah menahan senyum seringai di wajahnya.
"Sayangnya, hubungan itu lebih buruk dari perkiraan terburuk yang ada di otakmu, Rhea," Kaindra menoleh, menatap Rhea dengan seringai yang tidak disembunyikan lagi, "even very dangerous for me to tell you."
Dan detik selanjutnya, Kaindra melepaskan Rhea dan bergerak lebih dulu untuk meninggalkan gadis imut itu. Dan Rhea hanya bisa diam dan mengikuti setiap pergerakkannya.
Bukan sebuah keputusan baik, karena yang dia lihat adalah sebuah petaka untuknya. Kaindra berjalan ke arah Dara dan Hanaz bahkan pemuda itu berhenti di hadapan Dara.
Rhea bisa melihat bibir Kaindra bergerak mengucap kalimat "our love is the most dangerous show in the earth" saat pemuda itu menepuk kepala Dara dengan perhatian. Lalu berlalu meninggalkan kelas dengan seringai tipis setelah melirik ke arah Rhea yang terbeku di tempatnya berdiri.
Bibir Rhea bergetar, gadis pucat itu menggigit bibirnya erat -menahan raungannya. "Kamu belum tahu diriku sebenarnya, Kai. Aku bersumpah akan membunuhnya."
"Rhea, kenapa kamu di situ? Ayo sini, aku ada makanan banyak." Tiba-tiba suara Dara terdengar dari depan dengan nada ramah.
Dengan tatapan marah, Rhea menoleh ke arah Dara. Dia menganggap gadis cantik itu tengah mengejeknya, dan makanan di meja itu seolah perayaan dari kemenangan gadis itu darinya.
"Aku akan membunuhmu, Dara," ucap Rhea
Hana dan Dara serentak menatap ke arah Rhea, tatapan mereka hampir sama -tidak terlalu terkejut. Dan anehnya, Hana justru tertawa geli setelahnya.
"Kamu bilang ingin membunuhnya?" tanya Hana
Rhea mengangguk mantap, dan menatapi Hana dengan tatapan kesal. Apa gadis itu mengira dirinya tengah bercanda?
"Kenapa aku merasa nggak yakin, kamu mau cari karma buruk?" tanya Hana lagi
Dan Dara merasa heran ketika tatapan Hana berubah tajam dan misterius ketika menatap Rhea saat itu. Bahkan, Rhea juga bereaksi dengan aneh, gadis pucat itu mengepalkan tangannya erat-erat terlebih setelah Hana menyelesaikan perkataannya yang terakhir sebelum mengajak Dara untuk keluar dari kelas juga.
"Aete kare ni furereba, anata wa sore o subete ushinaudeshou, Rhea," kata Hana serius
...***...
Dan besoknya ketika pelajaran olahraga, Dara mendapatkan kesialan. Sebenarnya, Dara paling benci jika dirinya melewatkan waktu untuk sekadar berolahraga, karna Dara terlalu suka berolahraga walaupun dirinya termasuk orang yang suka rebahan seperti Hana.
Dan jam olahraga yang mungkin sudah berlasung di lapangan entah outdoor atau indoor Dara masih berada di dalam kamar mandi. Seseorang telah sengaja menguncinya di sana, mungkin.
Dara mencoba merogoh saku celana olahraganya, dan seringainya muncul ketika menemukan ponselnya ada di sana. Bahkan, baterai ponselnya sudah lebih dari cukup buat dirinya menghabiskan dua jam lamanya di kamar mandi itu.
"Ya, udahlah. Main game aja di sini, lumayan bolos dua jam dengan faedah. Toh, nanti bisa latihan voli juga," kata Dara dengan santai
Jika, tadi Dara berusaha keras membuka pintu yang memang benar terkunci dari luar dan mustahil buat dia buka dengan mendobraknya maka Dara kini memilih menyerah dan duduk di atas wastafel yang beruntung masih kering.
Beberapa menit berlalu, gadis itu sudah larut dengan game yang ada di ponselnya. Sangat santai, setidaknya Dara mempunyai alasan untuk dirinya saat diadili oleh pak Haris, guru olahraganya nanti.
Tetapi, kesenangan Dara yang mungkin ganjil dan tidak waras itu berakhir dengan cepat. Pintu kamar mandi itu terbuka dengan tidak santainya, dan Dara menemukan pelakunya tengah berdiri menatapnya tajam.
"Kenapa kamu bisa di sini?" tanya Dara, gadis itu hanya melirik pelaku perusak pintu kamar mandi.
Sepertinya nada santai dari Dara, membuat pelaku itu kesal. Bahkan, pelaku itu dengan cepat dan mudahnya menarik Dara turun dari wastafel membuat ponsel Dara hampir terjatuh ke lantai.
"Kenapa?" tanya pelaku itu
Dara hanya menggeleng, "Aku nggak ngerti makud kamu, mundur."
Dara mendorong pelaku itu untuk mundur, memberi jarak aman diantara mereka berdua.
"Dara, berhenti permainan ini," kata pelaku itu
"Kapan? Aku nggak pernah lakuin itu, mending kamu balik ke sana. Aku yakin Rhea bakal nggak suka jika kamu nggak ada di saat aku juga nggak ada di sana," terang Dara
Gadis itu hampir kembali melanjutkan game yang tadi dia mainkan, namun pelaku itu sudah lebih dulu merampasnya. "Berhenti, dan perhatikan aku, Dara."
"Apa yang harus aku perhatikan, Kai?" tanya Dara balik
Pelaku perusak pintu itu adalah Kaindra, entah bagaimana pemuda itu bisa tahu Dara sedang terjebak di kamar mandi dan mulai berperang komunikasi dengan Dara sekarang.
"Sial, Dara. Haruskah kita berdebat tentang hal aneh ini?" tanya Kaindra mulai tidak sabar
"Hal aneh ini, bahkan kamu yang mulai, Kai. Dan aku cuma ngikutin alur, Kai," jawab Dara tenang
Dara tersenyum manis ke arah Kaindra yang tengah menatapnya frustasi. Dara tahu Kaindra bukanlah Hana yang akan menang dari segala topik pembicaraan bersamanya. Karna belum mengenal dirinya sepenuhnya.
Dara memilih memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana olahraganya. "Sebaiknya kita ke lapangan sekarang, aku nggak yakin kita nggak bakal dihukum jika ketahuan."
Dan benar saja, setelah Dara selesai dengan kalimatnya, suara pak Haris terdengar dari dekat pintu yang rusak karna ditendang Kaindra itu. "Dara, Kaindra? Apa yang kalian lakuin di sini, ayo ke lapangan sekarang!"
Dengan semangat Dara langsung berlari keluar meninggalkan Kaindra sendiri dengan pak Haris. Dan diam-diam Kaindra sudah mengumpat dalam hati karena kehadiran pak Haris yang tidak tahu waktu dan tempat itu.
"Ayo, Kaindra. Tadi, izin ke toilet tapi malah berduaan sama Dara, apa yang kalian laku-" tegur pak Haris
"Tadi, dia dikunci di sini. Dan saya membantunya," potong Kaindra dengan tidak sopannya
Sepertinya Kaindra sudah terlalu kesal dan frustasi, jadi pemuda itu langsung berlalu pergi menyusul Dara ke lapangan.
Sedangkan, pak Haris hanya bisa mendengus kesal dan menatap pintu kamar mandi yang rusak itu dengan tidak percaya. "Jangan lupa sit-up 20 kali, kalian harus dihukum."
•••
Dan mereka benar-benar melakukan hukuman itu secara bergantian, Dara melakukannya dengan baik. Walaupun dia tahu sedari hitungan pertama sampai ke-duapuluh kali sit-up yang dia lakukan, Kaindra menatapnya penuh frustasi.
"Jelaskan, Dara" Kaindra mulai melakukan sit-up ,"sampai aku selesai lakuin ini, kamu harus selesai. Kalo nggak aku bakal ambil semua nafas kamu.
Sialnya, Dara menjadi bingung akan maksud perkataan Kaindra. Dirinya harus menjelaskan tentang apa, dan saat Dara tengah berfikir, Kaindra sudah melakukan lima kali sit-up.
"Aku harus jelasin apa, Kai?" tanya Dara
Dan Kaindra sudah melakukan lima belas kali, dia berhenti. Pemuda itu masih menatapi Dara dengan frustasi.
"Kenapa aku bisa frustasi saat aku nggak tahu banyak tentangmu," kata Kaindra
Dan Kaindra kembali bergerak membuat sit-up, dan Dara semakin bingung setelahnya.
"Bukannya, kamu bilang Hana sudah mengatakan semuanya tentang diriku?" tanya Dara balik
Dan bersamaan dengan itu, Kaindra sudah selesai melakukan sit-upnya yang ke-duapuluh. Mereka saling bertatapan.
Kaindra mendengus geli, seolah dirinya tengah melakukan kesalahan yang bodoh. Dan saat Dara akan pergi meninggalkannya, Kaindra mencoba untuk menawar seperti kebiasaan Dara. Memang bisa? Kaindra hanya mencoba.
"Lalu, apakah kamu tidak tertarik tentang diriku, Dara?" tanya Kaindra
Dara mengangkat alisnya merasa tertarik, dia tersenyum dengan manis bahkan mendekatkan wajahnya ke arah Kaindra yang masih duduk.
"Belum, Kai. Tapi, jika kamu berusaha mungkin aku akan tertarik," jawab Dara
Dan Kaindra sadar jika dirinya gagal dalam mencoba kebiasaan luar biasa unik milik Dara, Kaindra memang payah dalam hal ini. Dan dia hanya bisa menatap Dara yang kini sudah melenggang pergi, menghampiri Hana yang tengah ketahuan mencuri pandang ke arah mereka berdua.
***